<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pengembangan Diri oleh Muhammad Noer - Membaca Cepat (Speed Reading), Presentasi, Mind Map, Komunikasi, Perencanaan Keuangan, Produktivitas &#187; Perencanaan Keuangan</title>
	<atom:link href="http://www.muhammadnoer.com/category/perencanaan-keuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.muhammadnoer.com</link>
	<description>Tips Pengembangan Diri: Membaca Cepat, Speed Reading, Produktivitas, Presentasi, Mind Map, Perencanaan Keuangan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 17:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>7 Prinsip Perencanaan Keuangan Keluarga</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2011/06/perencanaan-keuangan-keluarga/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2011/06/perencanaan-keuangan-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 00:33:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Prinsip Perencanaan Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2011/06/perencanaan-keuangan-keluarga/</guid>
		<description><![CDATA[Prinsip utama Perencanaan Keuangan Keluarga yang akan membuat hidup Anda lebih bahagia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/06/menghitungrupiah.jpg"><img style="display: inline; border: 0px;" title="menghitung-rupiah" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/06/menghitungrupiah_thumb.jpg" border="0" alt="menghitung-rupiah" width="500" height="334" /></a></p>
<p>Merencanakan keuangan sejak dini wajib dilakukan setiap keluarga. Ini berlaku baik buat pasangan muda maupun pasangan yang sudah menikah lebih dari 20 tahun. Membuat rencana yang baik akan membantu untuk menggunakan dana secara bijak sesuai tingkat keperluannya.</p>
<p>Merencanakan keuangan keluarga tidak harus rumit. Anda boleh saja memiliki perencanaan yang detail dan rapi, namun adakalanya perencanaan yang sederhana juga berhasil.</p>
<p>Berikut <strong>7 prinsip dasar </strong>yang perlu Anda pegang dalam membuat perencaaan keluarga:</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>1. Belanja lebih kecil daripada pendapatan</h3>
<p>Ini hukum pertama yang wajib dipatuhi. Sangat sederhana namun sering dilanggar. Jangan pernah membelanjakan lebih besar dari pendapatan Anda. Masalah besar dalam keuangan keluarga dimulai dari melanggar hal ini. Ini terjadi ketika Anda membelanjakan sesuatu yang sebenarnya tidak Anda miliki.</p>
<p>Ketika Anda mulai belanja lebih besar dari pendapatan, membeli barang melebihi kemampuan, maka malapetaka keuangan dimulai. Anda akan mulai membuat lubang yang terus menerus semakin dalam. Dan jauh lebih sulit untuk berusaha keluar dari lubang tersebut daripada mencoba menghindarinya pada kesempatan pertama.</p>
<p>Jadi, belanja dengan bijak, jangan melebihi pendapatan. Anda akan hidup lebih bahagia, di rumah dan di tempat kerja.</p>
<p><span id="more-1447"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>2. Hindari hutang</h3>
<p>Terus terang hutang begitu menggoda. Apa yang tidak bisa Anda beli sekarang dapat dimiliki saat ini juga dengan hutang. Namun perlu diingat, hutang akan membuat Anda sengsara apalagi jika ternyata <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/hitung-sebelum-berhutang/" target="_blank">tidak punya kemampuan mengembalikannya.</a></p>
<p>Lantas, mungkinkah hidup tanpa berhutang? Tentu saja sangat mungkin. Jika Anda menjalankan prinsip pertama belanja lebih kecil dari pendapatan, maka Anda tidak perlu berhutang. Tahan semua keinginan membeli sesuatu kecuali Anda sudah memiliki kemampuan.</p>
<p>Dengan cara ini Anda akan belajar tertib hanya memiliki sesuatu jika memang sudah memiliki kemampuan. Atau jika Anda sangat mengidamkan sesuatu, tabunglah secara teratur sampai Anda mampu membeli apa yang Anda inginkan tersebut tanpa perlu berhutang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>3. Hidup sederhana</h3>
<p>Apakah hidup sederhana itu? Apakah hidup dengan tidak memiliki rumah atau kendaraan? Dalam pandangan saya pribadi, hidup sederhana berarti <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/" target="_blank">hidup sesuai kebutuhan.</a> Tidak mesti semua yang Anda inginkan harus dibeli. Hidup sesuai kebutuhan Anda dan bagi kelebihannya kepada orang lain yang membutuhkan. Inilah hidup untuk memberi makna.</p>
<p>Hidup sederhana bisa jadi berbeda-beda untuk tiap keluarga. Jika Anda sangat kaya, maka cukupkan diri dengan satu atau dua kendaraan saja. Tidak harus mengkoleksi seluruh kendaraan yang Anda untuk menunjukkan kemampuan Anda.</p>
<p>Jika Anda hidup dengan keterbatasan keuangan, syukuri apa yang ada dan hiduplah seadanya. Jika Anda tidak punya uang, hiduplah tanpanya. Toh, dunia tidak akan jadi kiamat gara-gara hal itu. Anda tidak harus punya laptop, handphone terbaru, iPad, nonton bioskop atau makan di restoran. Ada banyak cara menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Temukan cara untuk menikmati kesenangan bersama keluarga Anda tanpa mengeluarkan biaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>4. Atur budget dengan sederhana</h3>
<p>Ada banyak <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/02/menyusun-budget-keuangan-keluarga/" target="_blank">cara mengatur keuangan.</a> Jika mampu, Anda bisa meminta bantuan konsultan keuangan profesional yang akan mengajarkan cara menata keuangan. Jika rajin mencatat, Anda bisa mengunakan software keuangan keluarga untuk mencatata pengeluaran, pemasukan sekaligus mengatur budget Anda.</p>
<p>Dan jika Anda pusing dengan semua cara di atas, maka ada pengaturan paling sederhana. Pisahkan uang yang Anda miliki ke dalam amplop untuk setiap kebutuhan. Pastikan pengeluaran tidak melebihi jatah setiap amplop. Di akhir bulan, hitung kelebihannya dan tabung. Anda akan terbantu ketika masa sulit tiba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>5. Jadikan tabungan sebagai pengeluaran pertama</h3>
<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/" target="_blank">Menabung tidak harus besar</a>. Yang paling penting adalah teratur. Dari pendapatan Anda yang selama ini ada, tetapkan nilai tabungan yang wajar. Segera setelah Anda menerima pendapatan, tabung jumlah tadi dalam rekening terpisah. Itulah cara menjadikan tabungan sebagai pengeluaran pertama.</p>
<p>Anda tidak akan lupa menabung dan yang paling penting tidak ada lagi alasan tidak bisa menabung karena kehabisan uang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>6. Bayar tagihan sesegera mungkin</h3>
<p>Setiap rumah tangga punya tagihan. Mulai dari listrik, air, telepon, internet dan berbagai tagihan lainnya. Termasuk jika Anda mengontrak rumah, Anda pun harus membayar sewa di muka. Bayarkan secepat mungkin setelah Anda menerima tagihan. Ini akan membuat satu urusan beres dan Anda tidak perlu pusing lagi membayarnya di kemudian hari. Baik karena kehabisan uang atau kelupaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>7. Sepakat antara suami dan istri</h3>
<p>Berbicara <a href="http://www.muhammadnoer.com/2008/09/perencanaan-keuangan-itu-mudah/" target="_blank">perencanaan keuangan keluarga</a> tidak dapat lepas dari peran suami dan istri yang menjalankan rumah tangga. Untuk itu Anda perlu sepakat dengan pasangan bagaimana mengelola keuangan dengan baik.</p>
<p>Dalam setiap pasangan sangat wajar terjadi perbedaan pandangan dan cara melihat sesuatu yang dianggap penting atau tidak. Untuk itu, duduk bersama, bicarakan secara terbuka, dan buat kesepakatan dengan pasangan Anda.</p>
<p>Istri harus mengerti kemampuan keuangan suami dan suami pun harus mengerti kebutuhan rumah tangga yang diatur istrinya.</p>
<p>Jika kedua pasangan bekerja, ada baiknya suami istri saling mengetahui pendapatan masing-masing agar tiada dusta diantara kita. Jika penghasilan suami memadai, maka bisa dibuat kesepakatan suami yang membiayai keluarga sedangkan penghasilan istri baru dipakai jika ada emergency. Namun jika istri mau turut serta membantu pengeluaran keluarga itu pun akan lebih baik. Yang penting terjadi komunikasi dan saling memahami. Suami pun tak perlu merasa rendah diri jika ternyata gaji istri jauh lebih besar.</p>
<p>Tanpa kesepakatan suami istri, akan sulit membuat perencanaan keuangan keluarga yang baik. Jika Anda tidak terbiasa mendiskusikan hal seperti ini dengan pasangan, cobalah sedikit demi sedikit dari sekarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi merencanakan keuangan keluarga tidaklah sesulit yang dipikirkan banyak orang. Anda bisa melakukan dengan cepat dan mudah. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak memulainya sejak sekarang.</p>
<p>Lakukan dan hiduplah dengan damai bersama keluarga tercinta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Photo credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/black_claw/5226919881/sizes/m/in/photostream/" target="_blank">Black_Claw</a> under Creative Commons License</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2011/06/perencanaan-keuangan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Hutang Produktif dan Tidak Produktif. Mana Yang Anda Pilih?</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2011/02/antara-hutang-produktif-dan-tidak-produktif-mana-yang-anda-pilih/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2011/02/antara-hutang-produktif-dan-tidak-produktif-mana-yang-anda-pilih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang Produktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2011/02/antara-hutang-produktif-dan-tidak-produktif-mana-yang-anda-pilih/</guid>
		<description><![CDATA[Di zaman modern ini, hampir semua orang pasti pernah berhutang. Ya, hutang sudah menjadi kebutuhan untuk berbagai keperluan. Namun, tahukah Anda bahwa diantara hutang tersebut ada yang produktif dan ada yang tidak? Hutang jenis manakah yang sering Anda gunakan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/02/hutang.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="hutang" border="0" alt="hutang" align="left" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/02/hutang_thumb.jpg" width="278" height="331" /></a> </p>
<p>Di zaman modern ini, hampir semua orang pasti pernah berhutang. Ya, hutang sudah menjadi kebutuhan untuk berbagai keperluan. Namun, tahukah Anda bahwa diantara hutang tersebut ada yang produktif dan ada yang tidak? Hutang jenis manakah yang sering Anda gunakan?</p>
<p>Secara sederhana, berhutang berarti meminjam sejumlah uang tertentu (bisa juga berupa barang) dengan janji untuk dikembalikan di masa yang akan datang. Dalam konteks modern, kebanyakan hutang berbentuk pinjaman dana ke bank dengan cara mencicil pembayarannya. Orang berhutang untuk beli rumah, mobil, handphone terbaru atau untuk biaya anak sekolah. Hutang, jika dipergunakan dengan cara yang bijak dan untuk keperluan yang tepat akan bernilai produktif. Sebaliknya, hutang yang dipergunakan dengan keliru akan membuat pelakunya terlilit dalam beban berat yang tak kunjung selesai. </p>
<p>Fakta yang juga menarik adalah, semakin “terlihat” kaya seseorang, maka semakin besar pula hutangnya. Jadi jangan cepat terpesona dengan seorang eksekutif muda yang menenteng gadget terkini dan selalu makan di restoran mahal. Bisa jadi hutang kartu kredit yang dia tanggung jauh lebih besar daripada gajinya sendiri. Artinya orang tersebut sebenarnya minus. Gaji yang baru diterima bulan depan bahkan sudah habis tergadaikan karena hutang yang dia ciptakan hari ini. Tak jarang kenaikan gaya hidup seseorang bergerak lebih cepat daripada kenaikan pendapatan. Ini patut diwaspadai oleh kita semua agar tidak terjebak dalam keadaan besar pasak daripada tiang.</p>
<p> <span id="more-1274"></span></p>
<h3><b>Mengenal Hutang Produktif</b></h3>
</p>
<p>Ketika Anda berhutang untuk membeli sebuah barang, lalu dijadikan modal untuk menciptakan penghasilan, maka inilah yang disebut hutang produktif. Istilah kerennya Anda membeli aset kemudian menggunakan aset tersebut untuk menghasilkan nilai tambah. Seorang tukang ojek yang berhutang untuk membeli motor dapat dikategorikan hutang produktif karena dengan motor itu dia bisa mencari nafkah. Hutang untuk membeli angkot lalu dipergunakan untuk menarik penumpang juga bernilai produktif. Sama halnya Anda berhutang untuk membeli mesin cuci lalu digunakan untuk usaha <i>laundry.</i></p>
<p>Meskipun barangnya sama, seseorang yang membeli barang namun digunakan untuk keperluan sehari-hari tidak dapat dikategorikan sebagai hutang produktif. Seseorang yang membeli mobil untuk keperluan kerja dan jalan-jalan belum bisa dikatakan sebagai hutang produktif. Karena dengan pembelian mobil tersebut, dia bahkan mengeluarkan lebih besar daripada yang didapatkan. Mulai dari cicilan hutang, pembelian bensin yang lebih banyak, biaya tol, parkir, <i>service</i>, cuci kendaraan dan semua biaya yang muncul akibat konsekuensi memiliki mobil. Sama halnya membeli rumah untuk dipakai sebagai tempat tinggal bukanlah hutang produktif. Kecuali jika rumah tersebut dijadikan tempat usaha atau disewakan kepada orang lain.</p>
<p>Lantas Anda mungkin bertanya, bagaimana dengan hutang membeli rumah atau tanah? Bukankah harganya terus naik dari waktu ke waktu? Mengapa tidak dapat dikategorikan sebagai hutang produktif?</p>
<p>Dalam batas tertentu, pembelian rumah atau tanah bisa menjadi produktif jika dalam jangka panjang nilai barang yang Anda miliki menjadi lebih besar daripada beban hutang yang muncul. Dengan kata lain, pertumbuhan kenaikan harga dari rumah dan tanah tersebut, lebih tinggi dari beban hutang yang harus Anda tanggung. Dalam kondisi seperti ini, rumah atau tanah bisa menjadi hutang produktif meskipun hanya disimpan saja dan dijual kembali sewaktu-waktu. Tanah biasanya lebih produktif daripada rumah. Tanah tidak perlu biaya menyimpannya sementara jika Anda membeli rumah dan mendiamkannya, maka akan ada biaya yang muncul untuk perbaikan, listrik, air, keamanan dan lain-lain. Namun satu hal yang perlu dipahami, ini adalah barang aset tidak bergerak dengan nilai yang cukup besar sehingga terkadang tidak mudah memperjualbelikannya kembali.</p>
<p><b></b></p>
<h3><b>Kapan Hutang Produktif Bermanfaat?</b></h3>
<p>Sebuah hutang produktif seperti yang dijelaskan di atas akan bermanfaat ketika hasil yang Anda dapatkan dari barang aset tadi lebih besar daripada beban hutang yang muncul. Dengan demikian, bahkan Anda bisa mencicil hutang dan menggunakan kelebihannya untuk keperluan sehari-hari. Di sinilah hutang dirasa perlu dan akan bermanfaat jika diambil. Semakin banyak berhutang, semakin banyak manfaat yang bisa didapatkan.</p>
<p><b></b></p>
<h3><b>Hutang Tidak Produktif</b></h3>
<p>Berbeda dengan hutang produktif, maka hutang yang tidak produktif tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan setelah Anda berhutang timbul beban baru atas barang yang dibeli. Hutang ini disebut juga hutang konsumtif. Kita berhutang untuk mengkonsumsi barang atau jasa yang nilainya terus berkurang karena dipakai atau menambah biaya baru dalam pemakaiannya. Contoh sederhana berhutang untuk membeli TV baru. Ini adalah barang konsumtif yang Anda tidak bisa mendapatkan penghasilan karena memilikinya. Dan nilai barang tersebut akan terus turun seiring dengan berjalannya waktu. </p>
<p>Contoh lain adalah hutang untuk membeli <i>smartphone</i> terbaru yang canggih. Mungkin Anda akan kelihatan gaya ketika menggunakannya. Namun nilai barang yang mahal akan menguras kantong Anda untuk mencicil hutang. Tak jarang gara-gara pembelian benda tersebut, Anda harus membayar pulsa lebih atau tambahan koneksi internet dan jasa lainnya yang mungkin tak banyak Anda gunakan dalam kegiatan produktif.</p>
<p>Termasuk dalam hutang konsumtif ini adalah berhutang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari misalnya membeli makanan. Kehidupan tiap orang berbeda-beda. Adakalanya kesulitan sedemikian beratnya sampai-sampai untuk membeli makanan seseorang harus berhutang. Hutang seperti ini tentu tidak terhindarkan namun perlu dipikirkan bagaimana agar tidak terus menerus berulang dan mencari solusinya. Kita seringkali mendengar pepatah, berikanlah kail dan bukan ikan. Jika kita berada dalam kondisi yang sedemikian berat sehingga harus berhutang untuk kebutuhan pokok, maka pikirkanlah satu hutang produktif yang jika Anda melakukannya, maka Anda akan memiliki kail yang membantu menciptakan penghasilan dan mulai melunasi hutang-hutang tersebut.</p>
<p><b></b></p>
<h3><b>Kebanyakan Hutang Bersifat Konsumtif</b></h3>
<p>Setelah kita belajar dua jenis hutang diatas, maka dapat dipastikan kebanyakan hutang adalah konsumtif sekaligus tidak produktif. Tawaran kartu kredit, diskon belanja, kemudahan kredit barang semuanya menggoda orang untuk mengambil hutang konsumtif yang belum tentu akan memudahkan hidup. Ya, sepintas mungkin kita merasa dengan hutang tersebut kita dapat memiliki barang yang diidam-idamkan dalam tempo cepat dan cukup mencicilnya. Namun pertimbangkanlah sekali lagi apakah Anda benar-benar butuh barang tersebut? Apakah ada kebutuhan lain yang lebih penting dan mendesak untuk dipenuhi? Apakah Anda memiliki kemampuan membayar hutang dan beban yang muncul atas kepemilikan barang? Dan seluruh konsekuensi lainnya. Bertanya seperti ini akan membantu menggali lebih jauh apakah kita perlu berhutang atau tidak.</p>
<p>Jika kebanyakan hutang adalah konsumtif, lantas siapakah yang berhutang produktif? Orang yang yang memanfaatkan hutang seperti ini kebanyakan para entrepreneur yang bisa melihat peluang dengan kegiatan usaha. Jika tidak berhutang maka dia tidak bisa memulai usaha sekarang. Sebaliknya dengan berhutang dia bisa menghasilkan kegiatan produktif, membayar hutangnya sekaligus menerima kelebihan dari hasil produktif tersebut.</p>
<p>&#160;</p>
<h3><strong>Mana Yang Anda Pilih?</strong></h3>
<p>Dalam pengelolaan keuangan yang baik, setiap kali Anda hendak berhutang, maka pastikan memilih hutang produktif. Kalaupun sesekali Anda ingin mengambil hutang konsumtif, pikirkanlah sekali lagi konsekuensinya. Apakah Anda sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk memiliki barang konsumtif yang menggiurkan tersebut? Jika belum, sebaiknya jangan memaksakan diri. Jika sudah mampu, maka pertimbangkanlah untuk mengkonsumsi dalam jumlah wajar, sesuai kebutuhan, dan tidak berlebihan.</p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini membantu Anda semakin cerdas dalam membuat keputusan untuk berhutang. </p>
<p>Kembali ke judul awal tulisan, manakah yang Anda pilih, hutang produktif atau hutang konsumtif?</p>
<p>Silakan sampaikan pendapat dan komentar Anda.</p>
<p>Photo Credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/alancleaver/4105722502/sizes/m/in/photostream/" target="_blank">Alan Cleaver</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2011/02/antara-hutang-produktif-dan-tidak-produktif-mana-yang-anda-pilih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merencanakan Keuangan Rumah Tangga</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/merencanakan-keuangan-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/merencanakan-keuangan-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan; Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2010/04/merencanakan-keuangan-rumah-tangga/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika Anda mengamati blog ini, maka Anda akan menemukan salah satu tema yang banyak saya tuliskan adalah tentang perencanaan keuangan. Mengapa saya tertarik tentang hal tersebut? Dan bagaimana kisahnya sehingga saya bisa berbagi tentang keuangan keluarga kepada Anda? Berikut adalah kisahnya.</p>

