<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pengembangan Diri oleh Muhammad Noer - Membaca Cepat (Speed Reading), Presentasi, Mind Map, Komunikasi, Perencanaan Keuangan, Produktivitas &#187; Kecerdasan Emosional</title>
	<atom:link href="http://www.muhammadnoer.com/category/kecerdasan-emosional/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.muhammadnoer.com</link>
	<description>Tips Pengembangan Diri: Membaca Cepat, Speed Reading, Produktivitas, Presentasi, Mind Map, Perencanaan Keuangan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 17:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>3 Sikap Mental Sang Juara Yang Perlu Anda Miliki</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2011/07/sikap-mental-juara/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2011/07/sikap-mental-juara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 23:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Adam Khoo]]></category>
		<category><![CDATA[Kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[sikap mental]]></category>
		<category><![CDATA[tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=1451</guid>
		<description><![CDATA[Berikut 3 sikap mental juara yang perlu dimiliki oleh siapa saja yang ingin maju. Sikap itu adalah berani bertindak, berani gagal, dan menyikapi situasi dengan positif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/07/winner.jpg"><img style="margin: 0px 0px 10px; display: inline; border: 0px;" title="winner" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/07/winner_thumb.jpg" alt="winner" width="317" height="97" align="right" border="0" /></a></p>
<p>Beberapa waktu lalu saya mengikuti forum leadership buat para manajer Unilever Indonesia. Salah satu pembicara yang tampil adalah Adam Khoo, seorang motivator asal negeri jiran Singapura. Dengan gayanya yang bersemangat dan logat Inggris Singapore yang khas, Adam memberikan beberapa pelajaran berharga.</p>
<p>Dari materi yang disampaikan Adam, ada 3 pelajaran penting yang saya petik. Setelah saya renungkan kembali, saya mencoba memahaminya sebagai <strong>sikap mental juara. </strong>Sikap ini perlu dimiliki oleh siapa saja yang ingin maju.</p>
<p>Berikut saya ingin membaginya bersama Anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3><strong>1. </strong><strong>Berani Bertindak</strong></h3>
<p>Setiap orang tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai. Apakah itu untuk meraih pekerjaan tertentu, menciptakan sebuah alat, atau menulis sebuah buku. Ada kalanya tujuan yang hendak dicapai sudah bulat dan jelas. Namun tak jarang tujuan itu masih buram. Sebuah tujuan dapat dicapai dengan berbagai cara yang disebut dengan strategi. Pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Demikian halnya untuk mencapai target dan tujuan Anda, ada banyak strategi yang bisa dipilih.</p>
<p>Namun sehebat apapun tujuan yang hendak dicapai, secanggih apapun strategi yang dipersiapkan, <strong>semuanya tidak akan berguna tanpa tindakan.</strong> Ya, sebuah tindakan akan menentukan apakah Anda berhasil atau tidak. Sebuah tindakan akan menguji apakah strategi yang Anda pakai sudah tepat atau tidak. Namun sayangnya, banyak orang hanya berhenti dengan sebuah cita-cita dan strategi saja. Ingat tanpa tindakan, tidak ada yang terjadi.</p>
<p>Jadi, setelah Anda merumuskan tujuan dan merancang strategi, selanjutnya kerjakan.</p>
<p><strong>Beranilah bertindak.</strong></p>
<p><em><strong>TAKE ACTION </strong>to make it happen.</em></p>
<p><span id="more-1451"></span></p>
<h3><strong>2. </strong><strong>Menyikapi Kegagalan</strong></h3>
<p>Ada banyak alasan ketika seseorang menghindar dan menunda sebuah tindakan: takut, malas, dan khawatir gagal. Apakah sebenarnya kegagalan itu? Mengapa kita takut gagal?</p>
<p>Setiap tindakan akan membawa konsekuensi: berhasil atau gagal. Kita mengatakan sesuatu berhasil jika apa yang ditargetkan tercapai. Dan kita mengatakan gagal jika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Karena itu, berhasil dan gagal merupakan bagian dari permainan kehidupan. Ada kalanya Anda berhasil dan ada kalanya pula gagal.</p>
<p>Dengan bertindak maka Anda membuka peluang 50% berhasil dan 50% gagal. Sedangkan jika Anda menunda-nunda dan tidak melakukan apapun, sebenarnya Anda kehilangan kesempatan 50% untuk berhasil.</p>
<p>Jadi <strong>jangan takut gagal.</strong> Thomas Alfa Edison gagal ribuan kali sebelum berhasil menemukan filamen lampu pijar. Orang-orang yang kita kagumi atas prestasi dan keberhasilan mereka dalam berbagai bidang juga telah mengalami kegagalan sebelumnya. Tidak percaya? Coba tanyakan mereka.</p>
<p>Seringkali orang yang berhasil adalah orang yang telah berkali-kali gagal. Mereka pernah terjatuh, tersandung, namun bangkit kembali. Kegagalan memberi kita sebuah pelajaran untuk merumuskan kembali apa yang menjadi tujuan sebenarnya dan strategi yang kita pakai dalam bertindak.</p>
<p>Seorang bayi yang belajar berjalan pun gagal berkali-kali sebelum akhirnya bisa berdiri tegak dan melangkahkan kaki dengan mantap.</p>
<p><strong>Sikapi kegagalan dengan bijak. Ambil hikmah dari setiap kegagalan </strong>dan jadikan masukan untuk <strong>menentukan tindakan </strong>dan strategi Anda selanjutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3><strong>3. </strong><strong>Menyikapi Keadaan</strong></h3>
<p>Pekerjaan paling gampang adalah mencari kesalahan dari pihak lain. Sayangnya, ini pula yang sering dilakukan banyak orang. Ketika target tidak tercapai, kita menyalahkan atasan yang tidak memberi dukungan, rekan kerja yang tidak kooperatif. Ketika hari hujan, kita menyalahkan pakaian yang basah dan jalanan yang macet.</p>
<p><strong>Dunia dipenuhi oleh berbagai kejadian yang bisa menyenangkan atau tidak menyenangkan. </strong>Dan ada begitu banyak kejadian yang tidak bisa kita atur keadaannya. Berita baiknya, kita bisa memilih respon apa yang ingin kita berikan. Respon inilah yang akhirnya menentukan hasil. Bukan keadaan atau situasi yang ada di sekitar kita.</p>
<p>Ketika Apple berencana membuat iPhone, mereka dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan. Mereka tidak punya pengalaman sama sekali di bidang handphone dan harus bersaing langsung dengan produsen berpengalaman panjang seperti Nokia.</p>
<p>Jika ingin menyalahkan keadaan, maka sangat gampang mengatakan, “Kita tidak punya keahlian membuat handphone. Pemain yang ada sudah sangat berpengalaman. Sebaiknya kita membuat yang lain saja.”</p>
<p>Namun Apple memilih respon yang berbeda. Mereka tidak ingin menyalahkan keadaan dan situasi yang tidak menguntungkan. Sejarah membuktikan akhirnya mereka bisa membuat handphone revolusioner yang tidak dibayangkan orang sebelumnya.</p>
