<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pengembangan Diri oleh Muhammad Noer - Membaca Cepat (Speed Reading), Presentasi, Mind Map, Komunikasi, Perencanaan Keuangan, Produktivitas &#187; Pernikahan dan Pasangan</title>
	<atom:link href="http://www.muhammadnoer.com/category/pernikahan-dan-pasangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.muhammadnoer.com</link>
	<description>Tips Pengembangan Diri: Membaca Cepat, Speed Reading, Produktivitas, Presentasi, Mind Map, Perencanaan Keuangan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 17:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kado Ulang Tahun Buat Istriku</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/kado-ulang-tahun-buat-istriku/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/kado-ulang-tahun-buat-istriku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan dan Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 9 Maret 2009 tepat hari ulang tahun istriku tercinta, Nurul Halida. Pada usianya yang ke-28, ibu dari tiga orang anak lulusan pesantren Darunnajah – yang dikenal dengan profile NurulNoer di berbagai situs internet – tetap energik dengan segala aktivitasnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.nurulnoer.com" target="_blank"><img style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-left: 0px; margin-right: 0px; border-bottom: 0px" title="nurul-noer" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/nurulnoer.jpg" border="0" alt="nurul-noer" width="277" height="331" align="left" /></a> Hari ini, 9 Maret 2009 tepat hari ulang tahun istriku tercinta, Nurul Halida. Pada usianya yang ke-28, ibu dari tiga orang anak lulusan pesantren <a href="http://www.darunnajah.com/" target="_blank">Darunnajah</a> – yang dikenal dengan profile NurulNoer di berbagai situs internet – tetap energik dengan segala aktivitasnya.</p>
<p>Sedikit tentang istriku ini, dia adalah seorang penulis handal. Pertama kali kami berkenalan di kampus ketika sama-sama mengelola buletin mahasiswa Universitas Indonesia, Filosofia. Pada saat itu, Nurul salah satu andalan kalau harus menulis cerpen. Gaya bertuturnya yang khas dan renyah menjadi kekuatan tersendiri. Sedangkan aku cenderung menulis dengan gaya formal, terstruktur dan tutorial, mungkin karena pengaruh kuat dari kebiasaan mengajar di kelas maupun training.</p>
<p>Lewat interaksi tersebut akhirnya kami saling mengenal dan memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Saat itu istriku baru saja ulang tahun yang ke-20 dan aku sendiri baru berusia 21 tahun. Sekelumit tentang kisah perjalanan pernikahan kami dapat dibaca pada posting berikut atau di <strong><a href="http://www.nurulnoer.com/" target="_blank">NurulNoer.com</a></strong></p>
<p><span id="more-410"></span></p>
<p><strong></strong></p>
<p>Setelah menikah, kebiasaan menulisnya terus diasah dengan rajin menulis diary di komputer. Ternyata, dia telah menulis diary jauh ketika masa kecil dulu dalam berbagai buku pribadi. Aku bisa memakluminya karena seorang seperti istriku sangat senang mengulas dan merenungkan ulang peristiwa yang telah dialaminya. Baik sebagai catatan pribadi maupun sebagai bahan renungan.</p>
<p>Karena dulu kami berbagi komputer, maka tulisannya sengaja atau tidak sengaja ikut terbaca. Dan ternyata diriku termasuk tokoh yang banyak muncul dalam tulisan-tulisan tersebut. Ketika dia jatuh cinta, bahagia, sedih atau marah semuanya akan terangkum dalam fragmen-fragmen tulisan tersebut. Terus terang aku belajar banyak dari tulisannya terutama mengenali apa-apa yang membuatnya senang atau sedih, apa yang dia sukai dan benci serta apa yang akan membuatnya bahagia maupun marah. Informasi tersebut secara informal juga menjadi penghubung dalam interaksi dan komunikasi kami sebagai pasangan suami istri. Ibarat sebuah portal berita yang menampilkan <em>What’s hot today.</em></p>
