Apakah Seorang Praktisi HR Harus dari Psikologi?

Muhammad Noer dan Josef Bataona Begawan HR Indonesia

Artikel berikut ini terinspirasi dari tulisan dengan judul yang sama ditulis oleh sahabat dan guru saya bapak Josef Bataona.

Dalam artikel tersebut, Pak Josef mengangkat sedikit tentang kisah saya yang berkarir di bidang HR termasuk mengelola organisasi lintas negara berbekal pengetahuan di bidang Marketing yang menjadi studi saya di perkuliahan dulu.

Ada hal menarik yang ingin saya ceritakan di sini.

 

Calon Programmer yang Memilih Studi Pemasaran

Sebagai seorang pelajar SMU, favorit saya dulu adalah ilmu eksakta. Matematika dan Fisika adalah dua bidang studi kegemaran saya. Saya termasuk wakil sekolah mengikuti kompetisi tingkat provinsi dan berhasil menjadi tiga besar. Dan saat itu, saya pun bercita-cita ingin jadi programmer.

Namun ternyata dalam perjalanan hidup saya harus melewati masa di mana saya tidak lulus UMPTN di universitas yang saya idam-idamkan.

Hikmahnya luar biasa. Saya berkesempatan belajar berbagai bidang ilmu yang lain termasuk ilmu sosial yang sebelumnya saya anggap sepele. Pada periode tersebutlah saya mulai menghargai ilmu psikologi, komunikasi, manajemen, politik dan berbagai bidang lainnya.

Ketika hendak kuliah, sebenarnya ketertarikan saya dengan psikologi semakin menguat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke bidang Marketing yang juga sangat saya sukai menjelang UMPTN kedua.

Akhirnya jadilah saya seorang dengan bidang keahlian pemasaran yang juga sangat suka dengan aspek pengelolaan sumber daya manusia yang baik yang menyukai dunia komputer dan pemrograman. Sebuah kombinasi yang unik.

 

Mengelola Industrial Relations tanpa Pengalaman di Bidang Hukum dan Psikologi

Ketika berkarir secara profesional, akhirnya saya pun memilih bidang Human Resources dengan harapan jika suatu saat saya punya keinginan kuat ke dunia pemasaran, saya akan meminta kesempatan tersebut dari perusahaan.

Inilah yang mengantarkan saya ke profesi sekarang sebagai seorang Senior HR Manager dengan spesialisasi khusus menangani hubungan industrial yang sarat dengan aspek hukum maupun psikologi yang kental.

Sebagai Corporate Industrial Relations Manager dari sebuah perusahaan sebesar Unilever, berbagai tugas dan tantangan yang ada mengharuskan saya banyak belajar. Tidak mesti menjadi ahli hukum untuk belajar tentang Undang-Undang. Juga tidak perlu menjadi psikolog untuk bisa merancang program-program pemberdayaan buat karyawan.

Dalam tugas ini, saya juga dituntut untuk bisa berdialog dengan rekan-rekan Serikat Pekerja untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis pada level pabrik maupun di tingkat nasional.

 

Menjadi Human Resources untuk Divisi Sales Global

Tugas ini sangat jauh berbeda dengan penugasan saya sebelum ini sebagai HR Manager untuk Divisi Sales Global di Singapura atau nama kerennya adalah HR Business Partner for Global Customer Development. Dalam jabatan tersebut saya harus bekerjasama dengan pimpinan divisi Sales di level global dan menangani karyawan yang tersebar di sekitar 30 negara.

Bisa dibayangkan betapa banyak kepentingan berbeda yang harus dicari jalan tengah dan penyelesaiannya. Saya juga dituntut untuk bekerjasama dengan kolega HR Manager lain dari berbagai negara untuk mencari talenta-talenta terbaik untuk berkarir di divisi Sales Global dan setelah penugasan kembali membangun negara masing-masing.