<p>Situasi yang tidak menguntungkan diubah menjadi kesempatan membuat handphone yang berbeda dari kebanyakan sekaligus membuat standard baru. Meskipun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang handphone, mereka punya keunggulan lain: pengalaman di bidang komputer dan antar muka yang intuitif. Maka jadilah sebuah komputer mini yang bisa digunakan untuk berkomunikasi.</p>
<p>Dalam hidup, Anda akan berhadapan dengan orang yang mengesalkan dan kejadian yang mengecewakan. Anda akan rugi jika terus menerus dipengaruhi oleh keadaan. Jika Anda menanggapinya dengan kesal dan kecewa, maka hari indah menjadi muram. Sebaliknya jika kita <strong>menyikapi dengan positif</strong>, melihat kesempatan di balik situasi sulit, maka kita bisa <strong>mengubah setiap hari jadi menyenangkan.</strong></p>
<p>Hidup akan lebih sehat, jiwa dan raga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian tiga pelajaran yang ingin saya bagi buat Anda.</p>
<p>Mulai sekarang, <strong>jangan tunda untuk bertindak </strong>ketika Anda harus melakukannya.</p>
<p><strong>Jangan takut gagal </strong>karena gagal merupakan langkah awal keberhasilan.</p>
<p>Pilih sikap dan <strong>respon yang positif </strong>terhadap apapun yang terjadi di sekitar Anda.</p>
<p>Niscaya Anda dapat menjalani peristiwa apapun dengan kebaikan.</p>
<p>Selamat bekerja dan bertindak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2011/07/sikap-mental-juara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Passion, Purpose dan Value</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2011/07/passion-purpose-value/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2011/07/passion-purpose-value/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 23:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Human Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[purpose]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Suhardodo]]></category>
		<category><![CDATA[TEDxJakarta]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=1448</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang memiliki minat atau hasrat untuk mencapai sesuatu. Setiap orang juga ingin melakukan sesuatu yang memberi makna dan nilai luhur. Dalam salah satu sesi TEDxJakarta, Rene Suhardono menjelaskan dengan sangat lugas dan gamblang tentang passion, purpose dan value. Apa yang Rene sampaikan mengajak kita untuk berpikir kembali makna sebuah pekerjaan sekaligus hidup itu sendiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang memiliki minat atau hasrat untuk mencapai sesuatu. Setiap orang juga ingin melakukan sesuatu yang memberi makna dan nilai luhur. Sudahkah kita jujur terhadap diri sendiri dan bertanya apa sebenarnya hasrat kita? Apa tujuan yang hendak kita capai? Nilai-nilai apa yang ingin kita sampaikan?</p>
<p>Dalam salah satu sesi TEDxJakarta, Rene Suhardono menjelaskan dengan sangat lugas dan gamblang tentang <em>passion, purpose dan value. </em>Apa yang Rene sampaikan mengajak kita untuk berpikir kembali makna sebuah pekerjaan sekaligus hidup itu sendiri.</p>
<p>Apakah kita bahagia dengan apa yang dilakukan saat ini? Apakah pekerjaan kita bisa memberi makna baik buat diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita?</p>
<p>Itulah sekelumit pembahasan yang disampaikan oleh Rene. Pada akhir pidato, dia menantang Anda menjalankan sebuah tantangan yang disebut sebagai Misi 21.</p>
<p>Apakah Misi 21 itu? Saksikan selengkapnya dalam video berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><iframe width="560" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/Z5B72kGhHGI" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan lupa setelah menyaksikan, Anda bisa menyampaikan pandangan dan pengalaman Anda dalam menemukan passion, purpose dan value.</p>
<p>Video credit: <a href="http://www.tedxjkt.org/" target="_blank">TEDxJakarta</a></p>
<p>Anda juga dapat menyaksikan video di atas dari website TEDxJakarta lewat <a href="http://www.tedxjkt.org/rene-suhardono/" target="_blank">link berikut</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2011/07/passion-purpose-value/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Meminta Bantuan Orang Lain Dengan Halus</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/03/cara-meminta-bantuan-orang-lain-dengan-halus/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/03/cara-meminta-bantuan-orang-lain-dengan-halus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Irwan Dewanto]]></category>
		<category><![CDATA[Meminta Bantuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2010/03/cara-meminta-bantuan-orang-lain-dengan-halus/</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kita sadari, bahwa apapun bagian atau function kita di pekerjaan, kita pernah dan tetap akan selalu pernah meminta bantuan dari bagian atau function lain. Walaupun bagian kita sangat spesifik sekalipun seperti misalnya kita bekerja di lab Quality Control, Research &#038; Development, IT, Engineering, dan lain-lain, kita pasti pernah meminta bantuan atau halusnya “melakukan koordinasi” dengan bagian lain untuk mendukung kita. Ini dilakukan untuk mengambil keputusan, meminta slot waktu trial, meminta konfirmasi, menanyakan prosedur, atau bahkan hanya untuk sekedar merespons email kita. Apalagi jika kita bekerja di bagian yang sangat general seperti produksi, Human Resources, Corporate Relations, Finance, Sales dan Marketing, meminta bantuan ke orang lain adalah hal yang tidak mungkin dihindari dalam pekerjaan sehari-hari.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Irwan Dewanto</p>
<p>Ini adalah posting tamu <em>(guest posting) </em>dari sahabat saya – Irwan Dewanto – HR Manager PT. Unilever Indonesia, Cikarang Factory.</p>
<p>Pernahkah kita sadari, bahwa apapun bagian atau <em>function</em> kita di pekerjaan, kita pernah dan tetap akan selalu pernah meminta bantuan dari bagian atau <em>function</em> lain. Walaupun bagian kita sangat spesifik sekalipun seperti misalnya kita bekerja di lab Quality Control, Research &amp; Development, IT, Engineering, dan lain-lain, kita pasti pernah meminta bantuan atau halusnya <strong>“melakukan koordinasi” </strong>dengan bagian lain untuk mendukung kita. Ini dilakukan untuk mengambil keputusan, meminta slot waktu <em>trial</em>, meminta konfirmasi, menanyakan prosedur, atau bahkan hanya untuk sekedar merespons email kita. Apalagi jika kita bekerja di bagian yang sangat general seperti produksi, Human Resources, Corporate Relations, Finance, Sales dan Marketing, meminta bantuan ke orang lain adalah hal yang tidak mungkin dihindari dalam pekerjaan sehari-hari.</p>