<p>Pada saat internet sudah sedemikian luas di Indonesia, maka sebagian diary tersebut pun ikut dipublish di <a href="http://catatansinurul.blog.friendster.com/" target="_blank"><strong>blog Friendster.</strong></a> Apakah dia tahu atau tidak, setiap kali muncul notifikasi posting terbaru pasti akan segera kulihat dan menikmati tulisan istriku tercinta dan apa yang menjadi perhatiannya saat itu. Tulisannya bisa memberi kesegaran di kala jenuh, dan menjadi inspirasi di kala mandeg.</p>
<p>Nah asal Anda tahu, blog ini juga aku buat karena terinspirasi oleh istriku. Terus terang meskipun dulu pernah menjabat pemimpin redaksi buletin di SMU dan Kampus, aku sebenarnya kurang pede untuk menerbitkan tulisan di internet. Salah satunya adalah karena dapat dibaca oleh siapa saja dan aku merasa tulisan-tulisanku kurang memiliki sentuhan personal. Namun terinspirasi oleh banyaknya tulisan istriku, akhirnya blog ini pun resmi diterbitkan untuk menyalurkan kembali potensi diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.</p>
<p>Sebagai hadiah dan apresiasi buat istriku tercinta, maka domain khusus juga sengaja kubuat di <a href="http://www.nurulnoer.com/" target="_blank"><strong>NurulNoer.com</strong></a> untuk menampung segala tulisannya. Namun sayangnya setelah domain ini muncul, belum banyak tulisan baru yang beredar dan masih mengandalkan hasil import dari tulisan lama. Kenapa ya? Mungkin karena terlalu sering <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1061245464" target="_blank">facebook-an dan komentar sana-sini</a> jadi kurang punya waktu untuk menulis <img src='http://www.muhammadnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-412" title="nurul-and-noer" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/03/nurul-and-noer.jpg" alt="nurul-and-noer" width="277" height="331" /></p>
<p>Hal lain yang paling kusukai dari istriku selain tulisannya adalah kesederhanaan sebagai seorang istri dan wanita. Ya, istriku tidak pernah memakai <em>make-up</em> dan aku pun tak pernah membelikannya. Walaupun demikian, dia terlihat jauh lebih cantik dan alami dibandingkan banyak wanita dengan make-up profesional sekalipun. Kesederhanaan lain juga terlihat dari barang-barang yang dibeli tidak lebih dari yang sekedar dibutuhkan. Tas seadanya, sepatu seadanya, pakaian juga seadanya. Bahkan kacamata yang menjadi kebutuhan pentingnya juga baru diganti kalau sudah rusak karena dimainkan oleh anak-anak. Kesederhanaan inilah yang membuatku terkesan meskipun dia sebenarnya bisa saja menuntut haknya sebagai seorang istri untuk dibelikan ini dan itu. Seorang istri yang bisa diajak hidup susah tapi juga tidak menolak diajak hidup enak <img src='http://www.muhammadnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Atas kecintaan tersebut aku membuat tulisan ini. Semoga menjadi kado yang istimewa dibandingkan kado-kado lainnya. Teriring doaku buat istriku Nurul: Semoga Allah memberikan keberkahan pada usia yang telah diberikan kepadanya, maupun sisa usia yang masih akan dijalaninya. Semoga Allah memudahkannya untuk belajar sabar dan mengambil pelajaran yang banyak dalam mendidik ketiga putra kami, melayani suami yang suka minta dipijit dan dibuatkan teh, serta menjalani suka duka kehidupan. Semoga istriku dapat mengatur waktu lebih baik untuk berbagai aktivitasnya. Selamat Ulang Tahun istriku, semoga Allah menguatkan cinta diantara kita untuk meraih cinta-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/03/kado-ulang-tahun-buat-istriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenali Diri Lewat Pasangan</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2008/05/mengenali-diri-lewat-pasangan/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2008/05/mengenali-diri-lewat-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 15:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan dan Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://exploreyourself.wordpress.com/2008/05/04/mengenali-diri-lewat-pasangan/</guid>
		<description><![CDATA[Menikah adalah suatu sunnah Rasulullah. Lewat menikah seseorang melengkapi sisa separuh agamanya. Ibarat seekor merpati yang hanya memiliki sebuah sayap, menikah membuatnya memiliki sebuah lagi sayap yang hilang sehingga dengan keduanya akhirnya ia bisa terbang.