<p>Saya lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ketika memasuki kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa lain, saya pun masih menerima kiriman dari orangtua. Uang tersebut harus dimanfaatkan dengan baik agar segala keperluan mulai dari uang kuliah, makan, kost dan lain-lain bisa terpenuhi. Ketika masih mahasiswa, saya juga memutuskan untuk menikah, dan sejak itu resmi saya harus mulai mengelola keuangan sendiri, lepas dari campur tangan orangtua.</p>

<p>Sebagai mahasiswa yang belum lulus, praktis saya hanya bisa bekerja paruh waktu. Karena senang dengan bidang pendidikan dan pengajaran, saya pun menjadi guru les privat. Murid pertama saya kelas IV SD kemudian ditambah dengan murid lainnya di SMP. Penghasilan dari mengajar les ini memang tidak banyak. Sejak itulah saya mulai belajar mengelola keuangan keluarga dengan sebaik-baiknya. Hal ini saya lakukan agar seberapapun penghasilan yang Allah berikan, bisa saya manfaatkan dengan baik, tanpa harus menggantungkan diri kepada orang lain.</p>

<p>Dulu <a href="http://www.muhammadnoer.com/2008/09/perencanaan-keuangan-itu-mudah/">perencanaan keuangan</a> saya masih sangat sederhana. Saya menggunakan Excel untuk memperkirakan berapa kebutuhan saya ke depan dan estimasi penghasilan yang akan diterima. Saya masih ingat betul ketika itu saya dan istri membuat perkiraan berapa uang yang harus dihabiskan untuk membeli beras, lauk pauk dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Waktu itu jatah belanja rumah tangga saya adalah 7.000 rupiah per hari. Artinya, jika ada hari di mana belanja lebih dari nilai tersebut, maka di hari lainnya harus dikurangi. Sedangkan jika kami sekeluarga bisa menahan diri untuk belanja lebih hemat di awal bulan, maka menjelang akhir bulan kelebihan uang belanja bisa ditambahkan untuk membeli makanan yang lebih baik.</p>
<!--more-->

<p></p>

<p>Oh ya, selain menjadi pengajar privat, karena hobi mengotak-atik komputer, saya pun memiliki profesi sebagai penjual komputer. Pelanggan saya adalah rekan-rekan mahasiswa yang membutuhkan komputer namun tidak paham jenis seperti apa yang mereka butuhkan. Usaha ini merupakan kegiatan kecil-kecilan yang menopang perekonomian rumah tangga saya saat itu.</p>

<p>Satu hal yang saya pelajari saat itu adalah ketidakpastian penghasilan karena murid bisa bertambah dan bisa berkurang. Termasuk penjualan kadang lancar kadang tidak. Maka saya belajar merencanakan bagaimana menata sedikit kelebihan penghasilan untuk menutupi kekurangan di periode berikutnya. Hal sebaliknya adalah mengatur penghasilan bulan berjalan yang terbatas agar cukup sampai datangnya penghasilan baru. Salah satu yang harus saya tata saat itu adalah bagaimana agar pada waktunya saya bisa membayar biaya kontrak rumah petak sebesar 120.000 per bulannya.</p>

<p>Menjelang lulus, saya mendapat pekerjaan sebagai instruktur simulasi bisnis yang mengajarkan mahasiswa dan siswa SMU memahami laporan keuangan perusahaan untuk pengambilan keputusan. Tentu saja pendapatan sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Walaupun demikian, saya dan istri berkomitmen agar peningkatan gaya hidup tidak boleh lebih cepat dari pendapatan. Jika memang masih bisa bertahan dengan gaya hidup sebelumnya, maka itulah yang akan dilakukan. Selisihnya bisa untuk <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/">menabung</a> dan membantu anggota keluarga lain yang membutuhkan.</p>