<p>Hal tersebut akan menjadi mudah, kalau kita meminta bantuan dari bawahan kita, walaupun tentu saja tetap ada tata kramanya. Namun bagaimana jika kita harus meminta bantuan atau <em>support</em> dari rekan kita satu level, atau bahkan meminta <em>back up</em> dari atasan kita, tentu ada caranya sendiri. Artikel berikut akan memberikan beberapa tips supaya kita bisa melakukan hal tersebut dengan <em>smooth</em>.</p>
<p><span id="more-996"></span></p>
<h3><strong>Cara Meminta Bantuan Orang Lain</strong></h3>
<p>Ada beberapa teknik atau cara yang bisa kita gunakan untuk meminta orang lain melakukan sesuatu untuk kita, dua diantaranya yang cukup efektif dalam kehidupan berorganisasi adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Step in the Door</strong></li>
</ol>
<p>Cara ini bisa dilakukan dengan cara meminta sesuatu yang lebih kecil/lebih mudah/lebih singkat dari sesuatu yang sebenarnya kita tuju, namun setelah permintaan pertama terpenuhi, maka secara perlahan kita bisa meningkatkan intensitas permintaan kita tersebut.</p>
<p>Kelebihan cara ini adalah bisa meminimalisir resistensi dari orang yang kita minta bantuannya / resipien dan bisa terkesan lebih halus.</p>
<p>Sedangkan kekurangan dari cara ini adalah kita harus memiliki <em>planning</em> dan <em>milestone</em> yang jelas menuju tujuan kita sebenarnya.</p>
<p>Cara ini akan baik jika digunakan untuk proyek atau target dengan batasan waktu yang longgar.</p>
<ol>
<li><strong>Door in the Face</strong></li>
</ol>
<p>Cara ini dilakukan dengan meminta sesuatu yang lebih besar dari tujuan kita sebenarnya, jika orang yang kita mintakan bantuan merasa terlalu berat, baru kita turunkan intensitas nya sehingga orang yang kita mintakan bantuan merasa tidak enak untuk tidak memenuhi keinginan kita.</p>
<p>Kelebihan cara ini adalah lebih efektif dan efisien secara <em>time wise</em> dan tidak memerlukan <em>planning</em> dan <em>milestone</em> yang terperinci.</p>
<p>Sedangkan kekurangannya adalah bisa membuat resipien kaget dan reaksinya menjadi tidak bisa kita prediksi.</p>
<h3>Fondasi Dalam Meminta Bantuan</h3>
<p>Selain kedua teknik diatas, ada hal-hal yang menjadi pondasi yang harus kita kuasai terlebih dahulu supaya bisa menggunakan kedua teknik diatas dengan baik.</p>
<ol>
<li><em><strong>Communication Skill</strong></em></li>
</ol>
<p>Kita harus mampu berkomunikasi dengan baik untuk mampu menggunakan kedua tehnik diatas.</p>
<p>Kita harus mampu mengutarakan kemauan kita dengan logis, sistematis, dan lugas supaya resipien mampu menerima pesan yang kita sampaikan dengan baik, dengan seminimal mungkin distorsi informasi.</p>
<ol>
<li><em><strong>Emotional Bank Account/ EBA</strong></em></li>
</ol>
<p>Hal ini yang terkadang sering kita lupakan, namun menurut saya adalah hal terpenting yang berpengaruh terhadap keberhasilan kedua teknik di atas.</p>
<p>Seperti yang telah lama diungkapkan oleh <strong>Steven Covey </strong>dalam bukunya yang melegenda, <strong>The 7 Habits of Highly Effective People</strong>, EBA adalah tabungan emosional kita yang kita simpan didalam bank (dalam hal ini adalah hati/memori) orang lain.</p>
<p>Kita dianggap menabung/<em>deposits</em> jika kita melakukan kebaikan, murah senyum, mau mendengar, mampu berempati, berbuat tulus dan ikhlas, berkata jujur, memperlakukan orang lain dengan baik, sedangkan kita dianggap menarik tabungan/<em>withdrawals</em> jika kita berbohong, menyakiti hati, menertawakan, memperolok, tidak menepati janji, membentak, mempermalukan orang, dan lain-lain.</p>
<p>Saldo EBA kita ditentukan oleh selisih antara neraca tabungan kita dengan neraca pengeluaran kita, semakin banyak saldo EBA kita, maka akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan dari kedua teknik meminta bantuan seperti di atas.</p>
<p>Hal ini adalah hal yang sangat manusiawi, dan meningkatkan saldo EBA adalah hal yang sangat mungkin dilakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di kantor, di rumah dengan istri dan anak-anak kita, bahkan dengan tetangga kita, tinggal hanya tergantung pada kemauan kita saja.</p>
<p>Selamat mencoba dan semoga bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari baik di kantor maupun di rumah.</p>
<p>Tentang Penulis:</p>
<p><strong>Irwan Dewanto </strong>menyelesaikan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM dan Master di bidang Human Resources Management di Psikologi UI. Penulis memiliki pengalaman luas di bidang psikologi dan HR. Saat ini aktif bekerja sebagai HR Manager di PT. Unilever Indonesia, Cikarang Factory</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/03/cara-meminta-bantuan-orang-lain-dengan-halus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Talenta Saja Tidak Cukup</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/05/talenta-saja-tidak-cukup/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/05/talenta-saja-tidak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Human Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Talent]]></category>
		<category><![CDATA[Talenta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Banyak anggapan bahwa jika seseorang memiliki talenta di bidang tertentu, maka dia bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau minimal menunjukkan prestasi yang mengagumkan di bidang tersebut. Tapi mengapa ada orang yang sebenarnya memiliki talenta tidak bisa menghasilkan prestasi yang baik? Apa perbedaan antara seseorang yang memiliki talenta dan berprestasi di bidangnya dengan orang lain yang juga memiliki talenta tapi menunjukkan prestasi biasa-biasa saja? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh buku tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/05/talentisneverenough.jpg" target="_blank"><img style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border-right-width: 0px" title="talent-is-never-enough" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/05/talentisneverenough-thumb.jpg" border="0" alt="talent-is-never-enough" width="240" height="218" align="left" /></a> Beberapa waktu yang lalu saya mendapat penugasan dari kantor untuk membuat resensi buku tentang <em><strong>talent</strong></em>. Ya, talent atau <em><strong>talenta</strong></em> adalah topik yang hangat belakangan ini. Mulai dari bagaimana menemukan talenta terbaik, mengembangkannya, mempertahankannya sampai akhirnya memberi hasil yang maksimal sesuai bidangnya. Secara sederhana, talenta adalah kualitas diri yang unik yang melekat pada pribadi seseorang sehingga membuatnya memiliki keunggulan tertentu dibandingkan orang lain.</p>
