<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Pengembangan Diri oleh Muhammad Noer - Membaca Cepat (Speed Reading), Presentasi, Mind Map, Komunikasi, Perencanaan Keuangan, Produktivitas &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://www.muhammadnoer.com/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.muhammadnoer.com</link>
	<description>Tips Pengembangan Diri: Membaca Cepat, Speed Reading, Produktivitas, Presentasi, Mind Map, Perencanaan Keuangan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 09:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Berbakti Untuk Negeri</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2011/08/berbakti-untuk-negeri/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2011/08/berbakti-untuk-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2011/08/berbakti-untuk-negeri/</guid>
		<description><![CDATA[Membangun negeri, berarti membangun masyarakat dan turut serta memajukannya. Membangun negeri berarti turut menjadi pemakmur bumi. Membangun negeri berarti berkarya untuk menjadikan negeri lebih baik sesuai bidang masing-masing. Dengan demikian, akan lahir generasi-generasi berikutnya yang lebih baik dan terus menerus berkarya buat negeri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/08/Indonesia.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Indonesia" border="0" alt="Indonesia" align="left" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2011/08/Indonesia_thumb.jpg" width="240" height="148" /></a> </p>
<p>Tanggal 13 Agustus 2011 merupakan hari berduka. Hari itu Allah memanggil Guru tercinta, yang menjadi pembimbing saya dan seluruh murid-murid beliau selama ini. Tulisan ini untuk mengenang salah satu pengajaran beliau yang layak untuk dijalankan oleh siapa saja. Ya Allah, berkatilah dan rahmatilah guru kami. Jadikanlah ajaran beliau senantiasa hidup di dalam diri kami para murid-muridnya.</p>
<p>Manusia tidak pernah tahu dia dilahirkan dari rahim yang mana. Dia juga tidak tahu akan muncul dari bumi yang mana. Siapa yang melahirkan dan di mana seseorang dilahirkan sesungguhnya membawa sejarah panjang. Apa yang telah dilakukan pendahulunya dan apa yang harus dia lakukan setelahnya.</p>
<p>Suatu kali guru kami mengajarkan, salah satu amal tertinggi adalah berbakti untuk negeri. Awalnya saya tidak mengerti dengan kalimat ini. Mengapa negeri menjadi begitu penting sehingga setiap orang harus mencari baktinya?</p>
<p>Ketika kita dilahirkan di sebuah negeri, maka kita memiliki ikatan batin dengan tempat tersebut. Tiap negeri memiliki keunikan dan membutuhkan orang-orang yang paham dengan karakteristiknya. Bagaimanapun keadaan negeri yang kita tinggali – baik atau buruk – sesungguhnya negeri tersebut membutuhkan tangan-tangan terampil untuk membangun dan mengembangkannya.</p>
<p><span id="more-1477"></span>
</p>
<p>Karena itu saya menjadi lebih paham mengapa membangun negeri mempunyai tempat sedemikian khusus. Membangun negeri, berarti membangun masyarakat dan turut serta memajukannya. Membangun negeri berarti turut menjadi pemakmur bumi. Membangun negeri berarti berkarya untuk menjadikan negeri lebih baik sesuai bidang masing-masing. Dengan demikian, akan lahir generasi-generasi berikutnya yang lebih baik dan terus menerus berkarya buat negeri.</p>
<p>Lantas, bagaimana mengidentifikasi apa yang perlu kita baktikan untuk negeri?</p>
<p>Banyak sekali. Dan terutama mulailah dari yang kecil dan sederhana.</p>
<p>Jadilah pengendara yang sopan. Hargai diri sendiri dan orang lain sesama pengguna jalan. Jaga kebersihan dan jangan membuang sampah seenaknya di negeri yang kita tinggali. Jika diminta untuk antri, laksanakan dan jadilah contoh buat yang lain. Jangan menjadi orang yang mau menang sendiri. Bersikap ramah, sopan, dan menghargai kepada orang lain tanpa membeda-bedakan.</p>
<p>Setelah itu, jalankan sebaik mungkin profesi yang diamanahkan kepada Anda saat ini. Jika Anda seorang guru, jadilah guru yang baik dan bertanggung jawab buat murid-murid Anda. Jika Anda seorang mahasiswa, jadilah mahasiswa yang tekun dan menggali ilmu untuk digunakan pada saatnya nanti. Jika Anda seorang pegawai pemerintah, jadilah pegawai yang amanah, jujur dan layak dipercaya. Jika Anda seorang profesional, tunjukkan kualitas kerja Anda yang layak disebut seorang profesional. Jika setiap orang menjalankan profesinya dengan baik dan amanah, maka negeri tersebut akan makmur dan berkah.</p>
<p>Lebih jauh lagi, coba identifikasi apa yang Allah mudahkan buat Anda. Jika Anda dimudahkan dalam harta, berbagilah kepada penduduk negeri yang membutuhkan. Jika Anda pandai menulis, manfaatkan untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Jika Anda memiliki keterampilan, ajari orang lain agar dapat menggunakannya. Jika Anda menguasai bidang ilmu tertentu, manfaatkan, terapkan dan bagikan kepada banyak orang. Dengan cara ini, Anda turut andil dalam membangun negeri. Dan jika itu semua dilakukan dengan tulus ikhlas, semoga akan bernilai amal soleh yang tinggi.</p>
<p>Melakukan hal tersebut terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan. Kita tidak lagi sibuk menuntut apa yang negeri ini berikan kepada diri kita. Itu menunjukkan sikap orang egois. Melainkan kita akan sibuk memikirkan apa lagi yang bisa kita baktikan buat kemajuan negeri sesuai kapasitas diri masing-masing. Sampai suatu saat semoga Allah berkenan mengajarkan kepada kita apa yang menjadi tugas hidup sebenarnya.</p>
<p>Menyambut hari kemerdekaan Indonesia, sudahkah kita berbakti untuk negeri?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2011/08/berbakti-untuk-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan Makna Belajar</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/05/menemukan-makna-belajar/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/05/menemukan-makna-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 14:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Makna Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2010/05/menemukan-makna-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang belajar. Anak-anak, mahasiswa, bahkan orang tua tak terkecuali. Setiap manusia belajar dengan caranya sendiri. Ada yang belajar dengan cara menghadiri 
perkuliahan, ada yang banyak membaca buku apa saja, serta ada yang belajar dari cerita dan pengalaman hidup orang. Belajar merupakan tradisi umat manusia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 0px 5px 5px 0px; display: inline; border-width: 0px;" title="Filosofia" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/05/601.jpg" border="0" alt="Filosofia" width="304" height="425" align="left" /> Berikut adalah tulisan saya 11 tahun lalu yang pernah dimuat di buletin Filosofia, Universitas Indonesia pada bulan Maret tahun 1999. Menyambut hari Pendidikan, saya menemukan kembali tulisan ini dan ingin berbagi dengan Anda. Tulisan ini ditulis oleh mahasiswa untuk mahasiswa dan mewakili pemikiran saya di masa itu. Sedikit banyaknya ada yang masih relevan untuk saat ini meskipun ada pula yang sudah berbeda. Tulisan asli dari buletin dapat Anda lihat di bagian akhir.</p>
<p>Saya juga memberikan link yang relevan pada kata kunci dalam tulisan ini ke artikel-artikel yang terkait. Jika Anda tertarik, silakan klik dan baca artikel yang berhubungan tersebut.</p>
<p>Saya ingin tau pandangan Anda tentang tulisan ini.</p>
<p>Untuk itu jangan lupa tinggalkan komentar Anda.</p>
<p>Selamat menikmati. Selamat hari Pendidikan.</p>
<p>Muhammad Noer</p>
<p>######</p>
<h3>Menemukan Makna Belajar</h3>
<p>Setiap orang belajar. Anak-anak, mahasiswa, bahkan orang tua tak terkecuali. Setiap manusia belajar dengan caranya sendiri. Ada yang belajar dengan cara menghadiri<br />
perkuliahan, ada yang banyak membaca buku apa saja, serta ada yang belajar dari cerita dan pengalaman hidup orang. Belajar merupakan tradisi umat manusia.</p>
<p>Sebagai seorang mahasiswa, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan dosen sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO.</p>
<p>Setidaknya ada beberapa hal yang disepakati. <strong>Pertama</strong> belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. <strong>Kedua</strong> belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya.</p>
