Berapa Banyak Buku Yang Anda Baca Dalam Setahun?

my kids and books Ketika sedang mempersiapkan materi untuk Modul 1 Program Coaching Speed Reading, iseng-iseng saya melakukan riset kecil-kecilan. Secara tidak sengaja saya menemukan polling di tahun 2007 yang dilakukan Associated Press, sebuah kantor berita ternama tentang berapa banyak buku yang dibaca orang dewasa dalam setahun. Faktanya, satu dari empat orang dewasa bahkan tidak menyelesaikan satu buku pun selama setahun terakhir. Polling tersebut dilakukan di negara maju dengan tingkat budaya baca lebih tinggi. Kira-kira bagaimana hasilnya jika polling yang sama dilakukan di Indonesia?

Buku adalah jendela ilmu, demikian kata pepatah. Membaca adalah proses membuka jendela tersebut agar cahaya pengetahuan masuk ke rumah kita. Semakin banyak belajar dan membaca, tentunya akan semakin banyak ilmu baru yang didapatkan. Tentu akan ada banyak perbedaan antara orang yang membaca 10 buku dalam setahun dibandingkan dengan yang tidak membaca sama sekali.

Saya sendiri mulai membaca “agak serius” ketika SMU. Terus terang satu hal yang memacu semangat saya ketika melihat salah seorang sahabat dekat saya dan keluarganya yang sangat hobi membaca. Saya melihat buku-buku yang berderet rapi, artikel majalah yang dikliping sesuai temanya, sampai berita koran yang disusun sesuai topik. Saya berpikir, betapa sungguh-sungguhnya orang yang melakukan hal itu. Dan betapa luas wawasannya dengan kebiasaan membaca yang sedemikan tinggi. Ya, sahabat saya tersebut Edison Situmorang dan keluarganya menjadi awal yang memupuk semangat saya untuk rajin membaca.

Duduk di kelas II SMU, saya mulai mempersiapkan diri mengikuti UMPTN. Sekolah saya terkenal dengan murid-muridnya yang lebih hobi mengerjakan soal UMPTN daripada mengikuti kelas. Saat itulah saya ketemu sebuah buku saku berjudul “Rahasia Sukses Belajar”. Buku inilah yang pertama kali mengenalkan kepada saya tentang membaca cepat atau speed reading. Sayang sekali buku tersebut hilang entah ke mana dan saya pun tidak ingat pengarangnya.

Salah satu kebiasaan yang saya lakukan sehabis membaca adalah mempraktekkan apa-apa yang dipelajari. Jadi, saya pun memulai teknik membaca cepat dengan cara yang sangat sederhana. Lama kelamaan saya mulai terbiasa dan kecepatan baca meningkat. Namun kecepatan tersebut masih dalam kisaran yang biasa-biasa saja. Hal ini karena informasi tentang speed reading yang saya pelajari sangat sedikit dan topik itu masih kurang dikenal orang 12 tahun yang lalu.

Dampak dari kemampuan membaca cepat betul-betul saya rasakan ketika kelas III SMU dan ketika saya tidak lulus UMPTN pertama kali. Waktu itu saya bercita-cita ingin jadi seorang programmer seperti Bill Gates yang membangun bisnis komputer. Dan untuk itu saya memilih Teknik Informatika di ITB. Gagal UMPTN tidak membuat saya patah semangat melainkan sebuah titik balik yang berharga dalam hidup saya. Di situlah saya menghabiskan waktu selama kurang lebih setahun berkunjung ke perpustakaan hampir setiap hari.

Saya mendatangi perpustakan daerah di kota kelahiran Medan dan membaca buku di sana. Setiap kali pulang saya selalu membawa dua buku yang saya targetkan selesai dalam seminggu. Saya ingat betul masa-masa itu adalah masa paling produktif membaca. Setiap minggu setidaknya saya menghabiskan 2 buku yang jika dihitung dalam setahun bisa berjumlah lebih dari 100 buku. Di sana saya belajar berbagai bidang mulai dari agama, psikologi, komunikasi, manajemen, pemasaran termasuk komputer dan pemrograman.

Pada periode tersebut saya merasakan betul manfaat kemampuan membaca cepat di mana saya bisa menyelesaikan sebuah buku dalam tempo yang jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Kegiatan membaca menjadi proses yang ringan sekaligus menyenangkan. Karenanya, saya sangat bisa memahami orang-orang yang tidak pernah menyelesaikan sebuah buku salah satunya karena kecepatan baca yang lambat. Membaca lambat membuat buku terlihat menakutkan karena tidak tau kapan bisa dibaca sampai selesai.

Kemampuan membaca cepat terus saya pakai ketika kuliah di Fakultas Ekonomi UI dan terus berkembang sampai saya bekerja sekarang. Saya pun punya akses yang lebih luas ke buku-buku Speed Reading mulai dari yang klasik seperti metode Evelyn Wood sampai yang lebih modern dengan pendekatan Neuro Linguistic Programming (NLP) maupun simulasi flash card lewat komputer. Buku Speed Reading for Beginners yang saya tulis merupakan akumulasi proses pembelajaran tentang membaca cepat berdasarkan metoda yang saya uji secara pribadi.

Di tahun 2010 ini, saya ingin merancang sebuah pelatihan membaca cepat yang lengkap lewat tutorial video ditambah materi latihan secara terstruktur. Saya sudah mempersiapkan 10 video pendahuluan di http://www.membacacepat.com. Video ini merupakan pemanasan sebelum saya membuat materi berikutnya yang lebih mendalam. Jika Anda tertarik untuk mengikuti pelatihan ini, silakan mendaftar di early notification list agar saya dapat mengirim informasi kapan pelatihan akan dimulai.

Kembali ke pertanyaan awal pada tulisan ini, berapa banyak buku yang sudah Anda baca dalam setahun terakhir?

Sudahkah Anda membiasakan diri membaca untuk meng-upgrade pengetahuan?

Panduan membaca cepat dan efektif. GRATIS.

 

Bagaimana membaca 2 kali lebih cepat.

 

Telah didownload lebih dari 30.000 orang.

 

Download Sekarang.

 

Comments

  1. Saya rasa memang banyak sekali dari kita yang mendapatkan manfaat dari kemampuan membaca cepat (speed reading). Apalagi bagi sebagian besar orang yang masih berstatus pelajar/mahasiswa, dimana kemampuan untuk membeli buku masih sangat terbatas. Mau tidak mau ya mempraktekan speed reading di toko-toko buku favorite.

    • Yup, benar sekali. Kemampuan speed reading sangat berguna ketika kita menggelandang di toko-toko buku favorit. Syukur-syukur toko bukunya menyediakan kursi-kursi untuk pengunjung. Karena kebanyakan toko buku memaksa kita membaca sambil berdiri. Duduk di lantai ditegur Pak Satpam… hehe…

  2. I’m gone to inform my little brother, that he should also go to see this weblog
    on regular basis to get updated from most recent reports.

Speak Your Mind

*