<p>Setelah browsing beberapa buku, akhirnya pilihan saya jatuh pada karangan <strong>John C Maxwell </strong>berjudul <strong>Talent is Never Enough</strong>. Pengarang buku ini dikenal sebagai ahli di bidang kepemimpinan dan menjadi pengarang serta pembicara dengan pengalaman 30 tahun lebih di bidangnya.</p>
<h3>Mengapa Talenta Saja Tidak Cukup</h3>
<p>Banyak anggapan bahwa jika seseorang memiliki talenta di bidang tertentu, maka dia bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau minimal menunjukkan prestasi yang mengagumkan di bidang tersebut. Tapi mengapa ada orang yang sebenarnya memiliki talenta tidak bisa menghasilkan prestasi yang baik? Apa perbedaan antara seseorang yang memiliki talenta dan berprestasi di bidangnya dengan orang lain yang juga memiliki talenta tapi menunjukkan prestasi biasa-biasa saja? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh buku tersebut.</p>
<div class="float-quote alignright">
<p>Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak mengambil tindakan yang diperlukan maka dia tidak pernah mendapatkan hasil yang diharapkan.</p></div>
<p>Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak mengambil tindakan yang diperlukan maka dia tidak pernah mendapatkan hasil yang diharapkan. Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak fokus pada bidangnya maka dia tidak akan dapat meningkatkan prestasinya. Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak berlatih maka dia tidak akan mencapai kesempurnaan dalam karya-nya.</p>
<p>Dengan demikian, seseorang yang memiliki talenta perlu melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mengasah dan memanfaatkan talenta tersebut agar menjadi kekuatan diri dalam berkarya.</p>
<p><span id="more-569"></span></p>
<h3>Keyakinan Akan Talenta Diri</h3>
<p>Langkah pertama yang perlu dilakukan setiap orang adalah percaya dan yakin bahwa kita semua memiliki talenta yang unik. Tidak ada manusia yang lebih unggul dari yang lain. Seseorang boleh jadi hebat dalam bidang tertentu tapi pasti punya kelemahan di bidang yang lain. Sebaliknya jika kita lemah dalam bidang tertentu pasti juga punya kekuatan di bidang yang lain.</p>
<p>Kepercayaan akan talenta diri ini menjadi penting. Kita harus menyadari ada potensi besar dalam setiap insan. Talenta yang kita miliki sekaligus menjadi arah untuk misi hidup kita yang bermanfaat bagi orang banyak. Keyakinan ini sekaligus akan membuat kita percaya pada diri sendiri. Keyakinan akan menentukan harapan, aksi dan hasil yang kita inginkan.</p>
<p>Ingat, banyak orang gagal bukan karena tidak memiliki talenta, tapi lebih sering karena tidak percaya atau tidak yakin bahwa dirinya punya talenta tersebut.</p>
<h3>Bagaimana Memanfaatkan Talenta?</h3>
<p>Jika Anda sudah yakin dan menemukan secercah gambaran talenta yang dimiliki, langkah selanjutnya adalah memanfaatkan talenta tadi.</p>
<p><strong>Tahap pertama adalah persiapan</strong>. Bagian ini mengajarkan agar kita mempersiapkan diri dengan baik sampai talenta tersebut matang. Tahukah Anda apa yang dilakukan musisi terbaik agar bisa tampil maksimal dalam pertunjukan berdurasi 5 menit? Ya, dia berlatih habis-habisan berjam-jam sebelumnya. Tahukah Anda apa yang dilakukan oleh juara renang dunia yang berhasil memegang beberapa rekor terbaik? Dia mempersiapkan diri setiap hari sehingga menang dalam pertandingan yang hanya berlangsung 25 detik.</p>
<p><strong>Tahap kedua adalah latihan yang teratur</strong>. Pepatah mengatakan <strong><em>“practice makes perfect.”</em></strong> Latihan yang baik dan benar akan mengasah talenta yang dimiliki dan membantu untuk menemukan kekuatan diri kita yang sebenarnya. Dengan latihan teratur sekaligus mengajarkan kedisiplinan.</p>
<p><strong>Tahap ketiga adalah pantang menyerah</strong>. Ada kalanya talenta yang telah dipersiapkan dan diasah dalam berbagai latihan belum menunjukkan hasil yang maksimal. Kunci untuk mencapai ke sana adalah pantang menyerah dan terus menerus tanpa kenal lelah berjuang mengasah dan memperbaiki talenta yang kita miliki. Sikap ini yang akan memastikan talenta kita akan menciptakan kesuksesan yang langgeng. Tidak hanya menang sekali untuk kemudian tenggelam.</p>
<h3>Meningkatkan Kualitas Talenta</h3>
<p>Setelah berhasil memanfaatkan talenta, sekarang adalah waktunya untuk meningkatkan talenta tersebut sehingga lebih baik lagi dari sebelumnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk itu yakni:</p>
<p><strong>Keberanian</strong>. Keberanian dalam mencoba sesuatu yang baru sekaligus menghitung resiko yang ada dengan cermat akan menunjukkan kekuatan talenta Anda yang sebenarnya. Coba perhatikan orang-orang besar di mana mereka berani melangkah dan mengambil tindakan yang orang lain mungkin akan ragu untuk melakukan. Namun keberanian tersebutlah yang membuat mereka berbeda dari orang lain sekaligus menunjukkan kekuatan talenta yang mereka miliki sebenar-benarnya.</p>
<p><strong>Karakter</strong>. Ada orang yang berpotensi dan bertalenta tinggi namun memiliki sikap dan karakter yang kurang baik. Ingat, tanpa memiliki karakter yang baik dan kuat seseorang tidak akan bisa bertahan untuk masa yang panjang. Bisa jadi dia sukses hari ini dengan talentanya tapi akan segera redup karena kerendahan karakternya.</p>
<p><strong>Terus Belajar</strong>. Memiliki talenta yang baik bukan berarti berhenti belajar melainkan terus menerus mengembangkan diri termasuk dari orang lain. Kesalahan besar yang dilakukan orang bertalenta adalah menganggap dirinya yang terbaik sehingga tidak merasa perlu belajar dari orang lain. Adapun sikap yang seharusnya dimiliki adalah membuka diri untuk terus belajar meskipun kita salah seorang ahli di bidang yang ditekuni tadi. Ingat, keahlian akan terus menguat seiring dengan proses belajar dan semakin melemah dengan tidak belajar.</p>
<h3>Perbesar Dampak Talenta Anda</h3>
<p>Jika kualitas talenta sudah mulai tampak dan berkembang, proses terakhir yang perlu dilakukan adalah bagaimana memperbesar dampak atau pengaruhnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membina hubungan, tanggung jawab dan kerjasama.</p>
<p><strong>Membina hubungan yang baik </strong>dengan orang lain yang juga bertalenta akan memberi pengaruh positif bagi diri. Adanya hubungan dengan orang lain akan membuka proses saling memberi dan saling menerima. Di sana terjadi proses saling mempengaruhi dalam hal yang positif.</p>
<p>Seorang yang benar-benar bertalenta harus <strong>bertanggung jawab</strong>, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakatnya. Perhatikan banyak orang bertalenta namun tidak bertanggung jawab gagal karena keburukan tingkah laku mereka. Mereka yang tadinya dihargai dan dipuji berbalik dicerca karena tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku di masyarakat.</p>
<div class="float-quote alignright">