<p><span id="more-1050"></span></p>
<p>Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar seperti Anda.</p>
<p>Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.</p>
<p>Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan.</p>
<p>Sedikitnya ada dua hal yang membuat sang bayi berhasil. <strong>Pertama</strong>, ia tidak pemah mengenal <strong><a href="http://www.muhammadnoer.com/2010/02/menyikapi-kegagalan/" target="_blank">konsep kegagalan</a></strong>. Ia hanya tahu untuk mencoba dan mencoba belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak mau tersungkur untuk selama-lamanya. <strong>Kedua</strong>, sang bayi selalu <strong>mendapat dukungan positif</strong>. Ketika ia jatuh orangtuanya berkata, “Ayo nak berdiri lagi. Mama akan membantumu.” Dan ketika ia berhasil, semua orang bergembira dan memberi selamat atas keberhasilannya.</p>
<p>Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan <a href="http://www.muhammadnoer.com/2010/01/kenali-gaya-belajar-anda/">gaya Anda belajar</a> tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan <a href="http://www.muhammadnoer.com/2010/02/belajar-cara-belajar/">gaya belajar yang lebih kreatif</a>. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan.</p>
<p>Setelah lulus apa yang terjadi? Ternyata pasar tenaga kerja sering kesal dengan para <em>fresh graduate </em>ini. Para<em> </em>lulusan dianggap tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menghadapi dunia nyata yang harus dihadapinya. Anda harus ditraining kembali untuk bekerja. Padahal Anda telah belajar bertahun-tahun. Enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SMP, tiga tahun untuk SMA dan sekitar empat sampai enam tahun di perguruan tinggi.</p>
<p>Tapi itulah yang terjadi. Hasil belajar Anda tidak dihargai. Anda hanya dihargai dari selembar ijazah sebagai prasyarat untuk melamar kerja. Selebihnya, Anda harus bersaing lagi, Anda harus dites lagi dan akhirnya, Anda malah <em>di-training </em>kembali.</p>
<p>Temyata, ada yang salah dalam proses pendidikan kita sekarang. Seorang sarjana teknik jadi pengusaha. Lulusan ekonomi jadi wartawan. Tamatan ilmu komputer bekerja di bank. Memang hal itu sah-sah saja, tapi rasanya <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/05/talenta-saja-tidak-cukup/" target="_blank">ilmu yang didapatkan menjadi kurang berguna</a>.</p>
<p>Kita perlu mengubah semua kejadian tadi. Kita perlu belajar kembali tentang bagaimana caranya belajar. Belajar harus menjadi hal yang menyenangkan. Anda belajar bukan kerena terpaksa tetapi karena belajar memang menyenangkan dan Anda mencintainya.</p>
<p><strong>Bobbi de Porter</strong> memberikan pemecahan alternatif dengan metode <strong><em>Quantum Learning</em></strong><em>. </em>Nama Quantum sendiri menunjukkan adanya lompatan besar terhadap cara pandang kita selama ini tentang belajar. Dengan berbagai keterampilan teknis seperti <strong><a href="http://www.membacacepat.com/">membaca cepat</a></strong>, <strong><a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/03/teknik-mencatat-kreatif-dengan-mind-mapping/">teknik mencatat</a></strong>, bagaimana berpikir logis dan kreatif, serta menghilangkan mitos <strong>“Aku tidak bisa”.</strong> Perubahan paradigma ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata terhadap <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/02/sukses-kesuksesan-pohon-diri-pohon-taqwa-kalimah-taqwa/" target="_blank">kesuksesan</a> Anda.</p>
<p>Belajar seperti ini, mengharuskan Anda untuk memotivasi diri sendiri. Anda harus tahu manfaat apa yang bakal diperoleh dari ilmu yang Anda pelajari. Bagaimana mungkin Anda termotivasi jika Anda tidak tahu manfaat pekerjaan yang Anda lakukan? Anda tidak mungkin mengharapkan pujian orangtua, mendapat dukungan dari teman-teman, atau harapan positif lainnya. Anda harus secara aktif menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi diri Anda. Ketika semua orang tak lagi memotivasi, Anda harus mencari lingkungan baru yang dapat memotivasi Anda. Jika hal itu pun tak dapat dilakukan, setidaknya Anda masih punya diri sendiri untuk memberi semangat.</p>
<p>Jika kita melihat sejarah ke belakang, kita akan temui banyak sekali orang yang belajar dengan benar. Anda pasti kenal Aristoteles, seorang ahli hikmah dari Yunani. Anda juga perlu merujuk pada ilmuwan muslim masa lalu. Al-Farabi yang ahli fisika, Ibnu Sina yang ahli kedokteran, atau Jabir bin Hayyan yang ahli kimia serta banyak lagi lainnya. Mereka adalah para ahli multi disiplin ilmu. Mereka sekaligus spesialis tak tertandingi di bidangnya. Satu hal yang seringkali kita lupa bahwa kita pun merniliki potensi yang sama dengan mereka. Hanya saja, <a href="http://www.muhammadnoer.com/2009/04/menjadi-diri-sendiri/" target="_blank">mereka memanfaatkan potensi tersebut</a> sedangkan kita mengabaikannya.</p>
<p>Apa yang membedakan mereka dari kita? Tampaknya hanya satu hal yakni paradigma atau cara pandang mereka terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka belajar dengan cara menemukan lebih dahulu apa manfaat dan bidang-bidang yang mereka kuasai. Mereka tidak ingin sekedar prestise yang diperoleh dari selembar ijazah tapi ingin penguasaan yang menyeluruh. Dengan demikian, mereka belajar dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka akan terus menggali ilmu dengan kesungguhan sampai maut memisahkan.</p>
<p>Agama menyuruh umatnya untuk giat menuntut Ilmu. Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Nabi mengajarkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Ilmu laksana hikmah yang harus terus dicari, digali, dieksplorasi dan akhimya diambil dan dimanfaatkan demi kebaikan. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qn’an yang menyuruh kita menggunakan akal untuk berpikir, menggunakan hati untuk merenung, serta memanfaatkan potensi diri sebesar-besarnya.</p>
<p>Sebagai seorang calon intelektual kegiatan belajar merupakan makanan sehari-hari bagi Anda. Akan tetapi, sudahkah Anda memiliki motivasi yang tepat, niat yang benar serta mampu melihat manfaat dari setiap bidang yang Anda pelajari? Wallahu a’lam.</p>
<p>Insya Allah, dengan mengubah cara pandang tentang belajar maka belajar Anda akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anda tidak akan pernah lagi merasakan belajar sebagai sebuah beban melainkan melihatnya sebagai sebuah tantangan. Anda akan memasuki wilayah eksplorasi ilmu yang tiada habis-habisnya. Anda akan merasakan indahnya ilmu Allah SWT yang saling terkait satu sama lain. Anda akan terus-menerus menemukan manfaat dan minat-minat baru dalam belajar. Anda tidak akan pernah puas mereguk lautan ilmu. Semakin banyakAnda mereguknya, Anda hanya akan semakin haus. Dan akhirnya Anda akan menjadi seorang pelajar Quantum. Seorang yang belajar kapan saja, di mana saja, dari siapa saja dan dengan cara apa saja. Anda bisa belajar di ruang kelas, di kamar pribadi, di bus, atau di jalanan. Anda dapat memperoleh ilmu dari dosen, teman, tukang ojek, atau bahkan anak-anak. Andajuga dapat belajar dengan cara membaca buku, berdialog dengan orang lain, belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, atau belajar dan alam semesta dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Belajar Anda tidak lagi mengenal batasan tempat dan waktu.</p>
<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/05/604.jpg"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="6 04" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/05/604_thumb.jpg" border="0" alt="6 04" width="577" height="419" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/05/menemukan-makna-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Manusia Hari Ini</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/menjadi-manusia-hari-ini/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/menjadi-manusia-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kungfu Panda]]></category>
		<category><![CDATA[Oogway]]></category>
		<category><![CDATA[Po]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2010/04/menjadi-manusia-hari-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a gift. That’s why it is called the present.