Tidak hanya itu saya juga harus banyak berinteraksi dengan tim Reward Global dan memahami regulasi ketenagakerjaan yang berbeda antar negara. Apa yang harus dilakukan ketika seorang berkewarganegaraan Inggris yang sekarang bekerja di Singapura ketika hendak dipindahkan ke Amerika Serikat?

Bagaimana menawarkan reward yang kompetitif dan tepat untuk seorang kandidat dari Australia yang hendak dipindahtugaskan ke Shanghai, China?

Bagaimana berdiskusi dengan para pimpinan divisi Sales dari berbagai negara tadi agar proses pengelolaan tenaga kerja menjadi mulus?

Itulah sebagian diantara tugas-tugas yang harus saya jalankan.

Dalam menjalani tugas ini, ternyata bidang pemasaran yang saya pelajari dulu banyak membantu. Saya jadi mengerti cara pandang orang-orang Sales yang juga sangat dekat dengan Marketing. Pengetahuan ini membantu saya untuk bisa berinteraksi dan menggunakan bahasa yang sama seperti cara pandang mereka.

 

HR Tidak Harus Dari Psikolog

Lantas apakah karena saya bukan seorang psikolog menjadi kesulitan menjalani tugas sebagai seorang praktisi HR?

Jawabnya tidak.

Dalam sebuah organisasi yang besar dan maju, peran HR telah bergeser dari HR yang bersifat administratif dan regulasi menjadi HR yang dekat dengan bisnis.

Justru kemampuan kita mengerti bagaimana bisnis bekerja akan berperan banyak dalam kesuksesan sebagai sorang HR.

Dengan demikian, latar belakang seperti Psikolog atau Hukum tidak menjadi suatu kewajiban. Benar bahwa Anda akan punya keunggulan kompetitif jika berasal dari kedua bidang tersebut karena akan lebih mudah menguasai aspek psikologis dan hukum dari dunia HR.

Namun, Anda pun tetap bisa sukses jika terus belajar untuk menguasai kedua aspek sambil memanfaatkan bidang yang menjadi keahlian Anda.

Pelajaran yang saya rasakan adalah kita bisa terus berkembang baik di bidang HR seperti yang saya jalani ataupun bidang-bidang yang lain selama kita terus belajar dan terus melihat hubungan antara pekerjaan dengan dunia bisnis dari perusahaan di mana Anda bekerja.

Jadi, jika Anda tertarik dengan dunia HR meskipun bukan psikolog, jangan khawatir.

Jalani mimpi Anda, lakukan pekerjaan Anda dan teruslah belajar menjadi manusia yang maju, produktif dan bermanfaat.

 

Foto: Dokumentasi pribadi Muhammad Noer dan Josef Bataona dalam acara Unilever Leadership Forum 2010.

 

 
 
 

 
 

 
 

Comments

  1. arpandi says:

    Luar biasa..setuju..boss..mantap paparannya..

  2. Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh…

    Salam Hormat Pak Noer,
    Saya Emil Supriatna, Antropologi 2014. Artikel “Apakah Seorang Praktisi HR Harus dari Psikologi?” dalam http://www.muhammadnoer.com sangat luar biasa untuk memotivasi saya memperjuangkan karir di masa depan. Namun, ada sebuah pertanyaan yang telah lama terpendam dalam diri saya. Saya ingin menjadi bagian dari Unilever suatu saat nanti. Apa saja kiranya yang harus saya penuhi untuk menggapai mimpi tersebut berdasarkan latar belakang saya di Antropologi?

    Atas saran dan masukannya, terima kasih.

    • This came just in time, since I’m heading to the library tomorrow. I’m also hoping to finally pick up “Gone Girl.” I’ve been told by just about everyone that every girl from 20 – 35 should read it, which means I’m bound to be disappointed, but I’m still intrigued enough to see what it’s all about.

  3. rochiman says:

    terus berkarya, semoga generasi mendatang lebih baik dari sebelumnya

  4. Sebuah pengalaman yg unik. Patut ditiru.

  5. Terima kasih atas komentarnya teman-teman semua. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa memberi inspirasi.

Speak Your Mind

*