Menjalani Tantangan Baru di Singapura

Sejak 1 November 2011 lalu, saya dan keluarga resmi pindah ke Singapura. Ini adalah penugasan saya yang kedua di negeri Singa. Tahun lalu, tepatnya Juli 2010 saya sempat bertugas sementara untuk proyek selama 3 bulan. Kali ini, saya pindah untuk jangka waktu lebih lama, setidaknya sampai 2-3 tahun ke depan.

 

Ada yang berbeda dari penugasan kali ini.

Pertama, saya mendapat tugas baru sebagai Human Resource Business Partner untuk Customer Development dan Marketing Operation Global/Regional. Selama 7,5 tahun karir saya di Unilever, hampir 6,5 tahun lebih dihabiskan bersama divisi Supply Chain. Perpindahan ke divisi baru akan memberi saya perspektif yang berbeda dari sebelumnya. Jika Supply Chain sangat dekat dengan proses manufacturing dan engineering, maka Customer Development dan Marketing Operation akan membantu saya berinteraksi lebih dekat mengenal konsumen dan pasar. Sebenarnya Marketing bukan dunia yang asing dengan saya, sebab saya sendiri lulusan Marketing. Jadi peran baru ini akan melatih saya mengkombinasi pengetahuan Human Resource dengan Marketing.

[Read more…]

Apa Yang Saya Pelajari Dari Singapura

Tinggal beberapa bulan di Negeri Singa mau tidak mau membuat saya belajar tentang negara kota ini. Sir Thomas Stamford Raffles dikenal sebagai pendiri kota Singapura modern dengan menjadikannya sebagai pusat perdagangan Inggris sampai akhirnya negeri ini maju dan berkembang. Berawal dari kota pelabuhan, dengan cepat Singapura membangun infrastrukturnya sehingga menjadi salah satu kota terbaik di Asia mengalahkan Shanghai, Hong Kong, Tokyo dan lainnya.

Data statistik yang saya pelajari lewat situs resmi pemerintah menunjukkan jumlah penduduk Singapura sekitar 5 juta orang di mana 43% adalah warga asing. Angka ini tertinggi keenam sedunia untuk persentase warga asing di suatu wilayah. Singapura sangat tergantung pada orang asing untuk membangun perekonomiannya. Hal ini diperparah dengan tingkat pertumbuhan penduduk setempat yang negatif. Dari 1000 penduduk, hanya ada 43 orang yang menikah. Tingkat fertilitas terbaru semakin menurun menjadi 1,22 kelahiran per 1000 wanita (statistik 2009).

Ini berarti, jika hanya mengandalkan warga lokal maka jumlah penduduk akan terus menurun dari tahun ke tahun. Saya sempat mengobrol dengan mahasiwa yang sedang mengambil PhD di Nanyang University tentang hal itu. Menurut dia sebagai warga lokal, ini terjadi karena biaya hidup yang semakin tinggi. Biaya kesehatan, perumahan dan lainnya sangat besar. Ketika menikah orang harus mencari tempat tinggal yang sangat mahal. Itu mengapa semakin banyak yang hidup melajang atau menunda pernikahan. Oleh karena itu pemerintah setempat menggalakkan orang asing untuk tinggal di negerinya untuk mengimbangi penurunan jumlah penduduk lokal. Sebutan resminya menjadi Permanent Resident yang memiliki hak seperti kurang lebih sama seperti warga lokal meskipun tetap berkewarganegaraan asing. Di satu sisi hal ini membantu Singapura untuk terus tumbuh tapi di sisi lain membuat sebagian warga lokal khawatir mereka akan didominasi para imigran.

Negeri ini juga menjadi hub atau pusat untuk kawasan Asia Pasifik bagi banyak perusahaan multinasional. Para ahli berbagai negara dikumpulkan di satu tempat untuk menyusun strategi dan rencana secara terpusat untuk diterapkan di negara-negara lain di mana perusahaan tersebut beroperasi. Didukung oleh infrastruktur yang baik dan lokasi yang strategis, tempat ini memang pas sebagai titik penghubung antar negara. Orang asing dari berbagai negara dapat dengan mudah beradaptasi didukung akses transportasi yang cepat dan mudah, teknologi informasi yang maju dan bahasa Inggris yang dipakai secara luas sebagai lingua franca. Jalur penerbangan yang padat ke berbagai kota di Asia dan Eropa membuatnya mudah untuk didatangi sekaligus kembali ke negara asal. Pesaing dekat Singapura adalah Dubai di Uni Emirat Arab yang juga menjadi pusat kawasan Asia terutama bagi industri perminyakan.

[Read more…]

Singapura, Orchard Road, dan Banjir Besar

Setelah beberapa kali menulis tentang topik Speed Reading, kali ini saya ingin bercerita topik yang lebih ringan yakni kepindahan saya ke Singapura.

Mungkin tidak banyak yang tahu, tak lama setelah launching kursus membaca cepat Senin, 21 Juni 2010 yang lalu, tepat dua hari setelahnya 23 Juni 2010 saya resmi pindah ke kantor baru di Unilever Asia Private Limited di Singapura. Perpindahan ini cukup mendadak karena saya diperlukan untuk melakukan studi organisasi di beberapa negara. Ini akan menjadi tugas yang berat sekaligus menantang buat saya. Semoga saya diberi kekuatan dan kemudahan untuk menjalankannya dengan baik.

 

Proses Kepindahan

Alhamdulillah proses kepindahan berjalan lancar, meskipun waktu terbatas untuk mempersiapkan diri. Hampir saja saya tidak mendapatkan tiket dan masih status cadangan sampai sehari sebelum keberangkatan. Namun akhirnya saya berhasil berangkat tepat waktu.

Kedatangan saya yang kelima kali di negeri pulau ini sedikit berbeda. Jika sebelumnya saya hanya berkunjung untuk 1-3 hari, maka kali ini saya akan menetap untuk beberapa bulan lamanya sampai proyek selesai.

 

Tempat Tinggal dan Orchard Road

Saat ini saya masih bertempat tinggal di hotel, persis di jantung keramaian Singapura, Orchard Road yang ramai sejak pagi sampai tengah malam. Dari jendela kamar saya bisa melihat keramaian di daerah ini sepanjang hari. Jalanan ini sempat banjir cukup hebat beberapa waktu lalu namun bisa diatasi dalam tempo 1-2 jam saja.

IMG_0521

Seharusnya saya menempati apartemen, namun sayang semuanya full booked. Saya masih menunggu sampai pertengahan Juli nanti. Apa mungkin karena dipakai orang Indonesia yang lagi liburan? Sebab hampir di setiap tempat yang saya kunjungi saat ini cukup banyak orang Indonesia lagi liburan dan sibuk berbelanja.

[Read more…]

Klik di Sini Untuk Menghubungi Kami
close-link