Itu adalah ucapan Guru Oogway kepada Po yang akhirnya menjadi pendekar Naga dalam film Kungfu Panda.

Setiap orang telah menjalani hari kemarin, akan menghadapi hari esok, dan sedang menghadapi hari ini. Tulisan ini ingin mengulas bagaimana penyikapan terhadap situasi tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a gift. That’s why it is called the present.</em></p></blockquote>
<p>Itu adalah ucapan Guru Oogway kepada Po yang akhirnya menjadi pendekar Naga dalam film Kungfu Panda.</p>
<p>Setiap orang telah menjalani hari kemarin, akan menghadapi hari esok, dan sedang menghadapi hari ini. Tulisan ini ingin mengulas bagaimana penyikapan terhadap situasi tersebut.</p>
<h3><strong>Masa Lalu Telah Menjadi Sejarah</strong></h3>
<p>Apa yang telah lalu tidak dapat kita ubah. Apa yang kita lakukan, baik dan buruk, semuanya sudah terjadi. Semuanya telah tercatat menjadi sejarah hidup kita. Ada orang yang terus menerus menyesali masa lalunya sehingga dia tidak dapat menjalani hari ini dengan baik. Dia merasa orang yang telah berbuat kesalahan dan terus menerus dihantui oleh kesalahan itu.</p>
<p>Menyesali kesalahan adalah hal penting. Tapi jika apa yang telah terjadi terus menerus menjadi penghalang untuk berbuat sesuatu hari ini, maka dia menjadi masalah. Apa yang telah terjadi adalah pelajaran untuk diambil hikmahnya. Baik dan buruk yang telah kita lakukan harus menjadi pelajaran dalam menata diri kita hari ini dan hari ke depannya.</p>
<p>Sejarah masa lalu diri kita juga di luar kemampuan kita untuk mengubahnya. Kita tidak pernah tahu lahir dari ayah dan ibu yang mana. Kita juga tidak bisa memilih tempat kelahiran kita sendiri. Semuanya bagian dari sejarah diri kita yang telah ditetapkan untuk ditafakuri. Kita juga tidak pernah tau apakah orangtua kita miskin atau kaya, pintar atau bodoh, terhormat atau orang biasa.</p>
<p>Menyesali keadaan diri adalah perbuatan yang bodoh. Apa yang telah kita dapatkan di masa lalu merupakan bagian dari anugrah Allah yang harus disyukuri. Bukan untuk disesali.</p>
<p><span id="more-1031"></span></p>
<h3>Masa Depan Belum Terjadi</h3>
<p>Sebagian orang merasa sangat takut dengan masa depan. Dia takut apakah besok masih bisa makan atau tidak. Dia juga khawatir apakah nanti bisa mendapatkan apa yang dia harapkan. Apakah anak-anaknya kelak dapat belajar di sekolah yang bagus, mendapat pendidikan yang layak, dan bekerja dengan penghasilan yang baik.</p>
<p>Karena kekhawatiran itu, segala sesuatu dipersiapkan sampai berlebihan. Padahal hari esok belum terjadi. Dan kita pun tidak tau akan terjadi seperti apa. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berencana. Allah Maha Kuasa adalah Maha Pengatur Hamba-Hamba-Nya. Tugas kita adalah berusaha dan berikhtiar agar dekat dengan kehendak-Nya. Ketika itu dilakukan, maka kehendak Allah akan bekerja pada diri kita.</p>
<h3>Menjadi Manusia Hari Ini</h3>
<p>Manusia-manusia besar adalah manusia yang menjalani hidup hari ini dengan sepenuh jiwa raganya. Mereka mungkin punya masa lalu yang kelam. Namun mereka mengambil pelajaran dari sana dan memperbaiki diri. Mereka juga mempersiapkan diri untuk masa depan. Namun semuanya dilandasi dengan keyakinan akan adanya Allah Yang Maha Mengelola.</p>
<p>Mereka adalah manusia hari ini. Mereka berusaha bersungguh-sungguh pada apa yang ada di diri mereka saat ini, sedikit atau banyak, cukup atau kurang. Kemampuan yang mereka punya, keahlian yang mereka kuasai, semuanya menjadi jalan untuk berkarya sesuai jalan yang dimudahkan buat mereka. Mereka tidak pernah menyesali masa lalu atau takut dengan masa depan.</p>
<p>Mereka senantiasa berbuat yang terbaik hari ini dengan harapan agar Allah berkenan menghapus kesalahan mereka di masa lalu, dan terus membimbing mereka hari ini dan masa depan. Mereka orang yang optimis menjalani hari-harinya. Senantiasa bersyukur atas apa yang Allah hadirkan. Buat mereka kesulitan atau kesenangan semuanya sama. Itu adalah hadiah dari Tuhan. Sebuah titipan yang diterima dengan lapang dada dan dijalani dengan sepenuh hati.</p>
<p>Merekalah orang yang menganggap hari ini sebagai hadiah. Dengan hadiah itu mereka berkarya dan membentuk masa depan.</p>
<p>Mari menjadi manusia hari ini. Bukan manusia kemarin yang telah jadi sejarah atau manusia akan datang yang masih misteri.</p>
<p>Dan Allah Lebih Mengetahui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/04/menjadi-manusia-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Kegagalan</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/02/menyikapi-kegagalan/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/02/menyikapi-kegagalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[kesuksesan]]></category>
		<category><![CDATA[Menyikapi Kegagalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/fail_road.jpg"><img style="display: inline; margin: 5px 10px 10px 0px; border: 0px;" title="fail_road" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/fail_road_thumb.jpg" border="0" alt="fail_road" width="277" height="393" align="left" /></a>

Satu hal yang paling membedakan antara orang sukses dengan tidak adalah bagaimana cara mereka menyikapi kegagalan. Seorang yang berjiwa besar akan menganggap kegagalan sebagai bumbu kehidupan dan proses menuju keberhasilan. Sementara seorang pecundang menganggap kegagalan sebagai momok yang menakutkan sehingga mereka putus asa dan menyerah.

Coba tanyakan kepada orang yang sukses apakah mereka pernah mengalami kegagalan? Jawabannya pasti pernah. Tahukah berapa banyak kegagalan yang pernah mereka alami? Jawabannya mungkin bisa beragam, tapi tak jarang kita akan mendengar bahwa mereka telah gagal puluhan bahkan ratusan kali sebelum akhirnya berhasil. Perbedaannya adalah mereka bangkit kembali dan berjalan lagi sampai akhirnya bertemu dengan keberhasilan. Dan seandainya keberhasilan itu pun tak kunjung datang, bukankah kegagalan itu sendiri sebuah proses pembelajaran yang mencerahkan?