<p>Alhamdulillah cara seperti itu terus saya lakukan sampai sekarang. Dan saya pun masih <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/01/kebiasaan-mencatat-fondasi-dasar-perencanaan-keuangan/">mencatat</a> berapa pengeluaran dan penghasilan dalam rangka merencanakan keuangan keluarga. Kami hampir tidak pernah membeli sesuatu sebelum diberi kemampuan untuk memilikinya. Jika ingin membeli sesuatu yang agak mahal seperti TV misalnya, maka saya akan menyisihkan penghasilan tiap bulan sampai saatnya terkumpul penuh untuk membeli barang yang dibutuhkan secara tunai. Termasuk ketika sudah memiliki kemampuan, perencanaan yang baik akan membuat kita berpikir secara jernih kewajaran antara <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/">keinginan dan kebutuhan</a> yang hendak dipenuhi.</p>

<p>Apa yang saya lakukan sangat terasa manfaatnya. <b>Pertama </b>kita akan lebih mudah bersyukur karena rezeki yang Allah berikan bisa dikelola dengan baik dan selalu cukup guna memenuhi berbagai keperluan. <b>Kedua</b> kita jarang mengeluh karena perencanaan yang baik membuat hidup lebih tertata. <b>Ketiga </b>kita bisa membantu orang lain karena telah berhasil memenuhi kebutuhan keluarga secara wajar dan berbagi dengan orang lain kelebihannya. <b>Keempat </b>kita bisa menghindari hutang yang tidak perlu atau ketergantungan kepada orang lain. <b>Kelima </b>pikiran akan lebih jernih karena tidak disibukkan guna memikirkan hutang yang harus dibayar, atau keinginan berlebih yang ingin dipuaskan sebelum tiba kemampuan memilikinya.</p>

<p>Karena itu saya ingin berbagi kepada Anda semua pembaca blog ini. Jika Anda belum terbiasa membuat <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/12/menyusun-perencanaan-keuangan-tahunan/">perencanaan</a>, lakukanlah mulai dari sekarang. Mumpung usia masih muda, mumpung anak masih kecil, mumpung keperluan hidup masih bisa dikelola. Adalah aneh jika Allah sudah memberikan rezeki yang pantas namun kita masih selalu merasa kekurangan dan tidak cukup karena tidak pernah mengelolanya dengan baik. Kalaupun kita termasuk orang yang mendapat rezeki dunia terbatas, insya Allah kita akan terbantu untuk senantiasa bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada di tangan. Ini akan menjaga kehormatan diri dari bergantung kepada makhluk.</p>

<p>Itulah sekelumit kisah pribadi yang ingin saya bagi kepada Anda semua. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita hamba yang senantiasa ingat bersyukur. Hanya Allah Yang Maha Pemberi Rezeki. Tugas kita untuk mensyukuri serta memanfaatkannya secara baik dan benar.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Anda mengamati blog ini, maka Anda akan menemukan salah satu tema yang banyak saya tuliskan adalah tentang perencanaan keuangan. Mengapa saya tertarik tentang hal tersebut? Dan bagaimana kisahnya sehingga saya bisa berbagi tentang keuangan keluarga kepada Anda? Berikut adalah kisahnya.</p>
<p>Saya lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ketika memasuki kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa lain, saya pun masih menerima kiriman dari orangtua. Uang tersebut harus dimanfaatkan dengan baik agar segala keperluan mulai dari uang kuliah, makan, kost dan lain-lain bisa terpenuhi. Ketika masih mahasiswa, saya juga memutuskan untuk menikah, dan sejak itu resmi saya harus mulai mengelola keuangan sendiri, lepas dari campur tangan orangtua.</p>
<p>Sebagai mahasiswa yang belum lulus, praktis saya hanya bisa bekerja paruh waktu. Karena senang dengan bidang pendidikan dan pengajaran, saya pun menjadi guru les privat. Murid pertama saya kelas IV SD kemudian ditambah dengan murid lainnya di SMP. Penghasilan dari mengajar les ini memang tidak banyak. Sejak itulah saya mulai belajar mengelola keuangan keluarga dengan sebaik-baiknya. Hal ini saya lakukan agar seberapapun penghasilan yang Allah berikan, bisa saya manfaatkan dengan baik, tanpa harus menggantungkan diri kepada orang lain.</p>
<p>Dulu <a href="http://www.muhammadnoer.com/2008/09/perencanaan-keuangan-itu-mudah/">perencanaan keuangan</a> saya masih sangat sederhana. Saya menggunakan Excel untuk memperkirakan berapa kebutuhan saya ke depan dan estimasi penghasilan yang akan diterima. Saya masih ingat betul ketika itu saya dan istri membuat perkiraan berapa uang yang harus dihabiskan untuk membeli beras, lauk pauk dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Waktu itu jatah belanja rumah tangga saya adalah 7.000 rupiah per hari. Artinya, jika ada hari di mana belanja lebih dari nilai tersebut, maka di hari lainnya harus dikurangi. Sedangkan jika kami sekeluarga bisa menahan diri untuk belanja lebih hemat di awal bulan, maka menjelang akhir bulan kelebihan uang belanja bisa ditambahkan untuk membeli makanan yang lebih baik.</p>
<p> <span id="more-1039"></span>
</p>
<p>Oh ya, selain menjadi pengajar privat, karena hobi mengotak-atik komputer, saya pun memiliki profesi sebagai penjual komputer. Pelanggan saya adalah rekan-rekan mahasiswa yang membutuhkan komputer namun tidak paham jenis seperti apa yang mereka butuhkan. Usaha ini merupakan kegiatan kecil-kecilan yang menopang perekonomian rumah tangga saya saat itu.</p>
<p>Satu hal yang saya pelajari saat itu adalah ketidakpastian penghasilan karena murid bisa bertambah dan bisa berkurang. Termasuk penjualan kadang lancar kadang tidak. Maka saya belajar merencanakan bagaimana menata sedikit kelebihan penghasilan untuk menutupi kekurangan di periode berikutnya. Hal sebaliknya adalah mengatur penghasilan bulan berjalan yang terbatas agar cukup sampai datangnya penghasilan baru. Salah satu yang harus saya tata saat itu adalah bagaimana agar pada waktunya saya bisa membayar biaya kontrak rumah petak sebesar 120.000 per bulannya.</p>
<p>Menjelang lulus, saya mendapat pekerjaan sebagai instruktur simulasi bisnis yang mengajarkan mahasiswa dan siswa SMU memahami laporan keuangan perusahaan untuk pengambilan keputusan. Tentu saja pendapatan sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya. Walaupun demikian, saya dan istri berkomitmen agar peningkatan gaya hidup tidak boleh lebih cepat dari pendapatan. Jika memang masih bisa bertahan dengan gaya hidup sebelumnya, maka itulah yang akan dilakukan. Selisihnya bisa untuk <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/">menabung</a> dan membantu anggota keluarga lain yang membutuhkan.</p>
<p>Alhamdulillah cara seperti itu terus saya lakukan sampai sekarang. Dan saya pun masih <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/01/kebiasaan-mencatat-fondasi-dasar-perencanaan-keuangan/">mencatat</a> berapa pengeluaran dan penghasilan dalam rangka merencanakan keuangan keluarga. Kami hampir tidak pernah membeli sesuatu sebelum diberi kemampuan untuk memilikinya. Jika ingin membeli sesuatu yang agak mahal seperti TV misalnya, maka saya akan menyisihkan penghasilan tiap bulan sampai saatnya terkumpul penuh untuk membeli barang yang dibutuhkan secara tunai. Termasuk ketika sudah memiliki kemampuan, perencanaan yang baik akan membuat kita berpikir secara jernih kewajaran antara <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/">keinginan dan kebutuhan</a> yang hendak dipenuhi.</p>
<p>Apa yang saya lakukan sangat terasa manfaatnya. <b>Pertama </b>kita akan lebih mudah bersyukur karena rezeki yang Allah berikan bisa dikelola dengan baik dan selalu cukup guna memenuhi berbagai keperluan. <b>Kedua</b> kita jarang mengeluh karena perencanaan yang baik membuat hidup lebih tertata. <b>Ketiga </b>kita bisa membantu orang lain karena telah berhasil memenuhi kebutuhan keluarga secara wajar dan berbagi dengan orang lain kelebihannya. <b>Keempat </b>kita bisa menghindari hutang yang tidak perlu atau ketergantungan kepada orang lain. <b>Kelima </b>pikiran akan lebih jernih karena tidak disibukkan guna memikirkan hutang yang harus dibayar, atau keinginan berlebih yang ingin dipuaskan sebelum tiba kemampuan memilikinya.</p>
<p>Karena itu saya ingin berbagi kepada Anda semua pembaca blog ini. Jika Anda belum terbiasa membuat <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/12/menyusun-perencanaan-keuangan-tahunan/">perencanaan</a>, lakukanlah mulai dari sekarang. Mumpung usia masih muda, mumpung anak masih kecil, mumpung keperluan hidup masih bisa dikelola. Adalah aneh jika Allah sudah memberikan rezeki yang pantas namun kita masih selalu merasa kekurangan dan tidak cukup karena tidak pernah mengelolanya dengan baik. Kalaupun kita termasuk orang yang mendapat rezeki dunia terbatas, insya Allah kita akan terbantu untuk senantiasa bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada di tangan. Ini akan menjaga kehormatan diri dari bergantung kepada makhluk.</p>
<p>Itulah sekelumit kisah pribadi yang ingin saya bagi kepada Anda semua. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita hamba yang senantiasa ingat bersyukur. Hanya Allah Yang Maha Pemberi Rezeki. Tugas kita untuk mensyukuri serta memanfaatkannya secara baik dan benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/merencanakan-keuangan-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bijaksana Memakai Kartu Kredit</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/bijaksana-memakai-kartu-kredit/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/bijaksana-memakai-kartu-kredit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Kredit; Perencanaan Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2010/04/bijaksana-memakai-kartu-kredit/</guid>
		<description><![CDATA[<blockquote>Apakah Anda memiliki kartu kredit?

Berapa kartu yang Anda miliki?</blockquote>
Dengan semakin mudahnya mendapatkan kartu kredit, tak jarang orang memiliki kartu plastik ini dalam jumlah fantastis. Bisa 4, 5, 6 atau bahkan 10. Kartu kredit ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dia membantu transaksi tanpa perlu mengeluarkan uang tunai, di sisi lain dia mendorong orang untuk konsumtif dan membeli sesuatu di luar kemampuan.

Lantas bagaimana menggunakan kartu kredit secara bijak? Ikuti tips berikut:
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Bayar tagihan tepat waktu</strong></h3>
 

</strong>

Kartu kredit adalah kartu hutang. Karenanya harus dibayar tepat waktu atau hutang itu akan menggunung seiring dengan berjalannya masa. Catat kapan jatuh tempo kartu Anda dan bayar beberapa hari sebelum <em>deadline</em>. Ingat, selisih satu hari akan membuat Anda kena denda keterlambatan, bunga atas belanja, dan berbagai biaya administrasi lainnya.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Bayar tagihan secara full</strong></h3>
 

</strong>

Kartu kredit bukan uang tambahan. Sejatinya dia adalah alat pembayaran. Ketika Anda menggunakan kartu kredit, seharusnya Anda memiliki uang minimal sama dengan limit kartu kredit tersebut. Artinya, Anda tidak membelanjakan uang yang sebenarnya tidak dimiliki. Apa yang Anda lakukan hanya mengganti alat pembayaran dengan kartu sementara ini dan segera melunasinya secara full.

Jangan terkecoh dengan pembayaran 10% dari pemakaian karena ini berarti Anda akan dikenakan bunga untuk sisa yang belum dibayar. Orang yang membayar 10% seperti ini biasanya tidak pernah bisa menyelesaikan hutang kartu kreditnya sebelum mereka melepas aset yang berharga.