Setiap orang memiliki dasar ketika memilih pasangan hidupnya. Agama mengajarkan pilihlah pasangan yang memiliki agama yang baik sehingga dengannya kau akan saling memperbaiki diri. Jika ia menyukaimu, ia akan mencintaimu sepenuhnya, bahkan jika ia tidak menyukaimu, ia akan tetap menghormatimu dan memperlakukanmu dengan sopan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menikah adalah suatu sunnah Rasulullah. Lewat menikah seseorang melengkapi sisa separuh agamanya. Ibarat seekor merpati yang hanya memiliki sebuah sayap, menikah membuatnya memiliki sebuah lagi sayap yang hilang sehingga dengan keduanya akhirnya ia bisa terbang.</p>
<p>Setiap orang memiliki dasar ketika memilih pasangan hidupnya. Agama mengajarkan pilihlah pasangan yang memiliki agama yang baik sehingga dengannya kau akan saling memperbaiki diri. Jika ia menyukaimu, ia akan mencintaimu sepenuhnya, bahkan jika ia tidak menyukaimu, ia akan tetap menghormatimu dan memperlakukanmu dengan sopan.</p>
<p>Sebelum menikah, seringkali orang menetapkan kriteria yang diharapkan dari pasangan. Hal ini wajar dan manusiawi mengingat manusia menyukai apa-apa yang memiliki kesesuaian dengan dirinya dan menghindari apa-apa yang tidak sesuai. Namun, seringkali pula orang merasa kecewa pada akhirnya karena menghadapi kenyataan bahwa pasangan yang dipilih ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana menyikapi hal seperti ini?</p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p><strong><em>Pertama, </em></strong>ingatlah bahwa menikah dan berpasangan merupakan kerja bersama di mana masing-masing pihak membawa kebaikan dan keburukannya masing-masing. Pernikahan adalah suatu wadah di mana proses asah, asih dan asuh terjadi. Karenanya dalam proses yang dijalani seringkali tidak ringan karena ada hal-hal yang bergesekan atau bahkan bertentangan dari apa yang diinginkan masing-masing individu tersebut. Disinilah terdapat kesempatan untuk saling menghargai dan bekerja sama dalam memperbaiki kekurangan masing-masing.</p>
<p><strong><em>Kedua, </em></strong>ingatlah bahwa pasangan kita tetaplah seorang individu yang memiliki karakter, kebiasaan dan kemauan yang unik milik dirinya. Meskipun saat ini kita telah menikahinya, bukan berarti seluruh karakter, kebiasaan dan kemauannya harus mengikuti pola yang kita harapkan. Mungkin dalam beberapa hal ada yang bisa dipengaruhi. Akan tetapi kita harus tetap menghargai bahwa diri kita dan pasangan juga memiliki hal-hal yang berbeda.</p>
<p><strong><em>Ketiga, </em></strong>ingatlah bahwa diri ini tidak sempurna dan jauh dari kesempurnaan. Dengan demikianlah harap dimaklumi bahwa pasangan kita juga bukan orang yang sempurna dan sangat mungkin berbuat salah atau hal-hal yang sangat tidak kita sukai. Diperlukan sifat pemaaf sambil senantiasa berjuangan untuk berusaha memperbaiki hal-hal yang seharusnya diperbaiki.</p>
<p><strong><em>Keempat, </em></strong>ingatlah bahwa apa-apa yang kita sukai belum tentu hal yang baik bagi diri kita dan sebaliknya apa-apa yang kita benci belum tentu juga hal yang buruk. Terkait dengan pasangan, mungkin ada hal-hal yang tidak kita sukai dari dirinya. Nah perlu digali lebih jauh, jangan-jangan aspek tersebut adalah wadah yang diberikan Allah untuk kita bercermin dan memperbaiki diri sendiri.</p>