<!--more-->

Suatu hari Thomas Alfa Edison ditanya oleh asistennya ketika melakukan percobaan untuk membuat lampu pijar, “Anda telah melakukan percobaan ribuan kali untuk menemukan bahan filamen yang tepat. Apakah Anda tidak lelah? Bukankah kita telah melakukan ini ribuan kali dan tidak pernah berhasil?

Edison menjawab, “Dalam setiap percobaan, saya selalu belajar untuk menemukan bahan yang paling tepat untuk lampu pijar. Apa yang kamu anggap kegagalan buat saya adalah keberhasilan yang tertunda. Saya yakin dalam waktu dekat saya akan menemukannya.”

Edison benar dan dia menjadi penemu lampu pijar yang kita nikmati sampai sekarang. Dia mengajarkan kegigihan dan semangat pantang menyerah dalam menjalankan tugasnya. Sepanjang hidupnya, Edison telah menghasilkan ribuan paten atas penemuan-penemuannya.

Jangan pernah menyerah atas kegagalan. Itu adalah sebuah proses keberhasilan yang tertunda. Bangkitlah kembali dan jadilah orang yang berjiwa besar yang tidak peduli berapa kali mereka akan terjatuh, dia akan berdiri dan berjalan lagi.

Photo Credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/fireflythegreat/2845637227/" target="_blank">fireflythegreat</a> under Creative Common License]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/fail_road.jpg"><img style="display: inline; margin: 5px 10px 10px 0px; border: 0px;" title="fail_road" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/fail_road_thumb.jpg" border="0" alt="fail_road" width="277" height="393" align="left" /></a></p>
<p>Satu hal yang paling membedakan antara orang sukses dengan tidak adalah bagaimana cara mereka menyikapi kegagalan. Seorang yang berjiwa besar akan menganggap kegagalan sebagai bumbu kehidupan dan proses menuju keberhasilan. Sementara seorang pecundang menganggap kegagalan sebagai momok yang menakutkan sehingga mereka putus asa dan menyerah.</p>
<p>Coba tanyakan kepada orang yang sukses apakah mereka pernah mengalami kegagalan? Jawabannya pasti pernah. Tahukah berapa banyak kegagalan yang pernah mereka alami? Jawabannya mungkin bisa beragam, tapi tak jarang kita akan mendengar bahwa mereka telah gagal puluhan bahkan ratusan kali sebelum akhirnya berhasil. Perbedaannya adalah mereka bangkit kembali dan berjalan lagi sampai akhirnya bertemu dengan keberhasilan. Dan seandainya keberhasilan itu pun tak kunjung datang, bukankah kegagalan itu sendiri sebuah proses pembelajaran yang mencerahkan?</p>
<p><span id="more-951"></span></p>
<p>Suatu hari Thomas Alfa Edison ditanya oleh asistennya ketika melakukan percobaan untuk membuat lampu pijar, “Anda telah melakukan percobaan ribuan kali untuk menemukan bahan filamen yang tepat. Apakah Anda tidak lelah? Bukankah kita telah melakukan ini ribuan kali dan tidak pernah berhasil?</p>
<p>Edison menjawab, “Dalam setiap percobaan, saya selalu belajar untuk menemukan bahan yang paling tepat untuk lampu pijar. Apa yang kamu anggap kegagalan buat saya adalah keberhasilan yang tertunda. Saya yakin dalam waktu dekat saya akan menemukannya.”</p>
<p>Edison benar dan dia menjadi penemu lampu pijar yang kita nikmati sampai sekarang. Dia mengajarkan kegigihan dan semangat pantang menyerah dalam menjalankan tugasnya. Sepanjang hidupnya, Edison telah menghasilkan ribuan paten atas penemuan-penemuannya.</p>
<p>Jangan pernah menyerah atas kegagalan. Itu adalah sebuah proses keberhasilan yang tertunda. Bangkitlah kembali dan jadilah orang yang berjiwa besar yang tidak peduli berapa kali mereka akan terjatuh, dia akan berdiri dan berjalan lagi.</p>
<p>Photo Credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/fireflythegreat/2845637227/" target="_blank">fireflythegreat</a> under Creative Common License</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/02/menyikapi-kegagalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semuanya Berawal Dari Sebuah Langkah Sederhana</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2010/02/semuanya-berawal-dari-sebuah-langkah-sederhana/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2010/02/semuanya-berawal-dari-sebuah-langkah-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 23:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Cita-Cita]]></category>
		<category><![CDATA[Visi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2010/02/semuanya-berawal-dari-sebuah-langkah-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/step.jpg"><img style="display: inline; margin: 0px 20px 10px 0px; border: 0px;" title="step" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/step_thumb.jpg" border="0" alt="step" width="306" height="228" align="left" /></a>

Apakah yang dilakukan ketika kita akan membangun sebuah rumah? Meletakkan batu pertama. Ya, setiap kali seorang membangun sebuah rumah maka akan selalu ada batu pertama yang disusun dan disemen. Siapa sangka batu tersebut akhirnya menjadi bangunan yang kokoh dan indah.

Memulai sesuatu adalah tugas yang berat buat banyak orang. Bayangan tentang kesulitan yang akan dihadapi, tantangan yang menghadang maupun banyaknya tugas yang harus dikerjakan sering membuat orang menunda-nunda apa yang seharusnya dia kerjakan. Akibatnya, waktu terus berjalan dan tidak ada yang selesai dikerjakan.

Berkaca dari orang-orang besar, apa yang mereka lakukan adalah memiki visi yang besar dan menyusunnya menjadi rencana-rencana kecil yang dapat dilaksanakan. Dengan cara ini, suatu pekerjaan yang terlihat besar dan berat menjadi lebih ringan karena telah dipecah-pecah dan disusun dalam skala yang lebih kecil. Apa yang mereka lakukan tidak pernah terjadi dalam sekejap mata. Semuanya membutuhkan kerja keras, tanggung jawab, dan langkah demi langkah yang secara konsisten dijalani.

<!--more-->

Jika Anda memiliki visi, cita-cita atau apapun yang baik untuk Anda lakukan, maka tugas yang perlu dilakukan adalah rampungkan visi tersebut, dan bagi dalam langkah-langkah yang lebih kecil. Tidak ada gunanya Anda memiliki visi besar dan luar biasa tapi tidak pernah melangkah untuk menuju ke sana.

Karena itu saya ingin mengutip apa yang sering disampaikan oleh Kyai Abdullah Gymnastiar yakni: mulailah sesuatu yang baik dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah saat ini juga. Sebuah perjalanan ribuan mil selalu dimulai dengan satu langkah kecil, dimulai dari diri sendiri – meskipun semua orang mencemooh, dan dimulai segera saat ini – tidak ditunda-tunda.

Sudahkah Anda mengambil langkah sederhana untuk mewujudkan visi, rencana atau cita-cita yang akan membuat perubahan buat diri Anda dan orang lain di sekitar Anda?

Mulailah melangkah dengan penuh keyakinan. Atas izin Allah, bantuan akan datang pada saat yang tepat ketika Anda membutuhkan pertolongan. Tanpa memulai, jangan pernah berharap akan terjadi perubahan.