<!--more-->
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Belanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan</strong></h3>
 

</strong>

Godaan terbesar orang yang memiliki kartu kredit adalah menggesek di sembarang tempat. Ya, ketika jalan ke mall dan cuti mata, Anda membeli sepatu dan baju baru. Masuk ke restoran cukup membayar dengan sebuah gesekan. Saat itu mungkin Anda kelihatan keren dan meyakinkan. Tapi sadarilah kemampuan keuangan Anda. Beli hanya yang Anda butuhkan, bukan apa yang Anda inginkan. Tak ada gunanya menuruti gengsi jika Anda sengsara kemudian.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Jangan pernah mengambil uang tunai</strong></h3>
 

</strong>

Salah satu alasan orang memiliki kartu kredit adalah untuk <strong>“berjaga-jaga”</strong> jika ada kebutuhan mendesak. Karena itu ketika merasa perlu uang tunai tinggal gesek atau masuk ke ATM dan dana pun diterima. Sepintas alasan ini benar dan masuk di akal. Padahal, jika Anda ingin mempersiapkan dana darurat, maka menabunglah. Jika Anda menganggap limit kartu kredit sebagai dana berjaga-jaga, maka menabunglah sejumlah uang yang sama dan itulah dana berjaga-jaga sesungguhnya.

Mengambil uang tunai lewat kartu kredit akan berbiaya besar di mana perhitungan bunga telah dimulai sejak uang Anda terima. Tidak hanya itu, setiap transaksi juga dikenakan biaya yang lumayan besar. Tidak percaya? Coba cek ke penerbit kartu kredit Anda.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Gunakan untuk membayar tagihan rutin</strong></h3>
 

</strong>

Salah satu manfaat kartu kredit adalah dapat digunakan untuk membayar tagihan rutin di satu tempat. Ya, Anda bisa membayar tagihan listrik, telepon, internet dan lain-lain dibebankan ke satu sumber. Dan ketika tiba saatnya melunasi, Anda cukup membayar di satu tempat dan selesai. Ini sangat praktis dan membantu terutama buat Anda yang suka lupa kapan jatuh tempo pembayaran untuk setiap tagihan rekening rutin.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Gunakan kartu kredit dari Bank yang sama dengan tabungan Anda</strong></h3>
 

</strong>

Jika Anda memiliki kartu kredit, pastikan dikeluarkan bank yang sama dengan tempat Anda menabung. Beberapa bank mengeluarkan kartu kredit yang bebas iuran tahunan selamanya buat nasabah mereka. Tidak hanya itu, dengan bank yang sama Anda akan bisa membayar tagihan secara otomatis dari rekening tabungan, tanpa dikenakan biaya transfer tambahan.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Hati-hati dengan transaksi online</strong></h3>
 

</strong>

Kehebatan kartu kredit adalah bisa digunakan untuk transaksi online hampir di semua <em>merchant.</em> Ini tidak bisa dilakukan oleh kartu debit. Bahkan beberapa retailer hanya mau menerima kartu kredit dan tidak menerima pembayaran alternatif seperti <strong><em>Paypal</em></strong> sekalipun.

Walaupun demikian, harap berhati-hati ketika bertransaksi. Pastikan merchant tersebut terpercaya sebelum Anda membayar dengan kartu kredit. Biasanya di setiap website pembayaran ada logo verifikasi yang bisa dicek terlebih dahulu keabsahannya.

Ketika bertransaksi online sedapat mungkin gunakan layanan yang membuat Anda tidak perlu memasukkan langsung data kartu kredit ke sebuah website. Anda bisa bertransaksi dengan Paypal, Google Checkout atau sejenisnya. Gunakan alat pembayaran tersebut lebih dahulu karena relatif lebih aman dan ada proteksi. Jika tidak ada jalan lain, baru gunakan kartu kredit Anda.

Hati-hati, jangan pernah memasukkan nomor kartu di komputer umum yang dipakai bersama. Setiap komputer akan menyimpan data tersebut secara temporer tanpa Anda sadari sehingga bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak berkepentingan dan berniat jahat.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3>Miliki kartu dalam jumlah dan limit secukupnya</h3>
 

</strong>

Karena kartu kredit adalah kartu hutang, maka miliki secukupnya. Malu kalau terlalu banyak. Saya sendiri punya tiga. Dua milik pribadi mewakili vendor berbeda, sedangkan satu milik perusahaan yang diberikan kepada saya. Saya memerlukan dua karena kebutuhan transaksi online di mana kadang vendor yang satu tidak berhasil di verifikasi sedangkan vendor lainnya bisa.

Pastikan pula limit kartu kredit Anda secukupnya. Gunakan prinsip besarnya total limit kartu yang Anda miliki minimal setara dengan uang tunai yang Anda miliki. Itu artinya seandainya seluruh limit kartu telah terpakai, Anda sebenarnya memiliki kemampuan melunasinya dengan uang tunai tadi.

Jangan memiliki kartu dengan limit berlebihan dan di luar kemampuan keuangan Anda. Sering terjadi orang terlilit hutang kartu kredit yang parah karena terlena dengan limit tersebut dan tidak punya kemampuan membayar.

Alhasil setiap bulan kerjanya hanya membayar cicilan hutang yang mungkin kenikmatannya telah hilang bertahun-tahun lalu sementara sengsaranya terus dirasakan hari ini dan seterusnya.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Jika terlilit hutang, negosiasikan dengan bank</strong></h3>
 

</strong>

Banyak kasus orang terlilit hutang kartu kredit dan menjadi stress karena terus dikejar-kejar <em>debt collector.</em> Ingat, bank dan penerbit sangat mudah memberikan kartu kepada Anda. Namun ketika Anda mangkir dari pembayaran, mereka juga sangat aktif menagihnya. Jika sudah terlanjur hutang melilit bagai benang kusut, segera negosiasikan dengan bank. Minta untuk membekukan saldo hutang Anda dan buat komitmen pelunasannya. Kalau perlu jual aset yang Anda miliki. Bunga kartu kredit termasuk beban pinjaman termahal sedunia. Dengan bunga 3% sebulan maka Anda membayar beban sekitar 36% setahun. Karena itu jika terlanjur terkena hutang ini, mau tidak mau korbankan aset yang Anda miliki karena jauh lebih menguntungkan ketimbang mempertahankannya. Kecuali jika aset Anda bisa menghasilkan <em>return</em> yang lebih besar dari 36% setahun.

Seandainya Anda terlilit hutang beberapa kartu kredit sekaligus, maka lunasi satu persatu. Beberapa perencana keuangan menyarankan lunasi dari yang kecil sehingga pelan-pelan saldo hutang Anda terkonsentrasi di satu tempat dan Anda bisa fokus menyelesaikannya.
<div><strong> </strong></div>
<strong>
<h3><strong>Jika tidak mampu, lupakan keinginan memiliki kartu kredit</strong></h3>
 

</strong>

Tidak semua orang perlu kartu kredit. Jika Anda tidak mampu, buang jauh-jauh keinginan memiliki kartu kredit. Akan lebih banyak mudaratnya jika Anda memiliki sesuatu di luar kemampuan. Sekali lagi Anda harus paham bahwa fungsi dasar kartu kredit adalah sebagai alat tukar pembayaran. Bukan uang tambahan atau dana darurat.

Jika memang penghasilan Anda belum memadai, maka memanfaatkan apa yang ada di tangan akan jauh lebih terhormat ketimbang berhutang kartu plastik yang membuat jatuh harga diri Anda.

Semoga tips di atas membantu Anda menjadi pengguna kartu kredit yang cerdas. Manfaatkan kemudahan dari kartu kredit, jangan mau dikenakan bunga dan dendanya.