<p>Contoh sederhana adalah seorang suami terlahir dalam keluarga yang menjunjung tinggi keteraturan dan kerapihan, namun ia memiliki istri yang dibesarkan dengan cara berbeda di mana keteraturan bukan persoalan penting. Jauh di lubuk hatinya, lelaki ini berharap sang istri mengerti bahwa seharusnya rumah dijaga dalam kondisi yang rapi dan teratur. Namun sang istri yang berpikiran berbeda menganggap sang suami terlalu berlebihan untuk urusan kebersihan dan kerapihan. Baginya bersih dan rapi itu baik, tapi bukan berarti kondisi tersebut harus terus terjaga.</p>
<p>Jika masing-masing pihak tidak mencoba memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh pihak lain, maka masing-masing akan merasa ter”aniaya” oleh pasangannya. Untuk kasus seperti ini, kedua belah pihak perlu menyampaikan harapan masing-masing sehingga didapat titik temu di mana keduanya sepakat atas kondisi yang sama-sama bisa dan rela untuk dipenuhi.</p>
<p>Contoh lainnya seorang istri dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada yang mapan. Sementara sang suami tumbuh dari keluarga sederhana yang sangat berhati-hati dalam mengelola pengeluaran karena terbatasnya sumber penghasilan. Ketika menikah, keduanya dikaruniai pendapatan yang lumayan. Sang istri dengan kebiasaan lama menggunakan pendapatan tersebut untuk membeli barang-barang yang menarik hatinya. Sang suami merasa istrinya terlalu berlebihan dalam berbelanja dan menuntut agar semua pengeluaran diatur sedemikian rupa agar hemat. Sang istri kecewa karena merasa suaminya terlalu perhitungan dalam urusan keuangan padahal menurutnya apa yang ia beli masih dalam batasan yang wajar dan toh pendapatan mereka juga sebenarnya mencukupi.</p>
<p>Untuk kasus ini, jika keduanya saling mengenal tentu bisa setidaknya memahami kenapa pasangannya memiliki perilaku tertentu dalam urusan keuangan. Dengan demikian, menyadari perbedaan latar belakang dan kebiasaan selama ini, keduanya dapat menghormati pandangan masing-masing dan mencari jalan keluar dengan menentukan apa yang dianggap wajar dan apa yang dianggap berlebihan.</p>
<p>Dua contoh di atas merupakan hal-hal ringan yang kadangkala bisa menjadi hal besar dalam rumah tangga. Perbedaan antar pasangan terjadi karena perbedaan latar belakang dan kebiasaan. Tidak ada yang salah pada pasangan tersebut. Yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang latar belakang dan kebiasaan masing-masing untuk kemudian merumuskan bersama kebiasaan berbeda yang masih bisa diakomodir oleh pihak lainnya.</p>
<p>Contoh yang lebih berat misalnya seorang istri memiliki sifat pemarah yang tinggi sehingga keharmonisan rumah tangga terganggu. Sang suami merasa heran mengapa istrinya sering kali marah bahkan untuk hal-hal yang dianggap ringan dan sepele. Jika menuruti hawa nafsu, tentunya sang suami akan balas memarahi sang istri. Tapi apakah pendekatan demikian akan berhasil? Jangan-jangan sang istri memang dihadirkan kepada sang suami agar menguji sikap sabar dan pemaaf sekaligus membantu istrinya keluar dari persoalan menahan amarah.</p>
<p>Nah di sinilah pasangan berperan sebagai seorang penguji bagi diri kita sekaligus membantu mengungkap khazanah diri. Kita dituntut untuk mampu hidup dalam perbedaan-perbedaan tadi dan bersabar atas kondisi yang mungkin kurang disukai, sekaligus belajar dari pasangan mengapa dia berperilaku atau bertindak tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan kesabaran dan ketekunan dalam memahami pasangan, kita akan mendapatkan pelajaran berharga mengapa Allah memilih dia sebagai pasangan kita, bukan yang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2008/05/mengenali-diri-lewat-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikah itu Mudah</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2008/05/menikah-itu-mudah/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2008/05/menikah-itu-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 14:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernikahan dan Pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Menikah]]></category>