<p>Setiap diri kita pasti memiliki talenta apakah kita sudah mengenalinya atau belum. Temukanlah talenta tersebut dan miliki keyakinan akan talenta yang Anda miliki.</p></div>
<p><strong>Kerjasama </strong>seringkali tidak mudah buat orang bertalenta karena merasa dirinya lebih dibandingkan orang lain. Padahal tidak ada orang bertalenta super sekalipun yang bisa mengalahkan sekelompok orang yang bekerjasama secara super. Dengan kerjasama akan memperbesar dampak dari talenta Anda sekaligus memberi nilai tambah bagi semua orang.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p><strong>Setiap orang unik dan hebat</strong>. Tuhan Maha Adil. Tidak mungkin orang tertentu hanya diberikan kelebihan saja sementara yang lain hanya diberikan kekurangan saja. Setiap diri kita pasti memiliki talenta apakah kita sudah mengenalinya atau belum. Temukanlah talenta tersebut dan miliki keyakinan akan talenta yang Anda miliki.</p>
<p>Hanya dengan tindakan yang tepat dan benar Anda akan bisa memanfaatkan talenta sehingga bermanfaat. Jangan cepat berpuas dan berbangga diri sebab jika Anda punya talenta, orang lain juga demikian. Maksimalkan talenta Anda, berbagilah dengan orang lain sekaligus ambil manfaat yang banyak dari orang di sekitar Anda.</p>
<p>Selamat menemukan talenta dan berkarya di bidang yang sesuai dengan kemampuan alami diri kita masing-masing.</p>
<p>Jika Anda ingin mendapat versi presentasi dari ringkasan yang saya buat, silakan <a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/05/talentisneverenough.ppt" target="_blank">download di sini</a>.</p>
<p>Anda punya pendapat lain tentang hal ini? Silakan sampaikan pendapat Anda pada kolom komentar di bawah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/05/talenta-saja-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran Ayah Dalam Kecerdasan Emosional Anak</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/04/peran-ayah-dalam-kecerdasan-emosional-anak/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/04/peran-ayah-dalam-kecerdasan-emosional-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 18:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Peran Ayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia modern ini, peran ayah sebagai kepala keluarga sering terfokus pada usaha untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, terutama keuangan. Dengan demikian, tak jarang seorang ayah harus membanting tulang mencari nafkah keluarga dan pulang dalam keadaan lelah tanpa memiliki kesempatan banyak untuk berinteraksi dengan istri dan anak-anak. Fenomena ini akan lebih terasa di kota besar dengan tekanan hidup yang lebih tinggi. Belum lagi ditambah kemacetan yang semakin parah membuat seorang ayah banyak kehilangan waktu berharganya untuk berinteraksi dengan anak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/04/drawingtime5.jpg" target="_blank"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-left: 0px; margin-right: 0px; border-bottom: 0px" title="ayah-anak-menggambar" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/04/drawingtime5-thumb.jpg" border="0" alt="ayah-anak-menggambar" width="277" height="331" align="left" /></a> Dalam dunia modern ini, peran ayah sebagai kepala keluarga sering terfokus pada usaha untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, terutama keuangan. Dengan demikian, tak jarang seorang ayah harus membanting tulang mencari nafkah keluarga dan pulang dalam keadaan lelah tanpa memiliki kesempatan banyak untuk berinteraksi dengan istri dan anak-anak. Fenomena ini akan lebih terasa di kota besar dengan tekanan hidup yang lebih tinggi. Belum lagi ditambah kemacetan yang semakin parah membuat seorang ayah banyak kehilangan waktu berharganya untuk berinteraksi dengan anak.</p>
<p>Berdasarkan sebuah penelitian, peran ayah sangat penting dalam membangun kecerdasan emosional anak. Seorang ayah sebagai kepala keluarga sekaligus pengambil keputusan utama dalam keluarga memiliki posisi penting dalam mendidik anak. Seorang anak yang dibimbing oleh ayah yang peduli, perhatian dan menjaga komunikasi akan cenderung berkembang menjadi anak yang lebih mandiri, kuat, dan memiliki pengendalian emosional yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak memiliki ayah seperti itu.</p>
<p>Hal ini bukan berarti mengabaikan peran sama yang dimiliki oleh seorang ibu. Secara natural biasanya seorang ibu akan terlibat aktif dalam membesarkan anaknya, sedangkan seorang ayah belum tentu mengambil peran yang sama. Posisi ayah biasanya tergantung sejauh mana dia melihat peran pentingnya dan kemudian memutuskan untuk terlibat. Karenanya dalam beberapa penelitian menunjukkan peran ayah memegang kunci yang menentukan bagaimana kondisi anaknya ketika besar nanti.</p>
<p>Dalam masyarakat kita, disadari atau tidak ada semacam perbedaan antara peran ayah dan ibu. Sering kali seorang ayah dipersepi cukup baik jika telah bertanggung jawab untuk pemenuhan urusan keuangan keluarga. Adapun urusan pengasuhan dan pendidikan anak lebih banyak dipegang oleh seorang ibu. Ibulah yang memandikan, mengganti popok, menggendong, atau membujuk ketika anak menangis. Secara umum tugas-tugas tadi dianggap sebagai kewajiban alami seorang ibu. Sedangkan ayah cukup melakukannya sesekali dan itu pun kalau dia punya waktu di tengah kesibukan pekerjaannya. Seorang ayah yang tidak melakukannya masih dianggap wajar saja.<span id="more-519"></span></p>
<p>Tak jarang seorang ayah yang kelelahan dan tertekan di pekerjaan malah membawa kemarahan dan ketidaknyamanan bagi anak-anaknya di rumah. Anak yang ingin mengajak bermain dianggap mengganggu istirahat, anak yang ingin dekat secara emosional dianggap terlalu manja, atau anak yang bertanya dijawab seadanya sehingga akhirnya akan timbul jarak antara seorang ayah dengan anaknya.</p>
<h3><strong>Menciptakan Kedekatan Ayah dan Anak</strong></h3>
<p>Menciptakan kedekatan antara seorang ayah dengan anak adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Anda akan menyesal jika tidak memulainya sejak awal dan baru merasakan sesuatu yang ganjil ketika anak mulai besar. Hubungan Anda dan anak akan terasa kaku, formal dan berjarak. Hal ini sering terlupakan oleh seorang ayah yang memiliki kesibukan tinggi sehingga baru menyadari ada yang salah antara hubungannya dengan anak setelah beberapa waktu kemudian dan itu mungkin sudah terlambat. Pernahkah Anda mendengar cerita seorang ayah yang sibuk berangkat pagi dan pulang malam, suatu hari pulang lebih awal dan anaknya ketakutan karena merasa ayahnya adalah orang asing yang tidak dikenal?</p>