Selamat bertransaksi dengan bijak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Apakah Anda memiliki kartu kredit?</p>
<p>Berapa kartu yang Anda miliki?</p></blockquote>
<p>Dengan semakin mudahnya mendapatkan kartu kredit, tak jarang orang memiliki kartu plastik ini dalam jumlah fantastis. Bisa 4, 5, 6 atau bahkan 10. Kartu kredit ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi dia membantu transaksi tanpa perlu mengeluarkan uang tunai, di sisi lain dia mendorong orang untuk konsumtif dan membeli sesuatu di luar kemampuan.</p>
<p>Lantas bagaimana menggunakan kartu kredit secara bijak? Ikuti tips berikut:</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Bayar tagihan tepat waktu</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Kartu kredit adalah kartu hutang. Karenanya harus dibayar tepat waktu atau hutang itu akan menggunung seiring dengan berjalannya masa. Catat kapan jatuh tempo kartu Anda dan bayar beberapa hari sebelum <em>deadline</em>. Ingat, selisih satu hari akan membuat Anda kena denda keterlambatan, bunga atas belanja, dan berbagai biaya administrasi lainnya.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Bayar tagihan secara full</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Kartu kredit bukan uang tambahan. Sejatinya dia adalah alat pembayaran. Ketika Anda menggunakan kartu kredit, seharusnya Anda memiliki uang minimal sama dengan limit kartu kredit tersebut. Artinya, Anda tidak membelanjakan uang yang sebenarnya tidak dimiliki. Apa yang Anda lakukan hanya mengganti alat pembayaran dengan kartu sementara ini dan segera melunasinya secara full.</p>
<p>Jangan terkecoh dengan pembayaran 10% dari pemakaian karena ini berarti Anda akan dikenakan bunga untuk sisa yang belum dibayar. Orang yang membayar 10% seperti ini biasanya tidak pernah bisa menyelesaikan hutang kartu kreditnya sebelum mereka melepas aset yang berharga.</p>
<p><span id="more-1034"></span></p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Belanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Godaan terbesar orang yang memiliki kartu kredit adalah menggesek di sembarang tempat. Ya, ketika jalan ke mall dan cuti mata, Anda membeli sepatu dan baju baru. Masuk ke restoran cukup membayar dengan sebuah gesekan. Saat itu mungkin Anda kelihatan keren dan meyakinkan. Tapi sadarilah kemampuan keuangan Anda. Beli hanya yang Anda butuhkan, bukan apa yang Anda inginkan. Tak ada gunanya menuruti gengsi jika Anda sengsara kemudian.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Jangan pernah mengambil uang tunai</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Salah satu alasan orang memiliki kartu kredit adalah untuk <strong>“berjaga-jaga”</strong> jika ada kebutuhan mendesak. Karena itu ketika merasa perlu uang tunai tinggal gesek atau masuk ke ATM dan dana pun diterima. Sepintas alasan ini benar dan masuk di akal. Padahal, jika Anda ingin mempersiapkan dana darurat, maka menabunglah. Jika Anda menganggap limit kartu kredit sebagai dana berjaga-jaga, maka menabunglah sejumlah uang yang sama dan itulah dana berjaga-jaga sesungguhnya.</p>
<p>Mengambil uang tunai lewat kartu kredit akan berbiaya besar di mana perhitungan bunga telah dimulai sejak uang Anda terima. Tidak hanya itu, setiap transaksi juga dikenakan biaya yang lumayan besar. Tidak percaya? Coba cek ke penerbit kartu kredit Anda.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Gunakan untuk membayar tagihan rutin</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Salah satu manfaat kartu kredit adalah dapat digunakan untuk membayar tagihan rutin di satu tempat. Ya, Anda bisa membayar tagihan listrik, telepon, internet dan lain-lain dibebankan ke satu sumber. Dan ketika tiba saatnya melunasi, Anda cukup membayar di satu tempat dan selesai. Ini sangat praktis dan membantu terutama buat Anda yang suka lupa kapan jatuh tempo pembayaran untuk setiap tagihan rekening rutin.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Gunakan kartu kredit dari Bank yang sama dengan tabungan Anda</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Jika Anda memiliki kartu kredit, pastikan dikeluarkan bank yang sama dengan tempat Anda menabung. Beberapa bank mengeluarkan kartu kredit yang bebas iuran tahunan selamanya buat nasabah mereka. Tidak hanya itu, dengan bank yang sama Anda akan bisa membayar tagihan secara otomatis dari rekening tabungan, tanpa dikenakan biaya transfer tambahan.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Hati-hati dengan transaksi online</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Kehebatan kartu kredit adalah bisa digunakan untuk transaksi online hampir di semua <em>merchant.</em> Ini tidak bisa dilakukan oleh kartu debit. Bahkan beberapa retailer hanya mau menerima kartu kredit dan tidak menerima pembayaran alternatif seperti <strong><em>Paypal</em></strong> sekalipun.</p>
<p>Walaupun demikian, harap berhati-hati ketika bertransaksi. Pastikan merchant tersebut terpercaya sebelum Anda membayar dengan kartu kredit. Biasanya di setiap website pembayaran ada logo verifikasi yang bisa dicek terlebih dahulu keabsahannya.</p>
<p>Ketika bertransaksi online sedapat mungkin gunakan layanan yang membuat Anda tidak perlu memasukkan langsung data kartu kredit ke sebuah website. Anda bisa bertransaksi dengan Paypal, Google Checkout atau sejenisnya. Gunakan alat pembayaran tersebut lebih dahulu karena relatif lebih aman dan ada proteksi. Jika tidak ada jalan lain, baru gunakan kartu kredit Anda.</p>
<p>Hati-hati, jangan pernah memasukkan nomor kartu di komputer umum yang dipakai bersama. Setiap komputer akan menyimpan data tersebut secara temporer tanpa Anda sadari sehingga bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak berkepentingan dan berniat jahat.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3>Miliki kartu dalam jumlah dan limit secukupnya</h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Karena kartu kredit adalah kartu hutang, maka miliki secukupnya. Malu kalau terlalu banyak. Saya sendiri punya tiga. Dua milik pribadi mewakili vendor berbeda, sedangkan satu milik perusahaan yang diberikan kepada saya. Saya memerlukan dua karena kebutuhan transaksi online di mana kadang vendor yang satu tidak berhasil di verifikasi sedangkan vendor lainnya bisa.</p>
<p>Pastikan pula limit kartu kredit Anda secukupnya. Gunakan prinsip besarnya total limit kartu yang Anda miliki minimal setara dengan uang tunai yang Anda miliki. Itu artinya seandainya seluruh limit kartu telah terpakai, Anda sebenarnya memiliki kemampuan melunasinya dengan uang tunai tadi.</p>
<p>Jangan memiliki kartu dengan limit berlebihan dan di luar kemampuan keuangan Anda. Sering terjadi orang terlilit hutang kartu kredit yang parah karena terlena dengan limit tersebut dan tidak punya kemampuan membayar.</p>
<p>Alhasil setiap bulan kerjanya hanya membayar cicilan hutang yang mungkin kenikmatannya telah hilang bertahun-tahun lalu sementara sengsaranya terus dirasakan hari ini dan seterusnya.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Jika terlilit hutang, negosiasikan dengan bank</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Banyak kasus orang terlilit hutang kartu kredit dan menjadi stress karena terus dikejar-kejar <em>debt collector.</em> Ingat, bank dan penerbit sangat mudah memberikan kartu kepada Anda. Namun ketika Anda mangkir dari pembayaran, mereka juga sangat aktif menagihnya. Jika sudah terlanjur hutang melilit bagai benang kusut, segera negosiasikan dengan bank. Minta untuk membekukan saldo hutang Anda dan buat komitmen pelunasannya. Kalau perlu jual aset yang Anda miliki. Bunga kartu kredit termasuk beban pinjaman termahal sedunia. Dengan bunga 3% sebulan maka Anda membayar beban sekitar 36% setahun. Karena itu jika terlanjur terkena hutang ini, mau tidak mau korbankan aset yang Anda miliki karena jauh lebih menguntungkan ketimbang mempertahankannya. Kecuali jika aset Anda bisa menghasilkan <em>return</em> yang lebih besar dari 36% setahun.</p>
<p>Seandainya Anda terlilit hutang beberapa kartu kredit sekaligus, maka lunasi satu persatu. Beberapa perencana keuangan menyarankan lunasi dari yang kecil sehingga pelan-pelan saldo hutang Anda terkonsentrasi di satu tempat dan Anda bisa fokus menyelesaikannya.</p>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong></p>
<h3><strong>Jika tidak mampu, lupakan keinginan memiliki kartu kredit</strong></h3>
<p> </p>
<p></strong></p>
<p>Tidak semua orang perlu kartu kredit. Jika Anda tidak mampu, buang jauh-jauh keinginan memiliki kartu kredit. Akan lebih banyak mudaratnya jika Anda memiliki sesuatu di luar kemampuan. Sekali lagi Anda harus paham bahwa fungsi dasar kartu kredit adalah sebagai alat tukar pembayaran. Bukan uang tambahan atau dana darurat.</p>
<p>Jika memang penghasilan Anda belum memadai, maka memanfaatkan apa yang ada di tangan akan jauh lebih terhormat ketimbang berhutang kartu plastik yang membuat jatuh harga diri Anda.</p>
<p>Semoga tips di atas membantu Anda menjadi pengguna kartu kredit yang cerdas. Manfaatkan kemudahan dari kartu kredit, jangan mau dikenakan bunga dan dendanya.</p>
<p>Selamat bertransaksi dengan bijak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/bijaksana-memakai-kartu-kredit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyusun Perencanaan Keuangan Tahunan</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/12/menyusun-perencanaan-keuangan-tahunan/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/12/menyusun-perencanaan-keuangan-tahunan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 00:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Akhir Tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=869</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun adalah saat yang tepat untuk melakukan evaluasi atas rencana keuangan keluarga Anda. Evaluasi membantu melihat rencana yang sudah berjalan dengan baik dan mana yang belum berjalan dan apa penyebabnya. 

Jika Anda telah melakukan pemeriksaan keuangan akhir tahun, maka sekarang saatnya mempersiapkan rencana keuangan Anda untuk tahun depan. Apa saja yang harus dipersiapkan? Berikut daftar periksa yang bisa digunakan:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/12/rupiah.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="rupiah" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/12/rupiah_thumb.jpg" border="0" alt="rupiah" width="500" height="333" /></a></p>
<p>Akhir tahun adalah saat yang tepat untuk melakukan <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/12/evaluasi-keuangan-keluarga-akhir-tahun/" target="_blank">evaluasi</a> atas rencana keuangan keluarga Anda. Evaluasi membantu melihat rencana yang sudah berjalan dengan baik dan mana yang belum berjalan dan apa penyebabnya.</p>
<p>Jika Anda telah melakukan pemeriksaan keuangan akhir tahun, maka sekarang saatnya mempersiapkan rencana keuangan Anda untuk tahun depan. Apa saja yang harus dipersiapkan? Berikut daftar periksa yang bisa digunakan:</p>
<h3>Apa saja prioritas pengeluaran di tahun depan?</h3>
<p>Mungkin Anda punya rencana dan prioritas khusus untuk tahun depan seperti: mempersiapkan uang muka pembelian rumah, persiapan biaya kuliah S2, dan seterusnya.</p>
<h3>Adakah biaya-biaya khusus yang akan dikeluarkan tahun depan?</h3>
<p>Rencanakan biaya khusus yang akan dikeluarkan seperti: uang pangkal masuk sekolah anak pertama pada bulan Juni, membantu biaya pernikahan adik bulan September, dan lain-lain.</p>
<p><span id="more-869"></span></p>
<h3>Apa saja pembayaran yang akan jatuh tempo tahun depan?</h3>
<div class="float-quote alignright">
<p>Seringkali orang lupa membuat budget untuk pengeluaran yang sifatnya tahunan</p>
</div>
<p>Seringkali orang lupa membuat <strong><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/02/menyusun-budget-keuangan-keluarga/" target="_blank">budget untuk pengeluaran yang sifatnya tahunan</a></strong> seperti: pembayaran pajak kendaraan di bulan Agustus, pembayaran kontrak rumah di bulan Mei, atau membayar biaya kuliah di bulan Januari. Dengan mengidentifikasi pengeluaran tahunan akan membantu kita membuat buget bulanan. Pada saat pengeluaran tersebut jatuh tempo tidak akan mengganggu belanja rutin bulanan.</p>
<h3>Berapa estimasi pemasukan dan pengeluaran rutin bulanan?</h3>
<p>Melakukan estimasi ini berguna untuk melihat berapa banyak selisih antara pemasukan dan pengeluaran. Selisih tersebut sebagian untuk ditabung, dan sebagian direncanakan untuk pembayaran tahunan atau pengeluaran khusus.</p>
<h3>Berapa estimasi pemasukan tambahan yang mungkin didapatkan dalam periode setahun ke depan?</h3>
<p>Jika Anda bekerja sebagai karyawan, mungkin ada bonus tahunan dan tunjangan khusus. Atau jika Anda berwirausaha maka disini dapat diperkirakan berapa pendapatan khusus di lainnya di luar yang rutin. Dengan demikian, Anda bisa merencanakan penggunaannya jauh-jauh hari. Ingatlah ketika tidak direncanakan biasanya akan segera habis pada saat pemasukan tambahan tersebut didapat.</p>
<h3>Berapa rencana tabungan yang dipersiapkan?</h3>
<p>Dari perhitungan pemasukan dan pengeluaran rutin, tentukan <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/" target="_blank">tabungan rutin</a> untuk dana cadangan maupun persiapan hari depan.</p>
<h3>Adakah uang yang harus dipersiapkan untuk tujuan keuangan jangka panjang yang memerlukan dana besar?</h3>
<p>Terakhir adalah melihat tujuan keuangan jangka panjang misalnya Anda ingin menunaikan ibadah haji bersama keluarga, membangun usaha dalam 10 tahun ke depan, dan seterusnya.</p>
<p>Jika Anda telah selesai dengan daftar periksa di atas, tugas selanjutnya adalah menyusun rencana tersebut dalam <strong><em><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/02/menyusun-budget-keuangan-keluarga/">budget bulanan</a></em></strong>. Silakan simak tulisan berjudul <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/02/menyusun-budget-keuangan-keluarga/">“Menyusun Budget Keuangan Keluarga”</a>.</p>
<p>Ternyata, membuat <strong><a href="http://www.muhammadnoer.com/2008/09/perencanaan-keuangan-itu-mudah/">perencanaan keuangan itu mudah</a></strong> khan? Semuanya dimulai dari <strong><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/01/kebiasaan-mencatat-fondasi-dasar-perencanaan-keuangan/" target="_blank">kebiasaan Anda mencatat.</a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Photo Credit: </strong><a href="http://www.flickr.com/photos/qronoz/3300892638/" target="_blank">qronoz</a> under Creative Common License</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/12/menyusun-perencanaan-keuangan-tahunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengevaluasi Keuangan Keluarga Akhir Tahun</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/12/evaluasi-keuangan-keluarga-akhir-tahun/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/12/evaluasi-keuangan-keluarga-akhir-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan; Financial Planning; Evaluasi Keuangan; Akhir Tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/12/mengevaluasi-keuangan-keluarga-akhir-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun adalah waktunya mengevaluasi kembali keuangan keluarga. Apa yang sudah berjalan sesuai dengan rencana dan apa yang belum. Kita juga perlu mengidentifikasi problem-problem yang terjadi di tahun berjalan agar dapat diperbaiki pada tahun berikutnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 334px"><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/12/nomoney.jpg"><img style="border: 0pt none; margin: 0px 10px 10px 0px; display: inline;" title="no-money" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/12/nomoney_thumb.jpg" border="0" alt="no-money" width="324" height="231" align="left" /></a><p class="wp-caption-text">Photo Credit: Jeff Keen</p></div>
<p>Menjelang akhir tahun adalah saat yang baik untuk untuk melihat kembali kondisi keuangan keluarga Anda. Coba perhatikan sepanjang tahun ini pos mana yang <strong><em>over budget</em></strong>, rencana yang tidak bisa dicapai karena kurang tertib dalam mengelola <a href="http://www.muhammadnoer.com/2008/09/perencanaan-keuangan-itu-mudah/" target="_blank">keuangan keluarga</a>, atau hal-hal penting yang tertunda atau terabaikan oleh hal-hal yang kurang penting.</p>
<p>Melakukan evaluasi ini membantu melihat apa yang sudah baik dan apa yang belum dari perencanaan keuangan yang Anda jalankan. Berikut daftar periksa yang bisa Anda pakai:</p>
<ul>
<li><strong>Over Budget<br />
</strong>Cek dalam setiap bulan berapa kali <strong><em>pengeluaran lebih besar daripada pemasukan</em></strong> (over budget). Ini suatu sinyal yang harus dicermati sebelum menjadi akut. Apalagi jika Anda tidak memiliki dana cadangan untuk berjaga-jaga.</li>
<li><strong></strong></li>
<li><strong>Kebutuhan Utama</strong><br />
Perhatikan apakah Anda bisa <strong><em>memenuhi kebutuhan utama keluarga dengan baik:</em></strong> belanja rutin rumah tangga, pendidikan, transportasi utama. Hal ini untuk melihat apakah Anda sudah mendahulukan pengeluaran yang utama di atas pengeluaran yang lain.</li>
</ul>
<p><span id="more-856"></span></p>
<ul>
<li><strong>Kewajiban Tahunan</strong><br />
Amati apakah Anda bisa membayar <strong><em>kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo setahun sekali tanpa harus berhutang</em></strong> atau menggunakan dana khusus di luar perencanaan. Pengeluaran seperti kontrak rumah, pembayaran pajak kendaraan, pembayaran uang kuliah dan lain-lain kadang ketinggalan dalam perencanaan awal tahun. Ini menunjukkan sejauh mana Anda mengantisipasi pengeluaran yang berulang tahunan dan memasukkannya ke dalam perencanaan keuangan keluarga.</li>
<li><strong></strong></li>
<li><strong>Kejadian Tidak Terduga</strong><br />
Lihat apakah Anda bisa <strong><em>menghadapi kejadian-kejadian tidak terduga</em></strong> dan memiliki dana yang dicadangkan untuk itu misal: keluarga yang tiba-tiba butuh bantuan, kejadian khusus yang mengharuskan Anda mengeluarkan dana dalam jumlah besar dan tidak bisa ditunda.</li>
<li><strong></strong></li>
<li><strong>Barang Yang Dibeli</strong><br />
Perhatikan barang-barang yang Anda beli tahun ini apakah sudah <strong><em><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/" target="_blank">sesuai keperluan atau hanya keinginan</a></em></strong> meskipun Anda tidak terlalu memerlukannya. Ini untuk memeriksa apakah Anda telah mengutamakan hal-hal penting (kebutuhan) sebelum memenuhi keinginan yang tidak ada habisnya jika dituruti.</li>
<li><strong></strong></li>
<li><strong>Hutang</strong><br />
Adakah hutang baru yang diambil tahun ini? Untuk keperluan apa? Apakah untuk sesuatu yang produktif atau tidak? Berapa besar cicilan yang sudah dibayar dan bagaimana kemampuan Anda melunasinya? Ini juga hal yang paling penting karena hutang yang tidak terkontrol sering membuat kepala pusing tujuh keliling. Pendapatan yang besar sekalipun tidak menjamin seseorang bebas dari beban hutang yang melilit. Jadi <strong><em><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/hitung-sebelum-berhutang/" target="_blank">rencanakanlah dengan baik sebelum mengambil hutang baru dan pikirkan cara melunasinya</a></em></strong> nanti. Jadilah penghutang yang bertanggung jawab.</li>
</ul>
<p>Dari cek list di atas kita bisa menyimpulkan seberapa efektif dan konsisten perencanaan keuangan keluarga yang ditetapkan di awal tahun. Lakukan evaluasi apa yang sudah baik Anda lakukan dan apa yang perlu diperbaiki.</p>
<p>Jadi, jangan lupa periksa kondisi keuangan akhir tahun Anda dan <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/02/menyusun-budget-keuangan-keluarga/" target="_blank">persiapkan rencana yang baik untuk tahun depan.</a></p>
<p>Selamat melakukan evaluasi.</p>
<p>Photo credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/spiderpop/">Jeff Keen</a></p>
<p><a href="http://www.flickr.com/photos/spiderpop/569252366/">http://www.flickr.com/photos/spiderpop/569252366/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/12/evaluasi-keuangan-keluarga-akhir-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Dana THR (Tunjangan Hari Raya)</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/08/mengelola-dana-thr-tunjangan-hari-raya/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/08/mengelola-dana-thr-tunjangan-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Mengelola THR]]></category>
		<category><![CDATA[THR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/08/mengelola-dana-thr-tunjangan-hari-raya/</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki bulan puasa, para karyawan pun bersiap-siap menerima THR dari tempat bekerja. Ada yang mendapatkan 1 bulan gaji, ada pula yang lebih atau kurang. Berapapun jumlahnya, yang pasti wajib disyukuri karena masih banyak orang yang tidak mendapatkannya.