		<category><![CDATA[Menikah Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Menikah Mudah]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://exploreyourself.wordpress.com/2008/05/04/menikah-itu-mudah/</guid>
		<description><![CDATA[Menikah tidak sesulit yang dibayangkan banyak orang. Jika telah tiba waktunya, maka majulah dan persiapkan pernikahan untuk membina rumah tangga yang sakinah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku menikah pada usia yang cukup muda, 21 tahun. Waktu itu masih duduk di bangku kuliah semester 6. Banyak orang yang sulit memahami jalan pilihanku waktu itu, termasuk kedua orangtua, mertua, dan teman-teman seperjuangan. Terus terang ide untuk menikah muda ini telah ada di benakku sejak SMU. Aku berpikir bahwa nanti aku tidak akan lama-lama untuk memutuskan menikah jika segala sesuatunya telah dimudahkan.</p>
<p>Satu hal yang memberi dorongan kuat padaku untuk segera menikah adalah kebutuhan untuk memiliki pendamping hidup serta kebutuhan untuk memikul tanggung jawab sebagai suami. Telah tiba suatu masa di mana aku merasakan bahwa untuk berkembang lebih jauh, aku harus memikul tanggung jawab lebih besar dan itu bisa diwujudkan lewat jalan pernikahan. Jadi prinsip yang kupegang waktu itu adalah: jika Allah memperkenalkanku dengan pasangan yang baik, aku akan mempersiapkan diri untuk menjalani pernikahan. Perkara onak dan duri yang menghadang adalah suatu keniscayaan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama didasari oleh niat yang tulus dan mengharapkan pertolongan-Nya.</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Terus terang pertanyaan paling sering yang ditanyakan orang menjelang pernikahanku dulu adalah bagaimana kau akan menghidupi anak-istri, sedangkan diri ini masih status mahasiswa, masih dibantu pula oleh orangtua. Apa bisa hidup hanya dengan cinta? Bagaimana nanti jika kuliah jadi berantakan? Atau akhirnya terpaksa <em>drop-out</em> karena harus menghidupi keluarga?</p>
<p>Satu hal yang kuyakini adalah menikah bukanlah perhitungan matematis di atas kertas dan aku membuktikannya sendiri. Penghasilan yang kupunya saat itu sebagai pengajar les privat hanyalah sekitar 100 ribu per bulan. Aku berterus terang kepada pasangan bahwa hanya itu yang kumiliki per hari itu. Satu hal yang bisa kujanjikan padanya adalah aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk memimpin dan menafkahi keluarga, dengan cara apapun yang Allah mudahkan untukku. Aku tidak tau bagaimana caranya tapi aku yakin jalan itu senantiasa ada. Jika ia memberikan kepercayaan kepadaku, aku akan memegang teguh kepercayaan itu. Jika ia ragu, aku pun tidak akan memaksakan diri untuk menikah dengan orang yang ragu.</p>
<p>Setelah menjalani pernikahan, Allah mengajariku bahwa Dia benar-benar memahami kebutuhan hamba-Nya. Jika engkau yakin akan pertolongan-Nya, mintalah kepada-Nya dan Dia akan menghampirimu tepat di saat kau benar-benar membutuhkan. Setelah menikah, entah bagaimana caranya, Allah memberi penghidupan buat kami sekeluarga walaupun orangtua tidak lagi mengirimkan bantuan untuk anaknya yang masih kuliah. Meskipun penghasilanku tidak pernah jelas jumlahnya tetapi senantiasa cukup. Ketika aku dan keluarga butuh sedikit, Allah memberikan jumlah yang sedikit itu. Ketika kebutuhanku makin besar, Allah pula yang memberikan jalan untuk mencukupinya. Tapi kita harus jujur untuk meminta agar dicukupkan, bukan dilebihkan. <em>Honestly, you will be amazed how it works!<br />