<p>Peran ayah untuk memenuhi nafkah keluarga adalah pekerjaan mulia. Pekerjaan tersebut dalam banyak hal juga menyita waktu dan energi yang tidak sedikit. Walaupun demikian, bukan berarti menjadi alasan untuk tidak menyediakan waktu yang cukup untuk menjalin kedekatan dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anak Anda.</p>
<p>Jika Anda seorang ayah, berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menciptakan kedekatan dengan anak sekaligus menjadi pelatih emosi yang baik bagi sang anak.</p>
<p><strong></strong></p>
<h4><strong>1. Terlibat dalam pengasuhan dan perawatan anak</strong></h4>
<p>Mulailah membiasakan diri untuk berbagi tugas dan terlibat langsung dalam pengasuhan dan perawatan anak. Atur jadwal dengan istri kapan giliran Anda bertugas memandikan anak, mengganti popoknya, membuatkan susu, menemani sang anak ketika sulit tidur, membacakan cerita pengantar sebelum tidur, berdiskusi tentang apa yang dialami sang anak bersama teman-temannya serta menjalin komunikasi untuk membantu sang anak melihat persoalan yang dialaminya. Dengan terlibat langsung dalam pengasuhan dan perawatan, akan terjalin hubungan emosional antara Anda dan anak. Ada kedekatan yang muncul dan sang anak akan bisa merasakan perhatian ayahnya.</p>
<p>Mungkin Anda sudah terlalu lelah ketika pulang kerja. Atau Anda berangkat sangat pagi dan pulang sudah larut malam. Jika demikian situasinya maka carilah momen-momen di mana Anda bisa menjalin kedekatan seperti ketika makan bersama, berkomunikasi ketika mengantar anak ke sekolah, menyediakan waktu di akhir minggu untuk bercengkrama, berdialog dan saling membina kedekatan. Ingat ada hal yang berbeda ketika Anda mengajak jalan-jalan anak di akhir minggu tanpa terlibat secara emosional dibandingkan dengan melakukan aktivitas bersama yang saling mendekatkan satu sama lain.</p>
<h4><strong>2. Ikut bermain bersama anak</strong></h4>
<p>Adakalanya anak mengajak bermain, maka ikutilah permainannya dengan sepenuh hati. Ada banyak bahasa tak tersurat yang tersampaikan ketika seorang ayah ikut menemani anaknya bermain dan berperan sebagai teman sekaligus pelindung bagi sang anak. Jangan sampai karena kesibukan Anda membuat kegiatan bermain ini dialihkan kepada istri atau malah orang lain seperti <em>baby sitter </em>dan pembantu.</p>
<p>Ada permainan yang berbeda yang dirasakan anak ketika bermain dengan ayahnya dibandingkan dengan ibu. Lewat ayah anak akan mengenal permainan yang melibatkan kontak fisik atau aktivitas luar ruangan yang lebih menguras energi. Permainan ini sangat membantu anak untuk melatih keberanian dan kemandirian selama sang ayah tidak memaksakan dan terlalu mengatur dalam permainan-permainan tersebut. Berilah kesempatan sang anak untuk bereksplorasi dan membuat keputusan dalam permainannya sambil sesekali Anda terlibat dan memberi penjelasan untuk membantunya membuat keputusan.</p>
<h4><strong>3. Kenali siapa teman anak Anda</strong></h4>
<p>Siapa saja teman bermain anak Anda? Tahukah Anda siapa namanya? Di mana tinggalnya? Apa kegiatan yang dilakukan anak Anda bersama mereka? Seorang ayah yang baik mengenal dengan siapa saja anaknya bergaul. Ayah memberi arahan sekaligus menjadi teman diskusi bagi anak untuk menceritakan pengalamannya bersama teman, kekhawatirannya, dan kegembiraannya. Dengan mengenal teman-temannya maka Anda mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak tentang anak Anda sehingga lebih sedikit yang perlu dikhawatirkan. Anda juga akan mengenali bahasa <strong>“pergaulan” </strong>anak Anda.</p>
<p>Di tengah pergaulan sekarang yang relatif kurang kondusif, mengenal teman main anak Anda akan menjadi benteng berharga. Anda akan tahu apa yang dipelajari sang anak dari temannya. Sebagai ayah Anda bisa menjadi penengah dan penyeimbang informasi. Kasus anak-anak yang terlibat narkoba atau penyimpangan lainnya sering dimulai dari pergaulan dengan teman-temannya. Sang anak tidak pernah mendapat informasi dari ayah ibunya dan ketika dia sedang mencoba-coba berbagai hal, datanglah teman-temannya yang mengambil kontrol dan memberi pengaruh buruk.</p>
<h4><strong>4. Menjalin komunikasi yang membangun</strong></h4>
<p>Mungkin Anda merasa sudah berkomunikasi dengan anak dengan menanyakan bagaimana kabarnya di sekolah, apa yang dia pelajari, atau bagaimana hasil ujiannya kemarin. Jika Anda menanyakan hal tersebut hanya sekadar ingin tahu atau sebagai basa-basi pembicaraan, maka komunikasi tersebut hanya membawa dampak yang terbatas.</p>
<p>Menjalin komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang intensif di mana ada proses saling percaya satu sama lain. Di sinilah peran ayah sebagai pelatih emosi akan sangat dibutuhkan. Lewat komunikasi Anda mengetahui apa yang dirasakan sang anak, bagaimana pendapatnya tentang suatu persoalan, apa yang membuatkan senang, apa yang membuatnya khawatir sehingga Anda sebagai ayah dapat memberikan masukan yang membangun agar sang anak dapat mengelola emosi-emosi yang dirasakannya dan belajar mengambil tindakan yang diperlukan.</p>
<p>Mungkin anak Anda sedang ketakutan karena ada jagoan di sekolah yang sering memalak. Anda bisa menggali perasaan anak Anda dan apa yang dia lakukan untuk menghadapi situasi tersebut. Kehadiran Anda akan membantu sang anak memahami persoalannya secara lebih luas dan dia bisa belajar mengatasinya sendiri. Pelajaran ini nantinya akan sangat berharga ketika sang anak mulai beranjak dewasa. Jika di masa kecil dia sudah belajar menangani hal-hal kecil yang dapat dia kelola, maka ketika dewasa dia akan mampu menangani persoalan-persoalan yang lebih berat dan membutuhkan kematangan emosional.</p>
<p>Banyak orangtua yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya namun dalam komunikasi cenderung menjadi orangtua yang mengabaikan. Mereka mendengarkan tapi tidak memperhatikan. Mereka mengerti tapi tidak menunjukkan empati. Mereka merasa membantu tapi sebenarnya tidak membangun. Insya Allah bagian ini akan saya ulas dalam posting berbeda.</p>
<h4><strong>5. Mendidik Anak Lewat Permainan dan Tanya Jawab</strong></h4>
<p>Proses pendidikan anak yang terbaik seringkali tidak didapatkan secara formal, melainkan lewat aktivitas ringan berupa permainan atau tanya jawab. Ketika bermain mungkin anak Anda merasa kecewa karena kalah. Sebagai ayah Anda dapat membantu sang anak untuk mengenali perasaan kecewa tersebut dan bagaimana menanganinya. Suatu saat mungkin tanpa diduga anak Anda menanyakan suatu pertanyaan. Jawaban yang baik dan tepat sesuai kadar kemampuan sang anak mencerna saat itu akan menjadi pelajaran berharga baginya.</p>
