Menemukan Waktu Produktif

time-spiral

Kapankah Anda merasa paling produktif?

Pernahkan Anda mencermati waktu-waktu di mana Anda dapat bekerja dengan sangat baik, konsentrasi tinggi, dan motivasi yang kuat?

Tulisan berikut akan membahas bagaimana menemukan waktu produktif dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Apa yang saya tuliskan juga merupakan bagian dari pengalaman pribadi.

Pepatah Inggris mengatakan, Time is Money, waktu adalah uang. Kehilangan waktu sama dengan kehilangan uang. Pepatah Arab mengatakan Al-waqti ka as-syaif, waktu laksana pedang. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik dapat menebas orang yang menyia-nyiakannya.

Setiap kita diberikan waktu yang sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun. Tapi ada orang-orang yang bisa memanfaatkan waktunya dengan sangat baik sehingga meskipun memiliki waktu yang sama, kesibukan yang sama bisa menghasilkan produktivitas lebih tinggi. Bagaimana caranya?

Dari pengalaman saya pribadi, kita harus pintar-pintar mengelola waktu. Waktu sedemikian cepat bergerak dan jika kita tidak awas akan segera ditinggalkannya dalam penyesalan.

Berikut adalah tips sederhana yang ingin saya bagi untuk menemukan waktu produktif:

1. Kenali jam biologis tubuh

Secara umum orang aktif di pagi dan siang hari serta istirahat di malam hari. Walaupun demikian, diantara waktu-waktu tersebut terdapat rentang yang panjang di mana ada masa-masa kita semangat melakukan sesuatu dan ada masa tubuh mulai merasa jenuh dan lelah.

Anda harus belajar mencermati pola jam tubuh Anda. Apakah Anda selalu segar di subuh hari, siang hari, atau malah di tengah malam. Saya pribadi merasa waktu-waktu terbaik untuk pekerjaan kreatif adalah di awal hari menjelang dan sesudah subuh serta di tengah malam ketika semua orang sudah tidur. Kebanyakan posting blog ini saya tulis pada waktu-waktu tersebut.

Dengan menemukan waktu yang tepat dan paling sesuai dengan jam aktif tubuh, pekerjaan bisa dikerjakan dengan lebih cepat dan hasil yang lebih baik. Alhasil, Anda pun semakin produktif.

2. Tentukan prioritas

Steven Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People mengajarkan prinsip Put First Things First. Dahulukan yang utama dan penting diantara seluruh urusan kita. Semua orang punya urusan baik besar ataupun kecil, mendesak ataupun tidak. Tugas kita adalah mengumpulkan seluruh urusan tersebut dan menentukan apa yang penting dan paling urgent buat kita.

Urusan penting ibarat pokok-pokok pekerjaan utama yang jika dikerjakan dengan baik akan menyelesaikan urusan-urusan kita. Jika Anda mengenal prinsip pareto 20/80, maka hal-hal yang penting mungkin hanya menghabiskan waktu 20% tapi menghasilkan kinerja 80%. Sementara sebaliknya hal tidak penting menghabiskan 80% waktu Anda dan hanya memberi hasil 20% saja. Karena itu belajarlah memetakan urusan Anda berdasarkan tingkat kepentingan dan dampaknya serta seberapa mendesak suatu urusan. Diagram sederhana berikut mungkin bisa membantu.

3. Fokus Satu Pekerjaan Dalam Satu Waktu

Tahukah Anda sinar laser? Sinar yang sangat kuat ini mampu memotong benda sekeras apapun karena energinya difokuskan pada satu titik. Demikian halnya ketika kita fokus pada satu urusan, maka seluruh fikiran, perasaan, dan hati akan mengerjakannya secara sinergi dan berirama. Hasilnya adalah pekerjaan selesai lebih cepat, lebih baik dan sesuai dengan harapan Anda. Sebaliknya ketika kita tidak fokus, kita mengerjakan banyak hal sekaligus tapi tak satupun yang memberikan hasil nyata. Semuanya serba nanggung dan tidak bisa dimanfaatkan.