Photo Credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/vvvracer/4304837415/" target="_blank">vvvracer</a> under Creative Common License]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/step.jpg"><img style="display: inline; margin: 0px 20px 10px 0px; border: 0px;" title="step" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2010/02/step_thumb.jpg" border="0" alt="step" width="306" height="228" align="left" /></a></p>
<p>Apakah yang dilakukan ketika kita akan membangun sebuah rumah? Meletakkan batu pertama. Ya, setiap kali seorang membangun sebuah rumah maka akan selalu ada batu pertama yang disusun dan disemen. Siapa sangka batu tersebut akhirnya menjadi bangunan yang kokoh dan indah.</p>
<p>Memulai sesuatu adalah tugas yang berat buat banyak orang. Bayangan tentang kesulitan yang akan dihadapi, tantangan yang menghadang maupun banyaknya tugas yang harus dikerjakan sering membuat orang menunda-nunda apa yang seharusnya dia kerjakan. Akibatnya, waktu terus berjalan dan tidak ada yang selesai dikerjakan.</p>
<p>Berkaca dari orang-orang besar, apa yang mereka lakukan adalah memiki visi yang besar dan menyusunnya menjadi rencana-rencana kecil yang dapat dilaksanakan. Dengan cara ini, suatu pekerjaan yang terlihat besar dan berat menjadi lebih ringan karena telah dipecah-pecah dan disusun dalam skala yang lebih kecil. Apa yang mereka lakukan tidak pernah terjadi dalam sekejap mata. Semuanya membutuhkan kerja keras, tanggung jawab, dan langkah demi langkah yang secara konsisten dijalani.</p>
<p><span id="more-948"></span></p>
<p>Jika Anda memiliki visi, cita-cita atau apapun yang baik untuk Anda lakukan, maka tugas yang perlu dilakukan adalah rampungkan visi tersebut, dan bagi dalam langkah-langkah yang lebih kecil. Tidak ada gunanya Anda memiliki visi besar dan luar biasa tapi tidak pernah melangkah untuk menuju ke sana.</p>
<p>Karena itu saya ingin mengutip apa yang sering disampaikan oleh Kyai Abdullah Gymnastiar yakni: mulailah sesuatu yang baik dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah saat ini juga. Sebuah perjalanan ribuan mil selalu dimulai dengan satu langkah kecil, dimulai dari diri sendiri – meskipun semua orang mencemooh, dan dimulai segera saat ini – tidak ditunda-tunda.</p>
<p>Sudahkah Anda mengambil langkah sederhana untuk mewujudkan visi, rencana atau cita-cita yang akan membuat perubahan buat diri Anda dan orang lain di sekitar Anda?</p>
<p>Mulailah melangkah dengan penuh keyakinan. Atas izin Allah, bantuan akan datang pada saat yang tepat ketika Anda membutuhkan pertolongan. Tanpa memulai, jangan pernah berharap akan terjadi perubahan.</p>
<p>Photo Credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/vvvracer/4304837415/" target="_blank">vvvracer</a> under Creative Common License</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2010/02/semuanya-berawal-dari-sebuah-langkah-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun Noer</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/11/selamat-ulang-tahun-noer/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/11/selamat-ulang-tahun-noer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 17:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/11/selamat-ulang-tahun-noer/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 9 November 2009, tepat saya memasuki usia 30. Sebuah usia kematangan. Artinya, semakin sedikit waktu yang tersedia. Masa remaja saya usai sudah memasuki proses pendewasaan.

Alhamdulillah, selama 30 tahun terakhir sangat banyak suka duka yang telah saya jalani. Semuanya memberi pelajaran bagaimana Allah selalu hadir dalam setiap kesempatan. Di dalamnya juga banyak terjadi kesalahan dan kekeliruan yang tidak seharusnya saya lakukan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/11/Noer_Model_2.jpg"><img title="Noer_Model_2" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; margin-left: 0px; border-left: 0px; margin-right: 0px; border-bottom: 0px" height="399" alt="Noer_Model_2" src="http://www.muhammadnoer.com/wp-content/uploads/2009/11/Noer_Model_2_thumb.jpg" width="336" align="left" border="0" /></a> Hari ini, 9 November 2009, tepat saya memasuki usia 30. Sebuah usia kematangan. Artinya, semakin sedikit waktu yang tersedia. Masa remaja saya usai sudah memasuki proses pendewasaan.</p>
<p>Alhamdulillah, selama 30 tahun terakhir sangat banyak suka duka yang telah saya jalani. Semuanya memberi pelajaran bagaimana Allah selalu hadir dalam setiap kesempatan. Di dalamnya juga banyak terjadi kesalahan dan kekeliruan yang tidak seharusnya saya lakukan.</p>
<p>Di usia 30 tahun ini, saya sudah menikah hampir 9 tahun bersama seorang istri dan telah dikarunia 3 orang putra dan seorang putri. Ya, saya menikah relatif muda pada usia 21 tahun ketika masih kuliah tingkat 3 di FEUI. Banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan semenjak pernikahan mulai dari saling memperbaiki diri dengan pasangan sampai urusan mendidik anak. Ya, hidup memang tidak mudah dan diperlukan kesungguhan belajar untuk menghadapi dan menjalaninya dengan baik.</p>
<p>Selama hampir 9 tahun terakhir ini, saya juga sudah menjalani berbagai profesi mulai dari pengajar privat untuk siswa SD sampai SMU, penjual hardware komputer, instruktur pelatihan Simulasi Bisnis, dan terakhir sebagai profesional di bidang Human Resources. Banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan di sana mulai dari keyakinan bagaimana Allah mengatur rezeki, sampai proses belajar mengenali diri sendiri dan apa yang hendak saya tuju.</p>
<p> <span id="more-811"></span>
<p>Selama beberapa tahun terakhir ini, saya juga merasakan banyak kesempatan yang datang. Saya diberi kekuatan untuk mengatur waktu sehingga bisa terus menulis untuk blog ini. Di tengah jadwal yang padat, Alhamdulillah saya berhasil menerbitkan buku yang tadinya terasa berat untuk selesai. Saya juga mendapat kesempatan untuk sharing pengetahuan dengan rekan-rekan dari berbagai perusahaan lainnya. Sekaligus berinteraksi dan belajar dengan sahabat-sahabat baru dalam perjalanan.</p>
<p>Kesuksesan bukanlah ditentukan dari banyaknya anak dan harta, melainkan sejauh mana keyakinan dan pengabdian kepada Allah Ta’ala. Untuk hal ini, saya masih harus belajar banyak dan bersungguh-sungguh agar tidak menjadi orang yang lalai. Setiap diri lahir dengan tugas masing-masing yang harus ditunaikan. Itulah proses pengabdian yang harus dijalani dan ditempuh dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Selamat ulang tahun Noer. Semoga dirimu senantiasa ingat untuk selalu memperbaiki diri. Memohon ampun atas segala dosa dan kemaksiatan yang telah diperbuat dan bersungguh-sungguh memperbaikinya. Mensyukuri apa yang ada hari ini dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dan berbaik sangka atas kegaiban hari esok yang akan datang menjumpai.</p>
<p>Semoga Allah memberi keberkahan dalam usia yang telah dijalani dan memberi kebaikan buat sisa umur yang masih diamanahkan. Amin ya Rabbal A’alamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/11/selamat-ulang-tahun-noer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan Momentum</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/10/memanfaatkan-momentum/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/10/memanfaatkan-momentum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Momentum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/10/memanfaatkan-momentum/</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingatkah Anda ketika belajar Fisika dulu?

Sebuah benda yang diam, akan cenderung terus diam kecuali ada yang menggerakkannya. Sedangkan sebuah benda yang bergerak akan cenderung terus bergerak kecuali ada yang menghentikannya.

Jika sebuah mobil dihidupkan dan pedal gas ditekan dengan tiba-tiba, maka tubuh penumpang akan terdorong ke belakang karena tadinya dia diam dan ingin terus diam. Sebaliknya ketika mobil sudah berjalan kemudian direm mendadak, maka tubuh penumpangnya akan terdorong ke depan karena punya kecenderungan terus bergerak ke depan.

Jika Anda masih ingat pelajaran Fisika di sekolah menengah dulu, ini disebut hukum kelembaman.