Berhubung sudah lama saya tidak menulis tentang perencanaan keuangan, maka tulisan berikut akan membahas tema tersebut dengan fokus pada pengelolaan dana THR. Banyak orang yang gembira mendapatkan THR namun kemudian bingung mengapa uang tersebut cepat sekali habis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Photo Credit by Tiltti under Creative Commons License" href="http://farm4.static.flickr.com/3082/3130144555_2edaa0eaaf_o.jpg" target="_blank"><img style="display: inline; margin: 0px 10px 10px 0px;" title="Photo Credit by Tiltti under Creative Commons License" src="http://farm4.static.flickr.com/3082/3130144555_2edaa0eaaf_o.jpg" alt="Photo Credit by Tiltti under Creative Commons License" width="238" height="358" align="left" /></a></p>
<p>Memasuki bulan puasa, para karyawan pun bersiap-siap menerima THR dari tempat bekerja. Ada yang mendapatkan satu bulan gaji, ada pula yang lebih atau kurang. Berapapun jumlahnya, yang pasti wajib disyukuri karena masih banyak orang yang tidak mendapatkannya.</p>
<p>Berhubung sudah lama saya tidak menulis tentang perencanaan keuangan, maka tulisan berikut akan membahas tema tersebut dengan fokus pada pengelolaan dana THR. Banyak orang yang gembira mendapatkan THR namun kemudian bingung mengapa uang tersebut cepat sekali habis.</p>
<p>Berikut beberapa tips untuk mengelola THR Anda dengan baik:</p>
<ul>
<li><strong>Hitung dan keluarkan zakat<br />
</strong>Jangan lupa THR merupakan tambahan penghasilan tahunan Anda. Jika sudah sampai nisabnya, hitung dan keluarkanlah zakatnya. Jika Anda terbiasa mengeluarkan zakat per bulan, maka zakat bulan ini harusnya lebih besar karena ada tambahan THR. Jika Anda mengeluarkan zakat secara tahunan, jangan lupa menghitung dana THR ini dan segala tambahan penghasilan lainnya untuk perhitungan zakat.</li>
<li><strong>Lunasi hutang<br />
</strong>Ini merupakan bagian penting. Kewajiban seorang yang berhutang adalah segera melunasinya ketika ia mampu. Dengan adanya tambahan penghasilan dari THR, maka keuangan Anda akan sedikit lebih longgar. Manfaatkan untuk melunasi hutang-hutang jika Anda memilikinya. Ingat, jika ketika mendapat tambahan penghasilan Anda tidak bisa membayar hutang, maka akan lebih sulit untuk membayarnya hanya mengandalkan penghasilan reguler.</li>
</ul>
<p><span id="more-756"></span></p>
<ul>
<li><strong>Tabung sebagian<br />
</strong>Karena THR merupakan tambahan penghasilan di luar pendapatan reguler Anda, maka seharusnya bisa ditabung sebagian. Jika tidak tentu Anda perlu bertanya, kemana perginya THR tersebut?</li>
<li><strong>Buat rencana pengeluaran<br />
</strong>Menjelang hari Raya biasanya pengeluaran akan meningkat. Mungkin Anda perlu untuk biaya mudik, membantu sanak keluarga, membeli oleh-oleh, dan segala pengeluaran lainnya. Hitung dan rencanakan pengeluaran tersebut. Pastikan jumlahnya tidak lebih dari THR yang Anda dapatkan. Sebab jika tidak, maka Anda harus mengorbankan pos rutin yang Anda miliki. Hal ini tentu akan memberatkan kecuali jika Anda telah menabung sebelumnya untuk membiayai tambahan pengeluaran ini.<br />
Membuat perencanaan pengeluaran ini sangat penting agar Anda tidak terlena dan merasa THR Anda cukup. Seringkali orang tidak sadar bahwa pengeluaran pada periode tersebut melonjak sangat besar sehingga THR saja tidak cukup dan masih harus mengganggu pos-pos reguler lainnya.</li>
<li><strong>Bedakan antara keinginan, kebutuhan, dan kemampuan<br />
</strong>Menjelang hari Raya, maka berbagai pos pengeluaran akan menanti. Bedakan mana diantara pos-pos tersebut yang merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, keinginan sesaat yang bisa dikelola, dan seberapa besar kemampuan Anda untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan tadi. Jangan besar pasak dari tiang. Sadari kemampuan Anda dan aturlah pengeluaran sesuai kemampuan dan kebutuhan. Segala keinginan bisa diakomodir jika kebutuhan sudah terpenuhi.</li>
</ul>
<p>Pada dasarnya dana THR, bonus ataupun tunjangan lain yang sifatnya tahunan dapat dikategorikan sebagai penghasilan tambahan. Dengan demikian, jika Anda telah teratur melakukan perencanaan keuangan mengandalkan penghasilan rutin, maka dana tambahan ini sangat mungkin untuk menambah tabungan.</p>
<p>Artinya, kebutuhan akan pengeluaran menjelang hari Raya bisa direncanakan jauh-jauh hari menggunakan penghasilan reguler Anda. Dengan demikian, ketika tiba hari mendapatkan THR, Anda bisa memanfaatkan secara utuh untuk hal-hal yang produktif tanpa harus diganggu oleh pos-pos pengeluaran hari Raya karena sudah dipersiapkan sebelumnya.</p>
<p>Bagaimana melakukannya akan saya ulas dalam tulisan selanjutnya.</p>
<p>Photo Credit by <a href="http://www.flickr.com/photos/tiltti/3130144555/" target="_blank">Tiltti</a> under <a href="http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/" target="_blank">Creative Commons License</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/08/mengelola-dana-thr-tunjangan-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hitung Dahulu Sebelum Berhutang</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/hitung-sebelum-berhutang/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/hitung-sebelum-berhutang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 00:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Menghitung Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Simulasi Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Simulasi Kredit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan keuangan keluarga, peranan hutang sulit dilepaskan. Bayangkan betapa sulitnya seseorang untuk bisa memiliki rumah, kendaraan atau barang aset lainnya jika tidak ada sumber hutang. Hutang juga diperlukan untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak, ketika ditimpa kesulitan dan keperluan lainnya.