Lantas mungkin Anda berpikir bahwa orang yang bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus atau multitasking akan lebih baik daripada orang yang hanya bisa mengerjakan satu tugas saja. Mari kita analisa, katakan untuk mengerjakan satu hal diperlukan waktu 1 jam dan ada 3 pekerjaan yang harus dilakukan. Orang yang mengerjakan satu per satu akan butuh 3 jam dan orang yang mengerjakan bersama-sama secara teoritis butuh waktu yang sama.

Namun problem dari multitasking adalah berpindah-pindahnya konsentrasi dan perhatian dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Waktu transisi ini bisa menjadi hambatan terbesar sehingga pada akhirnya total pekerjaan selesai lebih lama.

Ini mungkin sedikit berbeda dengan multitasking yang dikerjakan oleh seorang Ibu rumah tangga, sambil memasak nasi, menyapu rumah, menidurkan anak dan mencuci piring. Apa yang dibahas adalah fokus pada urusan penting Anda dan urusan tersebut akan jauh lebih cepat selesai dengan hasil lebih baik.

4. Kerjakan Dengan Hati Riang

Ketika Anda memutuskan untuk mengerjakan sesuatu, kerjakanlah dengan hati riang. Suatu pekerjaan atau urusan akan mudah diselesaikan jika hati bernyanyi ketika melakukannya.

Mungkin Anda bertanya, ya jika pekerjaan yang dilakukan memang kegemaran kita, tapi jika tidak bagaimana?

Jawabnya adalah Anda telah memutuskan untuk mengerjakannya. Apakah Anda menjalankannya dengan hati riang atau hati tertekan kembali kepada Anda. Daripada mengerjakannya dengan tekanan, tentu lebih baik melakukan dengan penuh kenyamanan. Karena itu jika Anda memutuskan untuk mengerjakan sesuatu, lakukan dengan hati lapang. Jika tidak, lebih baik tidak usah dikerjakan.

Itulah empat tips untuk menjadikan Anda manusia produktif. Manfaatkanlah waktu yang terbatas dengan baik sehingga Anda bisa mengerjakan kewajiban-kewajiban Anda. Dengan produktif, Anda akan dapat membagi waktu untuk keluarga, belajar, menikmati hobby, dan mengerjakan hal-hal bermanfaat lainnya.

Tahukah Anda kapan saya membuat tulisan ini? Saya menulisnya di dalam taksi yang mengantar saya dari bandara menuju hotel tempat diadakannya sebuah workshop sebagai salah satu cara memanfaatkan waktu produktif.

Selamat menemukan waktu produktif Anda!

Photo Credit by gadl under Creative Commons License

Panduan membaca cepat dan efektif. GRATIS.

 

Bagaimana membaca 2 kali lebih cepat.

 

Telah didownload lebih dari 30.000 orang.

 

Download Sekarang.

 

Comments

  1. wah mas Noer setuju !
    detailnya saya setuju dengan yang nomor 1 dan 4. ^_^

    tiap orang punya jam biologisnya masing-masing. Bill Gates saja punya jam biologis 36 jam bekerja, lalau istirahat 10 jam. Artinya tubuh kitapun memiliki jam terbang yang memang kita sendiri yang membiasakannya.

    Ikhlas atau tidak, kalau memang ada sesuatu yang harus dilakaukan, mendingan ilhlasin aja ya mas. Toh juga harus dikerjakan. Kalo ngeluh, malah jadi makin tidak enak hidup ini rasanya ya mas.

    setuju mas ^_^

    • @ Khalid
      Untuk urusan jam biologis tubuh memang sangat penting. Ketika kita memaksakan diri mengerjakan sesuatu ketika tubuh tidak mendukung maka seringkali hasilnya kontra produktif.

      Adapun ikhlas dalam bekerja adalah hal paling sulit yang harus diperjuangkan. Sampai-sampai kita tidak merasa lagi telah mengerjakan sesuatu 🙂

Speak Your Mind

*