Lantas apa hubungannya hukum tersebut dengan keseharian?

Dalam kehidupan kita sering mengalami jatuh bangun. Ada kalanya kita semangat mengerjakan sesuatu, dan ada kalanya kita merasakan malas yang teramat sangat. Ada suatu masa di maka kita menjadi seorang yang taat dan ada masa yang lain ketika kecenderungan bermaksiat menjadi sedemikian kuat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingatkah Anda ketika belajar Fisika dulu?</p>
<p>Sebuah benda yang diam, akan cenderung terus diam kecuali ada yang menggerakkannya. Sedangkan sebuah benda yang bergerak akan cenderung terus bergerak kecuali ada yang menghentikannya.</p>
<p>Jika sebuah mobil dihidupkan dan pedal gas ditekan dengan tiba-tiba, maka tubuh penumpang akan terdorong ke belakang karena tadinya dia diam dan ingin terus diam. Sebaliknya ketika mobil sudah berjalan kemudian direm mendadak, maka tubuh penumpangnya akan terdorong ke depan karena punya kecenderungan terus bergerak ke depan.</p>
<p>Jika Anda masih ingat pelajaran Fisika di sekolah menengah dulu, ini disebut hukum kelembaman.</p>
<p>Lantas apa hubungannya hukum tersebut dengan keseharian?</p>
<p>Dalam kehidupan kita sering mengalami jatuh bangun. Ada kalanya kita semangat mengerjakan sesuatu, dan ada kalanya kita merasakan malas yang teramat sangat. Ada suatu masa di maka kita menjadi seorang yang taat dan ada masa yang lain ketika kecenderungan bermaksiat menjadi sedemikian kuat.</p>
<p> <span id="more-806"></span>
<p>Kondisi tersebut mirip dengan hukum Fisika tadi. Ketika Anda sedang semangat, maka sebenarnya ada energi yang menggerakkan semangat tersebut. Dia akan terus menerus bergerak sampai ada yang menghentikannya. Secara natural tentu tidak mungkin kita dalam kondisi prima terus menerus sehingga selalu berbuat yang terbaik. Ada kalanya kita dilanda rasa jenuh, malas dan cenderung destruktif.</p>
<p>Cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan momentum di saat-saat yang terbaik muncul. Ketika Anda sedang bersemangat melakukan suatu hal, manfaatkanlah segera untuk melakukan hal-hal yang selama ini Anda malas mengerjakannya. Momentum tersebut harus segera dimanfaatkan karena jika tidak, ada masanya dia akan habis.</p>
<p>Sama halnya ketika hati Anda condong pada ketaatan, manfaatkanlah untuk melakukan ibadah yang baik, berbuat amal yang baik sebanyak mungkin karena ada masanya pula hal tersebut berhenti. Tentunya dengan tetap memperhatikan hati jangan sampai terselip ria atau kesombongan karena bisa berbuat baik.</p>
<p>Orang yang beruntung adalah orang yang bisa memanfaatkan momen-momen terbaiknya sebesar-besarnya. Ketika momen terbaik tersebut mulai hilang, maka mereka akan segera mengusahakan agar momen terbaik tersebut kembali muncul, demikian seterusnya.</p>
<p>Satu hal penyakit yang sering melanda kita adalah: kemalasan dan suka menunda. Malas akan menghilangkan momentum yang sedang muncul. Mirip dengan gaya yang menghambat benda sedang bergerak. Sikap suka menunda berarti menghilangkan kesempatan yang muncul. Padahal kesempatan tidak akan datang setiap waktu dan hanya muncul pada saatnya tiba saja. Ketika suatu kesempatan hilang, maka dia tidak akan kembali. Yang ada adalah menunggu sampai kesempatan baru muncul.</p>
<p>Nabi mengajarkan kita untuk memanfaatkan 5 perkara sebelum datang 5 perkara yang lain:</p>
<ul>
<li><b>Sehat</b> sebelum <b>sakit</b></li>
<li><b>Kaya</b> sebelum <b>miskin</b></li>
<li><b>Lapang</b> sebelum <b>sempit</b></li>
<li><b>Muda</b> sebelum <b>tua</b></li>
<li><b>Hidup</b> sebelum <b>mati</b></li>
</ul>
<p>Itulah <b>momentum yang kita miliki dalam kehidupan.</b> Jika sekarang kita sehat, manfaatkanlah kesehatan tersebut untuk berbuat hal terbaik sebelum kita sakit dan tidak dapat melakukannya lagi.</p>
<p>Jika kita sekarang memiliki kekayaan, manfaatkanlah dengan baik. Bantulah orang yang membutuhkan karena akan ada masanya kita tidak lagi dititipi kekayaan tersebut.</p>
<p>Jika kita punya waktu luang, banyak kesempatan, manfaatkanlah sebaik-baiknya karena mungkin sebentar lagi akan tiba saat kesempitan di mana kita disibukkan dengan berbagai urusan.</p>
<p>Jika kita masih muda, masih kuat, pikiran masih jernih, pergunakanlah dengan tepat agar tidak menyesal ketika sudah tua nanti. Jangan berpikir untuk berbuat sesuatu yang baik setelah tua nanti, karena siapa yang tau apakah kita sempat menjalani masa tua? Kalaupun ya, apakah kita masih punya kesempatan berbuat apa yang dulu kita tinggalkan?</p>
<p>Dan selama kita masih bernafas, masih diberi kesempatan hidup, manfaatkanlah sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat, amal-amal yang soleh karena akan tiba masanya cepat atau lambat kita akan mati. Umur tidak akan dipercepat atau diperlambat.</p>
<p>Jadi tunggu apa lagi, manfaatkanlah setiap kesempatan yang masih kita miliki saat ini sebelum momentum-nya hilang dan berganti dengan kesempitan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/10/memanfaatkan-momentum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali Kepada Fitrah</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/09/kembali-kepada-fitrah/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/09/kembali-kepada-fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 16:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama yang lurus]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/09/kembali-kepada-fitrah/</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang yang kembali kepada fitrahnya sejatinya adalah orang yang menemukan tugas hidupnya, untuk apa dia diciptakan. Itulah ketetapan Allah yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, dan itulah agama yang lurus. Orang yang mengikuti fitrahnya akan berjalan dengan kehendak Allah dan melakukan apa-apa yang memang diharapkan dari dirinya, bukan melakukan hal yang lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Photo Credit: Docbudie" href="http://www.flickr.com/photos/docbudie/2902475680/sizes/m/" target="_blank"><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto; border-width: 0px;" title="Photo Credit: Docbudie under Creative Common License" src="http://farm4.static.flickr.com/3017/2902475680_2d49d563ef.jpg" border="0" alt="Photo Credit: Docbudie under Creative Common License" /></a></p>
<p>Photo Credit: <a href="http://www.flickr.com/photos/docbudie/2902475680/sizes/m/" target="_blank">Docbudie</a> under Creative Common License</p>
<p>Kita telah memasuki hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Tidak terasa, sebentar lagi Idul Fitri akan segera tiba. Semua orang bergembira menyambut datangnya Hari Raya dan kebahagiaan bersilaturahmi bersama sanak keluarga.</p>
<p>Ada doa yang sering kita ucapkan menjelang Idul Fitri ini yakni ”Semoga kita kembali kepada fitrah.” Apakah sebenarnya fitrah itu? Apakah kembali fitrah adalah seperti bayi yang dilahirkan kembali dan suci dari dosa?</p>
<p>Dalam Surat Ar-Ruum (30) ayat 30 Allah berfirman:</p>
<blockquote><p>”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) <strong><em>fitrah</em></strong> Allah yang telah menciptakan manusia menurut <strong><em>fitrah</em></strong> itu. Tidak ada perubahan pada <strong><em>fitrah</em></strong> Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”</p></blockquote>
<p>Jika kita perhatikan ada beberapa kata-kata fitrah di sana. Pertama menyebutkan adanya fitrah Allah di mana manusia diciptakan menurut fitrah itu. Dalam bahasa yang sederhana, secara kodratnya manusia rindu kepada Tuhan, dan rindu untuk menemukan agama yang lurus. Agar bisa menemukan fitrah tadi, maka manusia perlu berjuang yang kemudian atas izin Allah akan dikenalkan kepada fitrah diri manusia tersebut.</p>
<p><span id="more-773"></span></p>
<p>Seseorang yang kembali kepada fitrahnya sejatinya adalah orang yang menemukan tugas hidupnya, untuk apa dia diciptakan. Itulah ketetapan Allah yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, dan itulah agama yang lurus. Orang yang mengikuti fitrahnya akan berjalan dengan kehendak Allah dan melakukan apa-apa yang memang diharapkan dari dirinya, bukan melakukan hal yang lain.</p>
<p>Dalam ayat yang lain Surat Al-A’raf (7) ayat 172 Allah berfirman:</p>
<blockquote><p>”Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): <strong>”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”</strong> Mereka menjawab: <strong>”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” </strong>(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)&#8221;</p></blockquote>
<p>Ayat di atas mengindikasikan ada suatu masa di mana jiwa-jiwa manusia telah bersaksi di hadapan Allah. Bersaksi bahwa mereka mengakui keesaan Allah dan mengakui tugas yang akan diembannya. Namun setelah sampai di dunia, kebanyakan manusia lupa dengan perjanjian tersebut. Untuk itulah kita perlu senantiasa memperbaiki diri agar secara perlahan Allah mengenalkan kembali apa yang pernah diperjanjikan. Sungguh beruntung orang yang bisa mengenali kembali tugas dirinya dan beramal sesuai bidangnya.</p>
<p>Dan menjelang Idul Fitri tahun ini, marilah sama-sama kita merenungi kembali sudah sejauh mana kerinduan kepada Tuhan. Sudah sampai dimana kecintaan kita untuk berbakti dan melakukan apa-apa yang disukai oleh Allah. Sampai di mana kita berjuang untuk mulai mengidentifikasi diri dan mengenal apa-apa yang dimudahkan untuk kita.</p>
<p>Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak di akhir Ramadhan ini. Semoga kita bisa termasuk orang-orang yang akan kembali kepada fitrahnya, menuju agama yang lurus, jalan para Nabi dan orang-orang yang dicintai Allah.</p>
<p>Selamat <strong>Idul Fitri 1430 H</strong>, saya mohon maaf kepada seluruh pembaca atas segala kesalahan dalam ucapan, tulisan dan perbuatan.</p>
<p>Semoga Allah menerima amal baik kita dan mengampuni amal buruk kita.</p>
<p>Dan Allah lebih mengetahui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/09/kembali-kepada-fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meminta dan Memberi Maaf</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/09/meminta-dan-memberi-maaf/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/09/meminta-dan-memberi-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 00:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Maaf]]></category>
		<category><![CDATA[Memaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[Memberi Maaf]]></category>
		<category><![CDATA[Meminta Maaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/09/meminta-dan-memberi-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan sebuah penelitian, salah satu hal yang paling sulit dilakukan orang adalah meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain. Walaupun seseorang menyadari kesalahannya, meminta maaf kepada orang yang telah disakiti bukanlah perkara mudah. Ada rasa gengsi ataupun ego yang menghalangi seseorang untuk bisa berkata, “Aku telah bersalah. Aku meminta maaf atas tindakan yang telah kulakukan dan berharap kamu dapat memaafkan aku.”