<p>Manfaatkanlah setiap proses bermain dan tanya jawab sebagai ajang pendidikan anak Anda. Disanalah Anda dapat menanamkan nilai-nilai moral, bagaimana mengelola emosi, bagaimana menghadapi kehidupan, atau bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak orangtua yang malas menjawab ketika anaknya bertanya. Kadang-kadang hal ini tidak selalu disengaja melainkan karena pertanyaan tersebut dianggap tidak penting atau terlalu remeh sehingga tidak perlu dijawab. Ketahuilah ketika itu dilakukan, Anda telah melewatkan suatu kesempatan emas untuk mendidik anak Anda.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Demikian beberapa hal yang dapat saya bagi terkait peran seorang ayah. Tentunya masih banyak hal lain yang dapat dilakukan selain daftar pendek di atas.</p>
<p>Mohon maaf kalau tulisan ini terkesan membedakan gender. Tentunya hal-hal di atas juga relevan bagi seorang ibu. Tetapi dalam tulisan ini saya sedang ingin menekankan bagaimana seorang ayah perlu untuk berperan lebih jauh dan lebih besar dalam mendidik dan melatih kecerdasan emosi anaknya ditengah-tengah kesibukan sang ayah sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Jika Anda tertarik dengan topik ini, saya sarankan untuk membaca buku <strong>“Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak” </strong>karya <strong>John Gottman, Ph. D </strong>yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku ini membuka wawasan baru tentang pengasuhan anak dan bagaimana orangtua dapat mengambil peran aktif yang membangun mental sang anak.</p>
<p>Selamat berjuang bagi semua ayah di manapun berada.</p>
<p>Anda punya pandangan atau komentar tentang hal ini? Silakan sampaikan pandangan atau komentar Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/04/peran-ayah-dalam-kecerdasan-emosional-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Emosional Membantu Sukses Dalam Pekerjaan</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/kecerdasan-emosional-sukses-pekerjaan/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/kecerdasan-emosional-sukses-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 00:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Goleman]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional Quotient]]></category>
		<category><![CDATA[kesuksesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Apa Itu Kecerdasan Emosional?

Ada banyak perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional. Secara relatif bidang ini dianggap masih baru dalam Psikologi dan masih mencari bentuknya yang lebih mantap. Secara sederhana saya mencoba memahaminya sebagai:
kemampuan mengenali emosi diri sendiri
kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil tindakan yang tepat
kemampuan mengenali emosi orang lain
kemampuan bertindak dan berinteraksi dengan orang lain]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/emotionalintelligenceatwork.jpg" target="_blank"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-left: 0px; margin-right: 0px; border-bottom: 0px" title="Emotional Intelligence At Work" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/emotionalintelligenceatwork-thumb.jpg" border="0" alt="Emotional Intelligence At Work" width="240" height="213" align="right" /></a> Istilah <strong>Kecerdasan Emosional </strong>(Emotional Intelligence) mulai populer sejak diperkenalkan secara massal pada tahun 1995 oleh Daniel Goleman lewat bukunya berjudul <em>Emotional Intelligence – Why It Can Matter More Than IQ. </em>Sebenarnya istilah ini sudah muncul sebelumnya dan sebagai terminologi dipakai dalam tesis doktoral Wayne Payne di tahun 1985. Untuk sejarah lebih lengkap dapat Anda baca <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_Intelligence">di sini.</a></p>
<h3><strong>Apa Itu Kecerdasan Emosional?</strong></h3>
<p>Ada banyak perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional. Secara relatif bidang ini dianggap masih baru dalam Psikologi dan masih mencari bentuknya yang lebih mantap. Secara sederhana saya mencoba memahaminya sebagai:</p>
<ul>
<li>kemampuan mengenali emosi diri sendiri</li>
<li>kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil tindakan yang tepat</li>
<li>kemampuan mengenali emosi orang lain</li>
<li>kemampuan bertindak dan berinteraksi dengan orang lain</li>
</ul>
<p>Dengan demikian orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang memahami kondisi dirinya, emosi-emosi yang terjadi, serta mengambil tindakan yang tepat. Orang tersebut juga secara sosial mampu mengenali dan berempati terhadap apa yang terjadi pada orang lain dan menanggapinya secara proporsional.<span id="more-445"></span></p>
<h3><strong>Kecerdasan Emosional dan Realita Dunia Kerja</strong></h3>
<p>Dalam bukunya yang terkenal itu, Daniel Goleman menyebutkan disamping Kecerdasan Intelektual (IQ) ada kecerdasan lain yang membantu seseorang sukses yakni Kecerdasan Emosional (EQ). Bahkan secara khusus dikatakan bahwa kecerdasan emosional lebih berperan dalam kesuksesan dibandingkan kecerdasan intelektual. Klaim ini memang terkesan agak dibesarkan meskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan kebenaran ke arah sana. Sebuah studi bahkan menyebutkan IQ hanya berperan 4%-25% terhadap kesuksesan dalam pekerjaan. Sisanya ditentukan oleh EQ atau faktor-faktor lain di luar IQ tadi.</p>
<p>Jika kita melihat dunia kerja, maka kita bisa menyaksikan bahwa seseorang tidak cukup hanya pintar di bidangnya. Dunia pekerjaan penuh dengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di bidangnya akan mampu bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih jauh dia membutuhkan dukungan rekan kerja, bawahan maupun atasannya. Di sinilah kecerdasan emosional membantu seseorang untuk mencapai keberhasilan yang lebih jauh.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam proses rekrutmen karyawan, seseorang dengan nilai IPK yang tinggi sekalipun dan datang dari Universitas favorit tidak selalu menjadi pilihan yang terbaik untuk direkrut. Ada kalanya orang yang pintar secara intelektual kurang memiliki kematangan secara sosial. Orang seperti ini bisa jadi sangat cerdas, memiliki kemampuan analisa yang kuat, serta kecepatan belajar yang tinggi. Namun jika harus bekerja sama dengan orang lain dia kesulitan. Atau jika dia harus memimpin maka akan cenderung memaksakan pendapatnya serta jika harus menjadi bawahan punya kecenderungan sulit diatur.</p>
<p>Orang seperti ini mungkin akan melejit jika bekerja pada bidang yang menuntut keahlian tinggi tanpa banyak ketergantungan dengan orang lain. Namun kemungkinan besar dia akan sulit bertahan pada organisasi yang membutuhkan kerja sama, saling mendukung dan menjadi sebuah <strong>“super team”</strong>, bukan “super man”.</p>