Walaupun demikian, tindakan berhutang juga memerlukan tanggung jawab dan perhitungan yang cermat agar Anda tidak menyesal di kemudian hari. Jangan sampai Anda berhutang demi menyelesaikan persoalan sesaat dan menciptakan persoalan baru yang panjang dan melelahkan di masa mendatang. Tulisan berikut akan membahas bagaimana berhutang secara bertanggung jawab dan memperkirakan kemampuan Anda untuk melunasinya berdasarkan waktu yang telah ditentukan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/simulasikredit.jpg" target="_blank"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-left: 0px; margin-right: 0px; border-bottom: 0px" title="Simulasi Kredit" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/simulasikredit-thumb.jpg" border="0" alt="Simulasi Kredit" width="244" height="162" align="left" /></a> Dalam kehidupan keuangan keluarga, peranan hutang sulit dilepaskan. Bayangkan betapa sulitnya seseorang untuk bisa memiliki rumah, kendaraan atau barang aset lainnya jika tidak ada sumber hutang. Hutang juga diperlukan untuk kebutuhan yang sifatnya mendadak, ketika ditimpa kesulitan dan keperluan lainnya.</p>
<p>Walaupun demikian, tindakan berhutang juga memerlukan tanggung jawab dan perhitungan yang cermat agar Anda tidak menyesal di kemudian hari. Jangan sampai Anda berhutang demi menyelesaikan persoalan sesaat dan menciptakan persoalan baru yang panjang dan melelahkan di masa mendatang. Tulisan berikut akan membahas bagaimana berhutang secara bertanggung jawab dan memperkirakan kemampuan Anda untuk melunasinya berdasarkan waktu yang telah ditentukan.</p>
<h3><strong>Hutang Adalah Kewajiban</strong></h3>
<p>Prinsip utama hutang adalah Anda mendapat pinjaman sejumlah dana dan berkewajiban melunasinya dalam jangka waktu tertentu. Dalam agama, adalah kewajiban dan keutamaan bagi orang yang memiliki kelebihan untuk membantu atau memberi hutang kepada yang memerlukan. Di sisi lain adalah suatu kewajiban pula bagi seseorang yang berhutang untuk segera melunasinya ketika sudah memiliki kemampuan. Bagaimanapun juga orang yang memberikan hutang berhak untuk mendapat pengembalian dalam jumlah yang penuh dan tepat waktu.</p>
<h3><strong>Hutang Baik dan Hutang Buruk</strong></h3>
<p>Dalam Perencanaan Keuangan, dikenal adanya Hutang Baik dan Hutang Buruk. Hutang Baik adalah berhutang untuk membeli barang produktif yang dapat digunakan untuk memberikan penghasilan. Misalkan membeli mobil untuk dipakai usaha, membeli toko untuk berdagang dan lainnya. Hutang yang masih tergolong baik adalah membeli barang aset yang nilainya cenderung terus meningkat dan lebih cepat dari biaya hutang itu sendiri. Misalnya dalam kasus yang paling lazim adalah membeli rumah.</p>
<p>Adapun Hutang Buruk adalah berhutang untuk konsumsi, apalagi yang sebenarnya bukan kebutuhan Anda dan membawa konsekuensi yang besar di masa mendatang. Termasuk di dalamnya penggunaan kartu kredit secara berlebihan untuk berbelanja tanpa memperhitungkan kemampuan membayar.</p>
<p>Namun adakalanya orang berhutang karena memang sedang menghadapi kesulitan dan membutuhkannya untuk keperluan dasar keluarga. Untuk hal ini maka hutang diperlukan dan jika Anda menemukan orang seperti ini sebaiknya membantunya.<span id="more-454"></span></p>
<p><strong></strong></p>
<h3><strong>Biaya Dalam Hutang</strong></h3>
<p>Ketika Anda berhutang biasanya ada biaya atas hutang tersebut, kecuali jika Anda meminjam dari orang terdekat yang benar-benar ingin membantu. Ketika Anda mengambil kredit rumah, kredit kendaraan, kredit barang-barang dan sejenisnya, maka bank atau lembaga pemberi kredit menetapkan sejumlah bunga tertentu sebagai biaya atas hutang.</p>
<p>Dalam perhitungan yang umum bunga ini bersifat bunga efektif dengan cara perhitungan <em>compound interest.</em> Dalam prinsip ini, besaran bunga ditetapkan terhadap sisa pokok dana yang masih dalam status terhutang. Cara perhitungan lain adalah menggunakan bunga <em>flat </em>di mana besarnya nilai bunga dihitung terhadap pokok hutang pertama kali. Secara sederhana, perhitungan bunga flat akan setara dengan 2 x bunga efektif. Jadi bunga flat 10% kurang lebih setara dengan bunga efektif 20%. Kita akan lihat dalam tabel perhitungan nantinya.</p>
<h3><strong>Hitung Dahulu Sebelum Berhutang</strong></h3>
<p>Misalkan Anda akan mengambil kredit rumah sebesar 100 juta rupiah untuk jangka waktu 10 tahun. Jika bunga bank yang berlaku saat itu adalah 15%, maka berapakah yang harus dibayar setiap bulannya?</p>
<p>Menghitungnya sebenarnya cukup mudah dengan menggunakan Excel dan menggunakan beberapa fungsi keuangan sederhana.</p>
<p>Rumus Excel yang dapat Anda gunakan adalah:</p>
<ul>
<li>PMT (Payment – besaran pembayaran pada periode bayar tertentu berupa pokok hutang dan bunga)</li>
<li>PPMT (Principal Payment – besaran pembayaran pokok hutang pada periode tertentu)</li>
<li>IPMT (Interest Payment – besaran bunga pada periode bayar tertentu)</li>
</ul>
<p>Dengan memahami ketiga rumus sederhana tersebut Anda akan mengetahui berapa besarnya total biaya dari hutang Anda.</p>
<p>Pada contoh di atas, maka jumlah pembayaran atau cicilan bulanan dari hutang tersebut dapat dihitung dengan rumus:</p>
<div><code>=PMT(rate, nper, pv, [fv]; type)=PMT(15%/12, 10*12, 100000000; 0) = -1.613.349,57</code></div>
<p>Maka jika Anda berhutang 100 juta selama 10 tahun dengan bunga efektif 15%, cicilan bulanan (pokok hutang + bunga) adalah 1.613.349</p>
<p>Rumus berikutnya dapat Anda pakai jika hanya ingin mengetahui besarnya pokok hutang yang dibayar (PPMT) atau bunga yang dibayar setiap periode pembayaran (IPMT).</p>
<p>Untuk memudahkan saya membuatkan template Excel berikut untuk menghitung berbagai kondisi Simulasi Kredit untuk hutang Anda sekaligus membandingkan antara bunga efektif dan bunga flat.</p>
<div id="scid:fb3a1972-4489-4e52-abe7-25a00bb07fdf:72292a41-62d2-4878-a790-f9ad7b59e2db" class="wlWriterEditableSmartContent" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px">
<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/simulasikredit.xls" target="_blank">Download Simulasi Kredit di sini.</a></p>
<h3><strong>Perkirakan Kemampuan dan Kewajaran Anda dalam Berhutang</strong></h3>
<p>Setelah Anda mengetahui konsekuensi hutang tersebut sekaligus mengetahui besarnya bulanan yang harus dikeluarkan, maka sekarang Anda sudah bisa mengitung apakah Anda mampu mengambil dan menjalani hutang tersebut untuk sekian waktu ke depan.</p>
<p>Prinsip umum yang berlaku dalam perhitungan kemampuan berhutang adalah maksimum 1/3 penghasilan reguler digunakan untuk mencicil hutang. Asumsi ini berdasarkan bahwa seseorang masih dapat mengatur gaya hidupnya jika 1/3 pendapatannya digunakan untuk mencicil hutang. Tapi jika yang terjadi lebih besar dari itu maka biasanya akan ada yang terganggu apakah gaya hidup atau kemampuan mengelola hutang itu sendiri.</p>
<p>Setelah Anda berhitung, maka sekarang saatnya memutuskan apakah Anda memiliki kemampuan dan bisa mengelola dampaknya terhadap pola pengeluaran Anda untuk beberapa waktu ke depan. Dengan demikian setiap keputusan berhutang dibuat dengan bijaksana dengan mempertimbangkan kepentingan, kebutuhan dan kemampuan membayar. Dengan demikian Anda juga akan belajar menjadi debitur yang bertanggung jawab.</p>
<p>Anda punya pengalaman tentang hal ini? Silakan sampaikan pendapat atau komentar Anda.</p>
<p><strong>Tools:</strong></p>
<div id="scid:fb3a1972-4489-4e52-abe7-25a00bb07fdf:39b1c3cf-09e5-4e5a-bf49-9e1642dea9f4" class="wlWriterEditableSmartContent" style="padding-right: 0px; display: inline; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-top: 0px">
<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/simulasikredit1.xls" target="_blank">Tabel Simulasi Kredit Bunga Efektif vs Flat</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/hitung-sebelum-berhutang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Mudah Menabung Secara Rutin</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 00:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Mudah Menabung]]></category>
		<category><![CDATA[Menabung]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Menabung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Menabung secara rutin menjadi tantangan bagi setiap orang. Banyak orang yang memiliki pendapatan cukup besar tapi kesulitan untuk menyisihkan uang guna ditabung. Sementara ada orang yang berpenghasilan relatif lebih kecil namun mampu menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.