Sama halnya meskipun seseorang sudah bisa menahan rasa sakit akibat kesalahan yang dibuat orang lain, memaafkan orang tersebut juga bukan perkara mudah. Rasa yang tergores seolah tak bisa lepas dari ingatan dan terus membekas. Dalam sebuah judul lagu disebutkan, “Forgiven not Forgotten”. Aku memaafkan tapi aku tidak bisa melupakan kesalahanmu. Apakah ini yang dinamakan memberi maaf?

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berdasarkan sebuah penelitian, salah satu hal yang paling sulit dilakukan orang adalah meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain. Walaupun seseorang menyadari kesalahannya, meminta maaf kepada orang yang telah disakiti bukanlah perkara mudah. Ada rasa gengsi ataupun ego yang menghalangi seseorang untuk bisa berkata, <em>“Aku telah bersalah. Aku meminta maaf atas tindakan yang telah kulakukan dan berharap kamu dapat memaafkan aku.”</em></p>
<p>Sama halnya meskipun seseorang sudah bisa menahan rasa sakit akibat kesalahan yang dibuat orang lain, memaafkan orang tersebut juga bukan perkara mudah. Rasa yang tergores seolah tak bisa lepas dari ingatan dan terus membekas. Dalam sebuah judul lagu disebutkan, <strong>“Forgiven not Forgotten”.</strong> Aku memaafkan tapi aku tidak bisa melupakan kesalahanmu. Apakah ini yang dinamakan memberi maaf?</p>
<p>Urusan meminta dan memberi maaf yang sulit ini tidak hanya terjadi antara seseorang dengan lingkungan sosialnya. Bahkan tak jarang seseorang sulit meminta dan memberi maaf kepada orang-orang terdekat yang hidup serumah sekalipun. Seorang anak sulit memaafkan orangtuanya, seorang suami enggan meminta maaf kepada istrinya, seorang adik tidak bisa melupakan kesalahan kakaknya.</p>
<h3><strong>Jadilah Engkau Pemaaf</strong></h3>
<p>Agama mengajarkan kita agar dengan lapang dada memberi maaf kepada orang yang telah berbuat salah. Bagaimanapun juga manusia sering lupa dan khilaf. Memberi maaf kepada orang atas ketidaksengajaannya adalah keutamaan buat orang yang sempat tersakiti. Dan memberi maaf atas tindakan buruk orang lain juga sebuah keutamaan jika itu bisa dilakukan.</p>
<p><span id="more-760"></span></p>
<p>Adalah Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersifat pemaaf. Ketika beliau melewati jalan dan sering diganggu oleh orang yang tidak suka dengannya, beliau selalu memaafkan. Sampai akhirnya ketika orang yang suka mengganggu itu sakit maka Rasulullah adalah orang pertama yang datang menjenguknya. Jika kita bicara sejarah lain dikisahkan bagaimana Nabi Muhammad mendapat perlakuan yang buruk dari masyarakat Thaif, sampai-sampai malaikat datang dan menanyakan apakah perlu masyarakat yang berlaku buruk tersebut dihukum, Nabi meminta untuk memaafkan mereka karena mungkin mereka belum tahu.</p>
<p>Memberi maaf bukanlah menunjukkan seseorang itu lemah atau tidak mampu membalas. Suka memaafkan justru menunjukkan sifat keutamaan dan kemuliaan seseorang karena ia belajar dari sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun seberapa besar pun kesalahan yang pernah dilakukan hamba-Nya. Sikap pemaaf menunjukkan seseorang memilih jalan yang dekat dengan keridhoan Allah ketika sebenarnya dia bisa menuntut balas atas kesalahan orang lain.</p>
<h3><strong>Meminta Maaf Dengan Segera</strong></h3>
<p>Jika kita telah belajar memaafkan orang lain, maka kita pun harus belajar untuk meminta maaf atas kesalahan dan kekeliruan kita. Banyak orang lebih rela melakukan apa saja yang lebih sulit daripada harus meminta maaf. Inilah bentuk-bentuk kesombongan di mana seseorang merasa dirinya sedemikian besar sehingga malu dan tidak bersedia meminta maaf.</p>
<p>Dalam interaksi suami istri tak jarang hal tersebut juga sering terjadi. Dalam rumah tangga tentu terkadang ada perselisihan, perbedaan pendapat, atau hal-hal yang tidak disukai dilakukan oleh seseorang kepada pasangannya. Yang paling berbahaya adalah jika salah satu diantara mereka tidak ada yang berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Memilih jalan <em>ishlah </em>daripada mempertahankan ego dan perselisihan. Situasi seperti ini sangat berbahaya karena setan akan menghembuskan benih-benih pertentangan yang lebih besar lagi ketika pasangan suami istri masing-masing enggan meminta maaf kepada pasangannya.</p>
<p>Agama mengajarkan kita untuk segera meminta maaf ketika menyadari kesalahan. Kita beristighfar mohon ampun kepada Allah segera setelah menyadari adanya perbuatan dosa, kekeliruan, niat yang buruk yang sempat muncul dan kita lakukan. Kita juga bersegera mendatangi orang yang terlanjur tersakiti akibat perbuatan kita dan meminta maaf darinya. Dengan meminta maaf, kita sebenarnya sedang menyelamatkan diri kita dan berusaha menghapus kesalahan yang telah terjadi.</p>
<h3>Bagaimana Agar Mudah Meminta Maaf dan Memaafkan?</h3>
<p>Banyak orang berkata, <em>“Ya, meminta maaf atau memafkan orang lain mudah diucapkan, tapi khan tidak mudah dilakukan.”</em></p>
<p>Benar, memang hal tersebut tidak mudah dan butuh perjuangan sampai Allah membantu kita mudah melakukannya dalam keseharian. Tips sederhananya adalah biasakan segera meminta maaf atas apapun yang kita rasa tidak tepat. Misalkan kita terlambat 5 menit untuk menghadiri suatu janji dengan teman, mintalah maaf atas keterlambatan tersebut meskipun teman kita bisa saja menganggap tidak ada masalah. Ketika kita berbicara sesuatu yang bisa menyinggung orang lain, segeralah minta maaf jika kita menyadarinya, meskipun orang yang kita khawatirkan tersinggung bisa jadi tidak merasa apa-apa. Dengan cara ini kita berusaha mengikis ego pribadi, meruntuhkan rasa ingin dihormati, dan berhati-hati dalam bertindak.</p>