<p>Tentunya tidak semua orang yang cerdas secara intelektual seperti itu. Dan bukan berarti kecerdasan intelektual tidak penting. Dalam dunia kerja kecerdasan intelektual menjadi sebuah prasyarat awal yang menentukan level kemampuan minimal tertentu yang dibutuhkan. Sebagai contoh beberapa perusahaan mempersyaratkan IPK mahasiswa minimal 3.0 atau 2.75 sebagai syarat awal pendaftaran. Hal ini kurang lebih memberikan indikasi bahwa setidaknya kandidat tersebut telah belajar dengan baik di masa kuliahnya dulu.</p>
<p>Setelah syarat minimal tersebut terpenuhi, selanjutnya kecerdasan emosional akan lebih berperan dan dilihat lebih jauh dalam proses seleksi. Apakah dia punya pengalaman yang cukup dalam berorganisasi? Apakah calon tersebut pernah memimpin atau dipimpin? Apa yang dia lakukan ketika menghadapi situasi sulit? Bagaimana dia mengelola motivasi dan semangat ketika dalam kondisi tertekan? Dan banyak hal lagi yang akan diuji.</p>
<p>Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan seseorang menangani beban kerja, stres, interaksi sosial, pengendalian diri, menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Seseorang yang sukses dalam pekerjaan biasanya adalah orang yang mampu mengelola dirinya sendiri, memotivasi diri sendiri dan orang lain, dan secara sosial memiliki kemampuan dalam berinteraksi secara positif dan saling membangun satu sama lain. Dengan cara ini orang tersebut akan mampu berprestasi baik sebagai seorang individu maupun tim.</p>
<h3><strong>Beberapa Karakteristik Orang Yang Sukses dalam Pekerjaan</strong></h3>
<p>Jika kita melihat orang yang sukses dalam pekerjaan, ada beberapa karakteristik umum yang mirip satu sama lain:</p>
<ul>
<li>Bekerja dengan sepenuh hati dan riang</li>
<li>Memiliki prestasi dalam pekerjaan sebagai individu dan tim</li>
<li>Mampu mengelola konflik</li>
<li>Mampu menghadapi dan menjalankan perubahan</li>
<li>Memiliki empati terhadap atasan, bawahan dan rekan kerja</li>
<li>Mampu membaca dan mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain serta mengambil tindakan yang tepat dalam menanganinya</li>
</ul>
<p>Jika kita perhatikan, maka hampir semua daftar di atas akan dimiliki oleh orang yang cerdas secara emosional. Khusus untuk item nomor dua diperlukan kecerdasan intelektual yaitu bagaimana seseorang bisa menjadi ahli di bidangnya. Memiliki pengetahuan dan skill yang mumpuni agar bisa berprestasi secara individu. Selanjutnya kecerdasan emosional akan membantunya berprestasi pula sebagai tim bersama rekan kerja, bawahan maupun atasannya.</p>
<p>Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki orang yang cerdas secara emosional:</p>
<ol>
<li><strong>Kemampuan Pribadi</strong>
<ul>
<li><strong>Pengenalan diri (Self Awareness), </strong>memahami emosi, batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.</li>
<li><strong>Manajemen diri (Self Management), </strong>mampu mengendalikan diri menghadapi berbagai situasi</li>
<li><strong>Orientasi Tujuan (Goal Orientation), </strong>mengetahui apa yang menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Kemampuan Sosial</strong>
<ul>
<li><strong>Empati: </strong>mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu menempatkan diri dalam posisi tersebut.</li>
<li><strong>Keahlian sosial (Social skills): </strong>mampu berinteraksi dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan tepat terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lain.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<h3><strong>Melatih Kecerdasan Emosional</strong></h3>
<p>Sejak kecil kita telah memiliki emosi dan berinteraksi dengan emosi tersebut. Kebiasaan kita dalam menanganinya akan terus terbawa dan menjadi karakter seseorang ketika dewasa. Dengan demikian, alangkah berbahagianya seorang anak yang memiliki orangtua yang peka dan pelatih emosi yang baik. Anak seperti ini akan berlatih menangani dirinya sejak masa kecil. Untuk topik ini insya Allah akan saya posting dalam kesempatan yang akan datang.</p>
<p>Bagaimana jika ketika dewasa kita kurang memiliki kematangan secara emosional? Jawabannya adalah kecerdasan tersebut dapat dilatih. Cara paling awal adalah dengan mengenali emosi diri Anda ketika terjadi. Kenali apa saja yang berkecamuk dalam dada Anda dan suara-suara yang memerintahkan Anda untuk bertindak. Tahapan berikutnya adalah melakukan kontrol diri terhadap berbagai bentuk emosi yang ada. Bagaimana Anda mengendalikan diri ketika marah, tidak terpuruk ketika merasa kecewa, dapat bangkit dari kesedihan, mampu memotivasi diri dan bangkit ketika tertekan, mengatur diri dari kemalasan, menetapkan target yang menantang namun wajar, serta bisa menerima keberhasilan maupun kegagalan dengan lapang dada.</p>
<p>Jika hal tersebut sudah Anda kuasai, selanjutnya adalah melatih kematangan sosial. Bagaimana Anda berempati – merasakan apa yang dirasakan orang lain – sehingga bisa memberi respon yang tepat terhadap sinyal-sinyal emosi yang ditampilkan orang lain. Kematangan ini akan mudah dikembangkan jika Anda aktif terlibat dalam organisasi, bekerjasama dengan orang lain dan memiliki interaksi sosial yang intens. Latihlah kemampuan Anda dalam memimpin dan dipimpin, memotivasi orang lain, serta mengatasi dan mengelola konflik.</p>
<p>Bagi saya pribadi, memahami emosi sangat membantu dalam mengenali diri dalam tahap awal. Selanjutnya adalah mengenali dan mengendalikan oknum-oknum yang saling berperang dalam diri: berbagai keinginan, kesombongan, iri hati, dengki, kebencian, amarah dan sifat-sifat lainnya. Cerdas secara emosional akan membantu Anda pada tahap awal untuk mengenali diri dengan lebih baik, sekaligus bersikap positif dan melatih kematangan menghadapi kehidupan, apapun yang terjadi: susah atau senang, sukses atau gagal, mudah atau sulit.</p>
<p>Selamat belajar, semoga Allah membantu saya dan Anda menjadi orang yang lebih baik lagi di masa mendatang.</p>
<p>Anda punya pandangan lain tentang hal ini? Silakan sampaikan pendapat Anda.</p>
<p><strong>Bahan Rujukan:</strong></p>
<ul>
<li><strong>Kecerdasan Emosional</strong> oleh Daniel Goleman, Gramedia Pustaka 1996. Diterjemahkan dari Daniel Goleman (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books</li>
<li><strong>Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak</strong> oleh John Gottman, Ph. D. dan Joan DeClaire, Gramedia Pustaka, 2008. Diterjemahkan dari John Gottman, Ph. D. &amp; Joan DeClaire (1997). The Heart of Parenting.</li>
<li><strong>Wikipedia</strong> – <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_Intelligence">http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_Intelligence</a></li>
<li><strong>Emotional Intelligence At Work</strong> – E-Learning Course</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/kecerdasan-emosional-sukses-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