Berikut adalah cara mudah agar Anda dapat membiasakan diri menabung:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size: small;">Pernahkah Anda berniat untuk menabung tapi selalu merasa kesulitan menjalankannya?</span></em></p>
<p><em><span style="font-size: small;">Apakah Anda merasa memiliki pendapatan yang cukup tapi tidak pernah bisa menabung secara rutin?</span></em></p>
<p><em><span style="font-size: small;">Apakah Anda telah berusaha menyisihkan sejumlah dana untuk ditabung tapi akhirnya dana tersebut terpakai lagi dan niat menabung pun menjadi gagal?</span></em></p>
<p>Jika Anda menjawab ya pada salah satu pertanyaan di atas, maka Anda perlu menyimak tulisan berikut.</p>
<p>Menabung secara rutin menjadi tantangan bagi setiap orang. Banyak orang yang memiliki pendapatan cukup besar tapi kesulitan untuk menyisihkan uang guna ditabung. Sementara ada orang yang berpenghasilan relatif lebih kecil namun mampu menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.</p>
<p>Berikut adalah cara mudah agar Anda dapat membiasakan diri menabung:</p>
<h3>1. Segera menabung setelah Anda menerima penghasilan</h3>
<p>Ya, begitu Anda gajian, menerima komisi, menerima honor atau apapun bentuk penghasilan Anda, segera sisihkan sebagian untuk ditabung. Cara ini menghindarkan Anda dari menunda menabung dan memastikannya sebagai sebuah prioritas.</p>
<h3>2. Pisahkan rekening belanja dengan rekening tabungan</h3>
<p>Agar menabung dapat berjalan efektif dan Anda dapat memonitor perkembangannya, pisahkan rekening belanja dengan rekening tabungan. Rekening tabungan dapat Anda buat pada bank yang sama sehingga tidak perlu membayar biaya transfer untuk menabung. Saya juga menyarankan untuk tidak membuat kartu ATM untuk rekening tabungan Anda. Dengan demikian, uang yang sudah masuk sebagai tabungan tidak akan dengan mudah diambil sehingga menghindari Anda tergoda dan menghabiskan kembali uang yang sudah susah payah ditabung. Jangan menggabungkan rekening tabungan dengan rekening belanja karena akan berakibat Anda kebingungan berapa jumlah yang sudah ditabung dan berapa jumlah yang boleh dibelanjakan.<span id="more-427"></span></p>
<h3>3. Tentukan sejumlah uang yang ingin Anda tabung</h3>
<p>Berdasarkan penghasilan Anda saat ini, tentukan nilai tabungan yang wajar yang dapat Anda lakukan. Sebagai panduan angka 10% adalah minimum yang berarti Anda menyisihkan sejumlah tersebut untuk tabungan. Jika Anda masih bujangan dan tidak memiliki pengeluaran lain yang cukup besar. Angka persentase ini dapat ditingkatkan sampai 30% atau bahkan 40% dari gaji. Dengan sisa 60% lainnya Anda masih akan dapat membiayai kebutuhan reguler dan sedikit bersenang-senang dengan penghasilan Anda. Dalam perencanaan keuangan pribadi, buat budget untuk tabungan reguler ini dan lakukan secara tertib.</p>
<h3>4. Anggap tabungan sebagai pengeluaran dan lupakan</h3>
<p>Setelah Anda menentukan sejumlah uang yang ingin Anda tabung setiap bulan, maka anggap jumlah tersebut sebagai pengeluaran wajib setiap bulan dan setelah segera lupakan setelah Anda melakukannya. Secara mental ketika mengganggap tabungan sebagai pengeluaran maka Anda akan dapat melakukannya dengan tertib dan rutin sebagai sebuah kewajiban. Dengan melupakan bahwa Anda telah menabung akan menghindari Anda berpikir bahwa ada kelebihan dana di tabungan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.</p>
<h3>5. Atur budget Anda dan tabung setiap kelebihan di akhir bulan</h3>
<p>Jika Anda sudah menerapkan penyusunan budget bulanan, maka pada akhir bulan periksa budget Anda. Jika ada kelebihan dana, maka simpan kelebihan tersebut sebagai tambahan tabungan bulan berjalan.</p>
<h3>6. Secara bertahap naikkan persentase uang yang akan Anda tabung</h3>
<p>Setelah Anda terbiasa dengan pola menabung secara rutin, maka Anda bisa menaikkan nilai persentase penghasilan yang ditabung misalnya dari 10% ke 20%, 30% dan seterusnya. Cara ini akan semakin memperbesar jumlah yang ditabung dan menjadikan Anda orang yang lebih hemat.</p>
<h3>7. Jangan pernah menabung mengandalkan “jika masih ada sisa”</h3>
<p>Jika Anda mengandalkan sisa uang dari penghasilan setelah dipakai berbagai keperluan untuk ditabung, maka kemungkinan besar tidak akan ada sisa. Kalaupun ada, biasanya jumlahnya sangat kecil dan tidak sebanding dengan penghasilan Anda.</p>
<p>Demikian beberapa cara mudah menabung yang dapat saya share kepada Anda. Kesalahan banyak orang dalam menabung adalah mengandalkan sisa dana yang tersisa untuk kemudian ditabung jika masih tersisa. Percayalah, jika Anda melakukannya dengan cara tersebut, tidak akan pernah ada sisa sisa uang yang dapat ditabung dan Anda pun tak akan pernah mulai menabung.</p>
<p>Godaan untuk menggunakan dan menghabiskan uang sangat besar sehingga perlu suatu tekad yang kuat dengan cara menabung di depan, segera setelah Anda mendapatkan penghasilan.</p>
<p>Selamat menabung demi kebutuhan hari depan.</p>
<p>Anda punya tips lainnya dalam menabung? Silakan sampaikan pendapat Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/cara-mudah-menabung-secara-rutin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Keinginan dan Kebutuhan</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 01:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[Mengelola Keinginan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Manusia terlahir dengan banyak keinginan. Ingin memiliki rumah besar, mobil bagus, handphone paling mutakhir, baju baru, jam mewah dan berbagai hal lainnya. Sebagian kecil dari keinginan tersebut adalah kebutuhan, tapi sebagian besarnya biasanya tidak. Dalam posting ini, saya ingin membedakan antara keinginan dan kebutuhan terkait dengan perencanaan keuangan keluarga.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"> <img class="size-full wp-image-402  aligncenter" title="needs-vs-wants" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/needs-vs-wants.jpg" alt="needs-vs-wants" width="266" height="193" /></p>
<p>Manusia terlahir dengan banyak keinginan. Ingin memiliki rumah besar, mobil bagus, handphone paling mutakhir, baju baru, jam mewah dan berbagai hal lainnya. Sebagian kecil dari keinginan tersebut adalah kebutuhan, tapi sebagian besarnya biasanya tidak. Dalam posting ini, saya ingin membedakan antara keinginan dan kebutuhan terkait dengan perencanaan keuangan keluarga.</p>
<h3><strong>Mengenali Perbedaan Antara Keinginan dan Kebutuhan</strong></h3>
<p>Apa yang Anda inginkan tidak selalu Anda butuhkan. Perbedaan antara keinginan <em>(wants)</em> dan kebutuhan <em>(needs)</em> penting untuk dikenali agar kita tidak jatuh ke dalam hidup konsumtif dan suka membeli sesuatu tanpa rencana <em>(impulse buying).</em> Dalam kehidupan modern ini, seringkali batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi kabur. Berbagai iklan, informasi, rekomendasi dan lain-lain mengubah cara pandang akan sesuatu. Hal yang tadinya dianggap keinginan mewah, perlahan berubah menjadi keinginan yang wajar sampai akhirnya berubah menjadi sebuah kebutuhan.Ketika ini terjadi, tak jarang kebutuhan yang lebih utama dan penting malah mendapat prioritas belakangan.</p>
<p>Kebutuhan adalah fungsi dasar atas sesuatu yang secara esensial diperlukan: makan untuk memenuhi nutrisi, tempat tinggal untuk istirahat, transportasi untuk bekerja, pendidikan untuk masa depan anak dan lain-lain.</p>
<p>Sedangkan keinginan adalah semua fungsi tambahan yang jika tidak ada sebenarnya tidak mengganggu hidup Anda akan tetapi Anda mengharapkan untuk bisa mendapatkan fungsi tambahan tersebut. Makanan yang mahal, rumah yang besar dan mewah, mobil baru dan mengkilat, dan seterusnya. Keinginan seringkali merupakan perwujudan untuk menegaskan status sosial seseorang sekaligus membuktikan kepada orang lain bahwa dia mampu memilikinya.</p>
<p><span id="more-403"></span></p>
<h3><strong>Keinginan yang Mengalahkan Kebutuhan</strong></h3>
<p>Apakah sebuah keinginan tidak boleh dipenuhi? Menurut pendapat saya boleh-boleh saja asalkan semua kebutuhan yang penting telah mendapat perhatian. Jangan sampai sebuah keinginan yang remeh temeh menggeser kebutuhan yang lebih penting dan esensial.</p>
<p>Sebagai contoh, ada keluarga yang rela mengambil kredit untuk membeli sebuah TV LCD baru berharga di atas 10 juta rupiah. Padahal sebelumnya keluarga tersebut masih memiliki TV yang cukup baik dan besar meskipun sudah berumur beberapa tahun. Dengan pembelian TV baru tadi mau tidak mau mengganggu pengeluaran rutin keluarga tersebut sampai-sampai uang sekolah anak harus menunggak karena tagihan kredit yang jatuh tempo.</p>
<p>Contoh lain adalah seorang eksekutif muda yang menyukai teknologi. Sekitar 6 bulan lalu dia telah membeli <em>Smartphone</em> berharga 4 jutaan. Dengan maraknya pengguna <em>Blackberry</em> belakangan ini, sang eksekutif muda pun tergoda dan menghabiskan lebih dari setengah gaji bulanannya untuk memenuhi keinginan tersebut. Dengan mainan baru tersebut, dia bisa <em>chatting </em>kapan saja, melakukan <em>update </em>statusnya di situs Facebook, sampai menerima email secara instan. Dengan pembelian Blackberry tersebut, sang eksekutif muda kesulitan untuk membiayai pengeluarannya pada bulan berjalan termasuk membantu membayarkan uang kuliah adiknya yang selama ini dia lakukan.</p>
<p>Dari kedua contoh di atas kita akan melihat apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan apa yang merupakan keinginan belaka.</p>
<p>Pada contoh pertama yakni pembelian TV LCD, keluarga tersebut membutuhkan TV untuk menonton berita sekaligus hiburan keluarga. Kebutuhan tersebut sebenarnya terpenuhi karena TV lama yang dimiliki berukuran cukup besar yakni 29 inch dan seluruh anggota keluarga cukup puas menggunakannya. Akan tetapi muncul keinginan untuk mengganti dengan LCD TV agar ruang keluarga terlihat lebih elegan dan mewah. Meskipun sebenarnya lebar layar yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari TV yang lama. Layar LCD memang terlihat lebih menarik, namun sebenarnya secara total tidak memberi perbedaan signifikan bagi keluarga tersebut.</p>
<p>Pada contoh yang pertama ini, keluarga tersebut telah mengorbankan kepentingan dan kebutuhan yang lebih utama yakni pendidikan anak. Dengan pembelian tersebut, mereka harus membayar cicilan yang lumayan setiap bulannya sehingga sedikit mengganggu pengeluaran rutin bulanan termasuk membayar uang sekolah anak yang juga cukup mahal. Keluarga ini telah mengubah keinginan menjadi kebutuhan dan sebaliknya kebutuhan digeser pada urutan yang lebih bawah.</p>
<p>Sekarang kita lihat contoh kedua. Eksekutif muda yang satu ini sebenarnya sudah cukup puas dengan Smartphone-nya. Meskipun tidak secanggih Blackberry, namun device yang lama juga memiliki kemampuan untuk akses internet. Adapun email memang tidak bisa diakses instan namun masih bisa disinkronkan dari komputer sehingga bisa dibaca dalam perjalanan.</p>
<p>Pada contoh kedua, yang menjadi kebutuhan adalah alat komunikasi, terutama suara dan sms. Kebutuhan internet sebenarnya sudah lebih dari cukup terpenuhi dari komputer yang ada. Namun keinginan akan alat yang baru karena banyak orang memakainya membuat gengsi sang eksekutif muda terpancing. Dia pun mengorbankan kebutuhan lain yang lebih penting demi menyalurkan hasrat menginginkan sesuatu.</p>
<h3><strong>Mengelola Keinginan</strong></h3>
<p>Ketika seseorang menginginkan sesuatu, seringkali aspek emosional lebih mendominasi daripada aspek rasional. Bayangkan ketika Anda berjalan-jalan ke mall kemudian melihat tas yang bagus. Anda sangat ingin memilikinya karena tas tersebut akan <em>match </em>dengan gaya Anda sekaligus dapat ditunjukkan kepada rekan-rekan waktu pertemuan bersama minggu depan. Aspek emosional yang muncul adalah hasrat kuat untuk memiliki sehingga seolah-olah menjadi kebutuhan.</p>
<p>Jika kita berhenti sejenak dan berpikir, maka Anda bisa mempertimbangkan keputusan pembelian dengan lebih jernih. Anda akan berpikir bahwa di rumah masih ada 3 tas bagus yang jarang dipakai. Tas yang baru dilihat inipun mungkin hanya akan terpakai beberapa kali. Kalau dibeli, harganya cukup mahal sementara kegunaannya terbatas. Untuk memenuhi gengsi mungkin terlihat diperlukan tapi secara fungsi sebenarnya tidak ada yang berbeda.</p>
<p>Lantas, apakah setiap keinginan selalu tidak baik dan tidak boleh dipenuhi? Jawabannya adalah tergantung kondisi dan kemampuan Anda saat itu. Jika Anda memiliki banyak uang, membeli barang yang mahal dan memiliki prestise tentu sah-sah saja asalkan bukan dengan niat menyombongkan diri. Sebaliknya jika penghasilan Anda masih terbatas tapi memaksakan, maka di sinilah letak permasalahannya. Orang yang memiliki uang banyak sekalipun bukan berarti bisa memenuhi apa yang diinginkannya. Prinsip utama adalah pengendalian diri, pengendalian keinginan, dan menilai secara bijak apa yang perlu dipenuhi dan apa yang tidak. Dengan demikian Anda menjadi pengambil keputusan yang bijaksana.</p>
<h3><strong>Tips Mengelola Keinginan dan Kebutuhan</strong></h3>
<p>Berikut adalah tips sederhana yang dapat Anda pakai untuk mengelola segala keinginan dan kebutuhan dengan lebih baik:</p>
<ul>
<li>Susun segala kebutuhan Anda</li>
<li>Prioritaskan kebutuhan tersebut dan pastikan terpenuhi lebih dahulu</li>
<li>Tentukan beberapa hal yang menjadi keinginan Anda</li>
<li>Tanyakan kepada diri Anda seberapa besar Anda membutuhkan dan mengharapkan keinginan-keinginan tadi dan buat skala prioritas</li>
<li>Jika Anda memiliki kelebihan dana, silakan lihat daftar keinginan yang mungkin dipenuhi setelah memastikan kebutuhan penting telah terpenuhi. Tanyakan pula pada diri Anda apakah kelebihan dana tersebut pantas digunakan untuk memenuhi keinginan atau ada tempat lain yang lebih membutuhkan dan lebih berhak atas kelebihan tersebut.</li>
<li>Jika Anda tidak memiliki kelebihan dana, hindari melihat benda-benda yang bisa menciptakan munculnya keinginan karena akan menjadi obsesi.</li>
<li>Jika Anda terlanjur tertarik dan memiliki keinginan untuk membeli sesuatu, hindari untuk membeli langsung pada saat itu. Netralkan emosi dan perasaan Anda dan biarkan aspek rasional Anda mengimbangi. Nanti setelah pertimbangan Anda sudah lebih wajar dan adil, Anda dapat memutuskan apakah barang yang menarik hati tadi perlu untuk dibeli atau tidak.</li>
</ul>
<p>Mulai sekarang, mari rencanakan pengeluaran Anda dengan lebih baik. Kenali perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Anda adalah tuan dari uang Anda dan seharusnya Anda mengetahui dan menyadari kemana saja seharusnya uang tersebut dipergunakan. Semoga ulasan ini bermanfaat.</p>
<p>Anda punya komentar atau pengalaman terkait keinginan dan kebutuhan? Silakan tulis komentar Anda pada form di bawah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/antara-keinginan-dan-kebutuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