<p>Hal serupa dapat dilakukan untuk memaafkan orang lain. Bersegeralah memafkan orang lain meskipun kita dalam posisi mampu membalas perbuatannya. Ingatlah bahwa seseorang yang bersalah tidak selalu karena kesengajaan. Mungkin orang tersebut sedang khilaf, tidak menyadari bahwa ucapannya menyinggung, atau tidak tau bahwa perbuatannya berakibat buruk. Kalau pun orang tersebut melakukan kesalahan dengan sengaja, bisa jadi saat itu dia dikuasai oleh sifat buruknya dan kita mendoakan semoga dia dapat berubah. Tak jarang memaafkan lebih sulit karena hati telah tergores, perbuatan salah yang dilakukan orang telah membekas di diri kita. Untuk itu ingatlah bahwa Allah Maha Pemaaf kepada kita. Berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan kepada-Nya? Dan seberapa sering Allah telah memafkan kita atas kesalahan tersebut? Bukankah kita ingin menjadi hamba-Nya yang juga bisa memaafkan kesalahan makhluk-Nya?</p>
<p>Semoga Allah membimbing saya dan Anda agar senantiasa bersegera meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain.</p>
<blockquote><p>Jadilah engkau pema&#8217;af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma&#8217;ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. <strong>QS. Al-A’raf 7:199</strong></p>
<p>Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. <strong>QS. Al-Fushilat 41:35</strong></p>
<p>Yang paling patut mengampuni ialah orang yang paling memiliki kemampuan untuk menghukum. <strong>Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah</strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/09/meminta-dan-memberi-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa Lahir Batin</title>
		<link>http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/</link>
		<comments>http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Noer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Batin]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Lahir]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pemahaman umum, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai waktu tenggelamnya. Termasuk di dalamnya menahan diri dari berhubungan seksual dengan pasangan. Ini adalah puasa lahir.

Sementara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Sirr Al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia) menjelaskan ada puasa jenis yang lain yakni puasa batin. Puasa batin dilakukan dengan cara menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Dengan kata lain, puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin. Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijalani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display: block; float: none; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://farm1.static.flickr.com/82/277221852_476e8916f0.jpg" alt="" width="400" height="300" /></p>
<p>Photo Credit <a href="http://www.flickr.com/photos/hamed/277221852/" target="_blank">Hamed Saber</a> under <a href="http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/" target="_blank">Creative Commons License</a></p>
<p>Alhamdulillah, akhirnya Ramadhan telah tiba. Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberi kita kesempatan untuk menjalani Ramadhan tahun ini.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, <strong><em>“Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”</em></strong></p>
<p>Hadis di atas mengindikasikan bahwa puasa seharusnya tidak sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga. Jika hanya demikian, maka akan merugilah orang yang berpuasa tersebut karena ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa harus menjadi alat mentransformasi diri seseorang sehingga menambah kedekatan kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>Dalam pemahaman umum, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai waktu tenggelamnya. Termasuk di dalamnya menahan diri dari berhubungan seksual dengan pasangan. Ini adalah puasa lahir.</p>
<p>Sementara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam <strong><em>Sirr Al-Asrar</em></strong> (Rahasia dari Segala Rahasia) menjelaskan ada puasa jenis yang lain yakni puasa batin. Puasa batin dilakukan dengan cara menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Dengan kata lain, <strong>puasa batin adalah meninggalkan ketidakselarasan, baik lahir maupun batin.</strong> Sedikit saja niat buruk hinggap di hatimu, puasamu rusak. Jika puasa lahir dibatasi oleh waktu, puasa batin dijalani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat. Itulah puasa sejati.</p>
<p><span id="more-755"></span></p>
<p>Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan, puasa yang paling baik adalah puasa hakikat, yaitu mencegah hati dari menyembah selain Allah. Caranya adalah dengan membutakan mata hati dari segala yang ada, bahkan di alam hakikat di luar dunia ini sehingga yang tersisa hanyalah cinta kepada Allah.</p>
<p>Tak ada yang pantas diharapkan, tak ada tujuan lain, dan tak ada kekasih di dunia ini dan di akhirat, kecuali Allah. Puasa ruhani batal jika cinta kepada selain Allah, meski sebesar atom, memasuki hati. Jika itu terjadi, kita harus memulainya lagi, membangkitkan tekad dan niat untuk kembali kepada cinta-Nya di dunia ini dan di akhirat. Sebab, Allah berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”</p>
<p>Semoga Allah membantu kita tak hanya berpuasa lahir, melainkan juga puasa batin. Semoga ibadah puasa tahun ini akan mengantarkan kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 2:183 semoga puasa akan mengantarkan kita kepada ketaqwaan.</p>
<p>Amin ya Rabbal ‘Alamin.</p>
<p>Tulisan ini merujuk karya <strong>Syaikh Abdul Qadir Jailani</strong> bagian “Puasa Lahir Batin” dalam <strong><em>Sirr Al Asrar</em></strong> yang diterbitkan Serambi, 2008</p>
<p>Rujukan lainnya adalah <strong><em>Meraih Kemuliaan Ramadhan</em></strong>, kumpulan tulisan dengan editor Laleh Bakhtiar dan pengantar oleh Seyyed Hossein Nasr yang diterbitkan Mizan, 1997</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhammadnoer.com/2009/08/puasa-lahir-batin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