</em><br />
Well, it’s my destiny. Bagi sebagian orang lain, menikah tentu tidak segampang dengan pengalamanku di atas. Dan benar memang menikah juga bukan hal sederhana. Perlu suatu perencanaan matang dari kedua pasangan agar kelak tidak menyesal. Menikah merupakan perjanjian agung yang membuat langit berguncang. Tentunya wajib untuk dipikirkan dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Apakah menikah muda lebih baik ketimbang menunggu pada usia yang lebih “matang”? Jawabku tidak ada yang lebih baik diantara keduanya, semuanya tergantung pada kondisi yang dihadapi masing-masing orang. Menikah muda tanpa memiliki visi dan perencanaan akan membawa bencana. Sementara menunda-nunda pernikahan dengan alasan menunggu “mapan dan matang” padahal segala hal telah dimudahkan menurutku bukanlah hal yang baik. Jadi, ketika keinginan muncul, kemampuan telah diberikan, dan kesempatan terbuka di depan mata, segera bulatkan tekad, ucapkan bismillah dan mohonlah pertolongan-Nya untuk menjalani sebuah pernikahan. Jangan pernah takut karena pernikahan adalah jalan para pemberani. Akan ada banyak rintangan dan tantangan di depan. Semuanya untuk dihadapi dan dijalani dengan hati lapang, bukan untuk dikhawatirkan atau ditakuti.</p>
<p>Berbicara tentang perencanaan nikah, banyak orang terjebak pada hal-hal yang bersifat fisik baik untuk mempersiapkan hari-H pernikahan itu sendiri sampai pernak-pernik setelah menikah. Wah acara pestanya diadakan di mana ya? Di rumah atau di gedung? Kira-kira siapa saja yang akan diundang? Pesan makanan berapa banyak ya? Apakah nanti cukup atau tidak? Setelah nikah nanti tinggal di mana? Kira-kira gajiku cukup apa enggak untuk menghidupi keluarga? Wah kayaknya butuh kendaraan nih supaya gampang kalau bepergian?</p>
<p>Persiapan hari-H penting namun jangan sampai menjadi beban yang berlebihan. Ingat itu cuma satu hari padahal kita menikah bukan untuk hari itu saja. Persiapan tempat tinggal, penghasilan, kendaraan dan lain-lain juga penting untuk menyokong kehidupan pernikahan, namun jangan sampai membuat pikiran jadi kusut.</p>
<p>Adapun persiapan yang jauh lebih perlu diperhatikan adalah kesiapan dari kedua pasangan untuk secara fisik, mental dan spiritual saling membantu dan membangun rumah tangganya. Persiapan ini menuntut kedua belah pihak untuk menerima pasangannya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Persiapan ini mewajibkan pasangan untuk menjadi cermin satu sama lain dengan saling memperbaiki diri untuk mendukung kemajuan spiritual keduanya.</p>
<p>Kini tak terasa sudah enam tahun lebih aku menikah dengan seorang wanita sederhana yang kucintai dan mencintaiku. Kami telah dikaruniai 3 orang putra untuk dididik dan dibantu menemukan potensi dirinya. Semoga Allah menguatkan kami berdua, untuk sama-sama belajar, saling memperbaiki diri, dan tolong-menolong dalam membangun rumah tangga yang kokoh dengan mengharapkan ridha-Nya.</p>
<p>Buat Anda yang sudah menikah, selamat menjalani pernikahan dan semoga Allah memudahkan langkah Anda dan pasangan. Jika Anda belum menikah, tidak ada salahnya membuat perencanaan, semoga Allah menguatkan keyakinan Anda dan memudahkan segala sesuatu yang diperlukan ketika waktunya telah tepat.</p>
<p>Surabaya, 14 Juli 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2008/05/menikah-itu-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

